Senin, 20 September 2010

Pahala



Seorang balita tampak memperhatikan ibunya yang masih sibuk di dapur. Tangannya begitu cekatan mempermainkan alat-alat dapur untuk disusun rapi. Sesekali, sang ibu kembali sibuk mengaduk-aduk masakan yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.

Sang balita tak tahu persis, sejak kapan bunda tercintanya itu terbangun dari tidur. Yang ia tahu, ketika terbangun, ibunya sudah mondar-mandir di dapur. Padahal, baru tiga jam yang lalu, ia masih ingat betul bagaimana ibunya telah direpotkan dengan ompol dan buang air besar sang adik di TKP, alias tempat tidur.

“Mbok Iyem masih di kampung, ya, Ma?” ucap sang balita ke ibunya.

Sang ibu hanya menoleh dengan senyum, kemudian mengangguk pelan. “Kamu kangen, ya?” ucap sang ibu agak membungkuk.

“Aku cuma heran, Ma. Kok, kerja Mama sama Mbok Iyem beda sih?” tanya sang balita serius.

“Iya beda, sayang. Mbok Iyem kerja di sini karena ada gaji dan kewajiban mengurus rumah kita,” ucap sang ibu singkat.

“Kalau Mama, karena apa?” tanya sang balita lagi.

”Cinta!” jawab sang ibu sambil mengecup pipi balitanya.

**

Dalam tafsiran yang lebih khusus, tidak sedikit dari kita yang ’berkerja’ dalam ibadah kepada Yang Maha Pencipta, Pemberi rezeki, dan Penguasa alam raya; hanya sebatas pada kewajiban seorang hamba kepada Khaliqnya. Di situlah ada harapan mendapatkan balasan berupa gaji yang bernama pahala.

Walaupun masih tergolong wajar, tapi itu akan menggiring sang hamba pada hitung-hitungan antara kewajiban dan pahala. Seolah, kepuasan dari menunaikan kewajiban adalah berlimpahnya pahala. Persis seperti seorang pembantu yang rajin dan malasnya sangat bergantung pada gaji dari majikan.

Tidakkah sang hamba menekuri lebih dalam bahwa nilai surga yang dijanjikan tidak akan sebanding dengan seberapa pun banyaknya pahala seseorang. Yang Maha Sayang semata-mata memasukkan hambaNya ke surga karena limpahan cintaNya kepada hamba-hambaNya yang juga beramal karena cinta. Persis seperti seorang ibu yang melakoni lautan kewajiban dengan samudera cinta.

Kamis, 16 September 2010

DO THE BEST..??BECAUSE YOU CAN IT...?

Allah menganugerahkan ilmu dan potensi yang luar biasa hebatnya pada kita.Allah memberikan otak dan kecerdasan yang sangat hebat. Allah memeberikan waktu yang sama setiap manusia. namun sangat di sayangkan banyak waktu yang terbuang oleh kelalaian, dan oleh ketidakmanfaatan. Sungguh Allah memberikan potensi kita agar kita mampu mengembangkannya menjadi suatu yang besar yang menjadikan kita taqarub kepada-Nya. setiap manusia akan di uji oleh Allah dengan berbagai tekanan, cobaan, kesibukan. dan Allah akan merasa senang terhadap seorang hamba yang tangguh, kuat optimis dalam hidup, serta mampu berjuang demi mencapai cita-cita.

wahai sahabatku.....?

seberapa banyakkah potensi yang telah Allah berikan kepada kita, namun kita siasiakan...?.seberapa banyakkah nikmat Allah yang telah engkau ingkari......?. berapa banyakkah janji yang telah engkau dustai......?. berapa bayakkah kepercayaan orang lain yang telah engkau hianati....?.

wahai saudaraku....?

ingatlah nikmat Allah sangat luas terhampar di bumi ini. namun apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya,,..?. harapan bukanlah mimpi namun suatu hal yang memang perlu tuk di gapai digenggam.

wahai saudaraku....?

seberapa banyakkah engkau mengeluh tentang masalah yang engkau hadapi....?. sementara masalah itu tidak pernah terputus....?seberapa banyakkah engkau lari dari masalah...sementara masalah itu akan terus mengejar,..?

wahai saudaraku...?

seberapa jauh engkau dari Allah.....? Seberapa banyakkah engkau berbuat zholim pada diri sendiri, pada lingkungan dan pada Allah....? apa yang kamu lakukan di tempat itu...? apa yang telah kamu lakukan kepada kedua Orang tuamu....? sudahkah engkau meminta do'anya kepada mereka...? sudahkan engkau memeluk mereka dan berkata:"terima kasih banyak, ayah, bunda , dan do'akan anakmu ini menjadi orang yang sukses di dunia dan diakhirat..."

wahai saudaraku....?

Allah sedang menguji keimanan kita dengan berbagai aktivitas di dunia..? seberapa tangguhkah kita menghadapi ujian itu...? apakah kita akan kalah dan lemah serta putus asa ataukah kita akan mampu bersinar di suatu hari, dengan predikat seorang muslim....Allah berfirman :"janganlah engkau bersedih hati, putus asa (kecewa, lemah, sakit hati,) karena sesungguhnya engkau adalah orang-orang yang tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman."

hubungan antara film naruto,,dajjal dan iluminati





Masashi Kishimoto terkenal lewat komiknya yang berjudul Naruto.. Namun setelah di perhatikan, musuh dan alur cerita di Naruto ini seperti mengarah pada suatu peristiwa disektor kehidupan real kita.mulai pembahasan dari musuh utama dari film Naruto ini yang bernama Uchiha Madara a.k.a tobi,, Uchiha Madara dalam penampilannya memiliki mata satu. apakah ini kebetulan?atau ada suatu pesan yang dikandungya? jika anda menganggap ini hanya kebetulan, coba perhatikan apa yang dikatakan oleh uchiha madara berikut ini:

"to have everything become one with me"
artinya
"untuk menjadikan semuanya menjadi satu denganku"

"I mean to achieve a complete form, in which all is united"
artinya
"Maksudku untuk mendapatkan bentuk yang sempurna, dimana semua menjadi satu (bersatu)"

"I will cast my illusion upon all humans living upon the earth's surface."
artinya
Aku akan menggunakan ilusiku kepada semua manusia yang hidup di muka bumi"

"controlling all of humanity within that illusion, I will become one with the world"
artinya
mengendalikan seluruh umat manusia dengan ilusi tersebut

"It will be a world without hatred or conflict. everything will be one with me. everything united."
artinya
Ini akan menjadi dunia tanpa kebencian atau konflik, semua akan menjadi satu denganku, semuanya bersatu

apakah sudah jelas bagi anda kalian yang dimaksud Madara Uchiha oleh Masashi Kishimoto dalam kehidupan nyata? Ya, ini mengarah pada sosok seorang Dajjal yang memiliki mata satu karena mata yg satunya cacat/terluka hingga akhirnya hanya satu mata yg ia miliki. Ambisinya yang besar yakni menguasai dunia dan menciptakan sebuah tatanan dunia baru, “New World Order”. Berikut adalah mengenai Juubi dan Uchiha Madara

ini adalah monster bermata satu yang ingin dibangkitkan oleh Uchiha Madara, yang notabene digambarkan bermata satu juga. lantas, apakah ini melambangkan sebuah arti?? ya, mata satu kerap dikaitkan dengan makhluk yang fitnahnya luar biasa yakni Dajjal!

dan inilah sosok uchiha madara bermata satu yang di lambangkan sosok dajjal atau iluminati


dan inilah cuplikan2 dialog Uchiha Madara



ya dislog di ats seprti layaknya projevt blue bem oleh NASA

for mangekyou sharingan sasuke


sama kaya lambang



dan hubungan antara gambar bijuu





Bijuu adalah Monster yg disegel di dalam tubuh manusia (dalam cerita di Naruto), dan manusia yang punya bijuu didalam tubuhnya disebut sebagai Jinchuuriki.

dan perhatikan gambar berikut

mirip dengan susunan pagan hewan iluminati yaitu sama dengan bijuu yang mrip hewan musang,,kura2 dll

PAGAN adalah kaum yang menyembah dewa matahari dan dikenal dekat dengan organisasi Illuminati

9 Bijuu = 9 Lambang pada Pagan

lambang-lambang pagan


Mungkin Masashi Kishimoto ingin kita mengetahui maksud dari alur yg ia bawa..kenapa begitu banyak simbol Pagan di dalam gambar komiknya?? Mungkin MK ingin menyampaikan pesan juga bahwa kesemuanya itu berkaitan atau apalah...watak daripada tiap2 simbol itu ada dan mengandung maknanya sendiri..coba deh agan ikutin alur cerita Naruto dari awal sampe sekarang...mirip akan beberapa sejarah, mungkin karena MK senang akan sejarah, jadi dia ga mau memisahkan unsur sejarah didalam karangan ceritanya ini n cukup menarik juga kalo diangkat menjadi sebuah bagian dari alur cerita di komiknya..MK juga ingin menyampaikan bahwa Kebenaran akan selalu menang melawan Kejahatan..bahwa Dajjal akan dikalahkan oleh Nabi Isa as yg dibantu oleh Imam Mahdi di akhir zaman nanti..

Rabu, 15 September 2010

apa sih tarbiyah?

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah. Syukur ke hadratNya kerana saya masih lagi diberi kekuatan dan keizinan untuk menulis post yang seterusnya. Semoga kita semua berada dalam kemanisan iman hendaknya. InsyaAllah.

TARBIYAH. Perkataan yang saya dengar buat pertama kalinya semasa berada di UK. Entah kenapa saya tidak pernah mendengar perkataan ini semasa berada di Malaysia. Kalau nak dikira, berada di Malaysia hampir 20 tahun, tetapi berada di UK baru nak mencecah setahun. Aish, sungguh hairan. Islam di Malaysia tak hebat ke berbanding UK? Fikir-fikirlah sendiri.


"Apa maksud TARBIYAH?," tanya kita.

“Cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung melalui kata-kata maupun secara tidak langsung dalam bentuk keteladanan, sesuai dengan sistem dan peringkat khusus yang diyakini, untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik”.

(Dalam buku Manhaj Tarbiyah ‘indal Ikhwanul Muslimin)


Mungkin kita semua sukar untuk memahami mengikut definisi di atas. Begitu juga dengan saya. Biasalah, orang baru nak berjinak-jinak mestilah payah nak faham dengan sekali baca kan? Ok, kita baca pula definisi tarbiyah yang lain.


"Apa maksud TARBIYAH?", tanya kita lagi terpinga-pinga.

Tarbiyah islamiyah adalah proses penyiapan manusia yang shalih, yakni agar tercipta suatu keseimbangan dalam potensi, tujuan, ucapan, dan tindakannya secara keseluruhan.


Tarbiyah berasal dari bahasa Arab yang berarti pendidikan, sedangkan orang yang mendidik dinamakan Murobbi.


Haa. Semakin jelas di situ nampaknya. Namun, kadang-kadang kita masih keliru. Amende la TARBIYAH ni kan.


"Apa maksud TARBIYAH?", terpinga-pinga kita bertanya lagi.
Makna tarbiyah adalah sebagai berikut:

1. Proses pengembangan dan bimbingan, meliputi jasad, akal, dan jiwa, yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan tujuan akhir si anak didik tumbuh dewasa dan hidup mandiri di tengah masyarakat.

2. Kegiatan yg disertai dengan penuh kasih sayang, kelembutan hati, perhatian, bijak, dan menyenangkan (tidak membosankan).

3. Menyempurnakan fitrah kemanusiaan, memberi kesenangan dan kemuliaan tanpa batas sesuai syariat ALLAH SWT.

4. Proses yg dilakukan dengan pengaturan yg bijak dan dilaksanakan secara bertahap dari yg mudah kepada yg sulit.

5. Mendidik anak melalui penyampaian ilmu, menggunakan metode yg mudah diterima sehingga ia dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

6. Kegiatan yg mencakup pengembangan, pemeliharaan, penjagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk, bimbingan, penyempurnaan, dan perasaan memiliki terhadap anak.


Wah, sudah jelas agaknya makna TARBIYAH dalam otak kita. Tetapi, kadang-kadang susah untuk lekat di otak kita melainkan dengan diberikan satu analogi. Ya, analogi. Apa agaknya anologi yang sesuai untuk menerangkan maksud TARBIYAH?


"Apa analogi yang menerangkan maksud TARBIYAH?," tanya kita lagi dengan penuh semangat.


ANALOGI PROSES MEMBUAT BATU

Andai kata kita ingin membuat batu yang kuat untuk membina rumah atau bangunan yang kukuh. Ia perlulah melalui beberapa proses.

Antaranya;


1. Sebatian yang diperlukan mestilah menepati nisbahnya.


2. Sebatian itu akan dipanaskan dalam kebuk pembakaran di bawah suhu yang amat tinggi.


3. Tekanan yang dikenakan ke atas kebuk pembakaran juga agak tinggi.


Hasilnya ialah;

1. Batu yang dibuat dengan betul kadar nisbahnya, tahan suhu tingginya dan tahan tekanan tingginya akan menghasilkan batu yang kuat seperti yang diingini.


2. Batu yang dibuat dengan salah kadar nisbahnya, tidak tahan suhu tingginya dan tidak tahan tekanan tingginya akan hancur gagal menjadi batu yang seperti diingini.


Analisis Analogi.


Analogi ini amat mudah untuk dipahami oleh kita semua. Batu yang kuat adalah contoh kepada diri kita. Suhu dan tekanan yang tinggi adalah cabaran untuk kita hadapi dalam menjadi INDIVIDU MUSLIM yang sebenar-benarnya.


Jadi, maksud TARBIYAH adalah proses dalam pembentukan diri kita semua. Tidak semua dari kita akan berjaya melalui proses-proses yang perlu dihadapi. Adanya tertinggal, ada yang terlucut dan ada yang mengalah. Namun, ada juga yang sanggup dan bersabar dalam menghadapi proses-proses itu.

Jadi, harapannya kita semua jelas dengan maksud TARBIYAH ini dahulu sebelum kita pergi dengan lebih lanjut.




"Islah Nafsak, Wad'u Ghairak".

hidup dan kehidupan

Hidup


Mbok Inah masih celingukan memeriksa ruangan rumah majikan barunya. Begitu besar dan mewah. Begitu rapi dan bersih. Setidaknya untuk ukuran pembantu yang masih awam dengan gaya hidup di kota besar seperti Jakarta.

Satu hal yang menarik perhatian Mbok Inah. Di tiap ruangan, selalu ia jumpai tanaman bunga yang berdiri di atas pot. Ada pohon melati, mawar, ros, dan sri rejeki. Sebuah tanaman yang ‘menjual’ keindahan dedaunan.Tiap kali mendapati tanaman-tanaman itu, Mbok Inah secara reflek menyiapkan kemampuan penciumannya. Duh, betapa harumnya bunga-bunga itu.

Tapi, ia menemukan sebuah keanehan. Pasalnya, tak secuil pun aroma harum menyeruak dari bunga-bunga itu. “Aneh! Kok, ndak wangi?” batin Mbok Inah seperti memeriksa. Ketika Mbok Inah mendekati tanaman melati, hal yang sama terjadi. Padahal, aroma melati begitu tajam. Aneh!

“Ada yang mau Mbok tanyakan?” tanya ibu majikan ketika menangkap kebingungan Mbok Inah.

“Anu, Nya. Hmm, gimana saya bisa nyiram pot-pot bunga ini? Kalau disiram di sini, sayang sama lantainya yang bagus. Kalau dibawa keluar, saya ndak kuat. Pohonnya lumayan besar!” ungkap Mbok Inah menutupi kebingungannya.

“Mbok keliru!” ucap ibu majikan sambil senyum. “Keliru?” balas Mbok Inah spontan. “Iya. Pohon-pohon ini tidak asli. Ini dari plastik. Mbok Inah tak perlu menyiraminya,” jelas ibu majikan sambil mengajak pembantu barunya itu menyentuh salah satu tanaman bunga.

“Oalah! Pantas tidak wangi!” ucap Mbok Inah sambil tetap terkesima dengan keindahan dan kemiripan tanaman bunga-bunga itu.
**

Orang banyak bisa saja terpikat. Mereka begitu takjub dengan keindahan luar yang mempesona: penampilan, retorika, dan slogan. Tapi, tetap saja kalau kesegaran dan keharuman jiwa cuma bisa diraih dari sesuatu yang hidup.

Pegiat dakwah persis seperti tanaman bunga yang tidak hanya hadir memberikan keindahan dan ketentraman orang sekitar melalui pesona luarnya. Lebih dari itu, ia mestinya hadir memberikan kesegaran ruhani melalui sentuhan hidup hatinya. Dan, ruhani hanya akan bisa tersegarkan dengan kucuran air kehidupan: jernih, terus mengalir, dan tidak tebang pilih.

Hanya yang segar yang bisa memberikan kesegaran. Dan hanya yang hidup yang bisa memberikan kehidupan. Kesegaran ruhani, dan kehidupan hati.....

Kamis, 02 September 2010

seputih melati......subhanallah

Melati tak pernah berdusta dengan apa yang ditampilkannya. Ia tak memiliki warna di balik warna putihnya. Ia juga tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai keadaannya, apa pun kondisinya, panas, hujan, terik, atau pun badai yang datang, ia tetap putih. Ke mana pun dan di mana pun ditemukan, melati selalu putih. Putih, bersih, indah berseri di taman yang asri.
Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya. Pada angin ia menyapa, berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar ianya tetap putih berseri. Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan angin menerpa. Ke kanan ia ikut, ke kiri ia pun ikut. Namun ia tetap teguh pada pendiriannya, karena ke mana pun ia mengikuti arah angin, ia akan segera kembali pada tangkainya.
Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air di antara ribuan air yang menghujani tubuhnya. Agar siapa pun tak pernah melihatnya bersedih, karena saat hujan berhenti menyirami, bersamaan itu pula air dari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes. Sesungguhnya, ia senantiasa berharap hujan kan selalu datang, karena hanya hujan yang mau memahami setiap tetes air matanya. Bersama hujan ia bisa menangis sekeras-kerasnya, untuk mengadu, saling menumpahkan air mata dan merasakan setiap kegetiran. Karena juga, hanya hujan yang selama ini berempati terhadap semua rasa dan asanya. Tetapi, pada hujan juga ia mendapati keteduhan, dengan airnya yang sejuk.
Pada tangkai ia bersandar, agar tetap meneguhkan kedudukannya, memeluk erat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya, menserikan alam. Agar kelak, apa pun cobaan yang datang, ia dengan sabar dan suka cita merasai, bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cinta dan kasih Sang Pencipta. Bukankah tak ada cinta tanpa pengorbanan? Adakah kasih sayang tanpa cobaan?
Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya. Karena dengan hijau daun itu, ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarna putih. Jika daun itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa ia harus meminta koreksi atas cela dan noda yang seringkali membuatnya tak lagi putih?
Pada bunga lain ia bersahabat. Bersama bahu membahu menserikan alam, tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik, karena masing-masing memahami tugas dan peranannya. Tak pernah melati iri menjadi mawar, dahlia, anggrek, atau lili, begitu juga sebaliknya. Tak terpikir melati berkeinginan menjadi merah, atau kuning, karena ia tahu semua fungsinya sebagai putih.
Pada matahari ia memohon, tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkan sinarnya yang menghangatkan. Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuh yang telah beku oleh pekatnya malam. Sinarnya yang menceriakan, bias hangatnya yang memecah kebekuan, seolah membuat melati merekah dan segar di setiap pagi. Terpaan sinar mentari, memantulkan cahaya kehidupan yang penuh gairah, pertanda melati siap mengarungi hidup, setidaknya untuk satu hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang.
Pada alam ia berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan setiap jiwa yang bersamanya. Indah menghias harum semua taman yang disinggahinya, melati tak pernah terlupakan untuk disertakan. Atas nama cinta dan keridhaan Pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnya tunas-tunas melati baru, agar kelak meneruskan perannya sebagai bunga yang putih. Yang tetap berseri di semua suasana alam.
Pada unggas ia berteriak, terombang-ambing menghindari paruhnya agar tak segera pupus. Mencari selamat dari cakar-cakar yang merusak keindahannya, yang mungkin merobek layarnya dan juga menggores luka di putihnya.
Dan pada akhirnya, pada Sang Pemilik Alam ia meminta, agar dibimbing dan dilindungi selama ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiap perannya. Agar dalam berperan menjadi putih, tetap diteguhkan pada warna aslinya, tidak membiarkan apa pun merubah warnanya hingga masanya mempertanggungjawabkan semua waktu, peran, tugas, dan tanggungjawabnya. Jika pada masanya ia harus jatuh, luruh ke tanah, ia tetap sebagai melati, seputih melati. Dan orang memandangnya juga seperti melati.

Dan kepada melatiku, tetaplah menjadi melati di tamanku. Karena, aku akan menjadi angin, menjadi hujan, menjadi tangkai, menjadi matahari, menjadi daun, dan alam semesta. Tetapi takkan pernah menjadi debu atau unggas yang hanya akan merusak keindahannya, lalu meninggalkan melati begitu saja.

melati engkau indah nan memukau falsafah hidupmu sungguh layak sebagai cerminan kami para manusia...............

Template by:

Free Blog Templates