Senin, 18 Oktober 2010

hidup ini anugerah sekaligus ujian

Setiap orang pasti pernah mengalami saat-saat sulit dalam menjalani kehidupannya. Kadang kesulitan itu memang membuat seseorang frustasi, bingung, stres, panik, putus asa dan sikap negatif lainnya.
Sesungguhnya ada tiga pelajaran penting dari adanya kesulitan hidup, yaitu:

Pertama, setiap kesulitan seharusnya “memancing” seseorang untuk berpikir. Allah menciptakan pikiran di dalam diri manusia agar manusia mampu menciptakan peluang-peluang dalam setiap keadaan, termasuk dalam situasi yang sulit. Janganlah kita cepat putus asa ketika menghadapi kesulitan, tetapi tenanglah dan berpikirlah.
Hambatan sering kali berarti bahwa kita harus berpikir lebih keras, lebih baik, dan lebih kreatif.
Kedua, ide untuk mendapatkan jalan keluar biasanya ada di sekitar kita. Biasanya hal-hal kecil dan sederhana di sekitar kita, kurang kita perhatikan. Padahal, Allah dapat memakai hal-hal tersebut untuk memberikan ide kepada kita sehingga kita bisa mendapatkan jalan keluar untuk setiap masalah yang kita hadapi.
Ketiga, apa yang kita hasilkan dari “pemerasan” otak kita, pasti berguna bagi sesama. Mari kita mulai mewujudkan apa yang sudah kita pikirkan, jangan ditunda-tunda.
Cepat atau lambat, karya kita akan menjadi berkah bagi orang lain.

Seorang mukmin tentu berbeda dalam menyikapi berbagai kesulitan hidup yang dihadapinya. Mereka memahami bahwa kesulitan atau ujian diberikan oleh Allah dalam rangka menguji hamba-Nya. Dan mereka tahu bahwa kesulitan itu dibuat untuk membedakan antara mereka yang benar-benar beriman dan mereka yang memiliki penyakit di hatinya, yaitu mereka yang tidak tulus dalam meyakini keimanan mereka. Karena itu, ujian atau kesulitan yang hadir dalam kehidupan kita akan menunjukkan siapakah kita sebenarnya.
Allah menjelaskan melalui firman-Nya, bahwa Dia akan menguji manusia untuk melihat siapakah yang benar-benar beriman.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 142)

"Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)...."
(al-Baqarah: 179)

Ketika membaca terjemahan ayat tersebut, hendaknya semakin menambah kesadaran kita bahwa kehidupan ini memang dipenuhi dengan aneka masalah dan berbagai kesulitan. Karena dunia ini merupakan Darut Taklif, maksudnya adalah tempat pembebanan. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari masalah selama mereka hidup di dunia. Dan sungguh merugi orang yang larut dalam kesedihan, kesedihan yang panjang justru akan semakin menyulitkan diri dalam menghadapi masalah. Hanya dengan keberanian untuk bangkit dan bersabar, kesulitan itu akan terasa mudah. Berbahagialah orang yang mampu bersabar dalam menghadapi setiap kesulitan hidup, karena Allah beserta orang-orang yang sabar.
itulah kehidupan.tapi allah menjanjikan kebahagian orang hidup jika ia mentaati segala peraturan yang ia berikan kepada mahkluknya.jaminanya bahagia
tap tunggu dulu hidup tak pernah lepas dari maslah dan tanggung jawab.seharusnya kita semakin dewasa semakin bijak memandang hidup ini.kita tak bisa lari dari masalah.karena lari dari masalah adalah masalah terbesar....ya allah bukanya hamba tak mau menerima masalah tapi hamba hanya berusaha menerima masalah dengan ikhlas...

Jumat, 15 Oktober 2010

Konspirasi Tentang Fakta Holocaust

Konspirasi Tentang Fakta Holocaust


Fakta bahwa Holocaust adalah fiksi memang menjadi momok baru bagi para ahli sejarah. Sejarah yang selama ini mencatat bahwa Perang Dunia Kedua diidentikkan dengan gerakan fasisme yang dipimpin oleh Hitler mungkin saja telah menjadi suatu pembohongan mengenai sejarah. Saat ini telah banyak bukti yang telah menjelaskan bagaimana kemungkinan perstiwa pembantaian 6 juta orang Yahudi itu adalah sejarah yang salah.
Holocaust berasal dari bahasa Yunani: holokauston yang berarti "persembahan pengorbanan yang terbakar sepenuhnya". Dalam sejarah tercatat bahwa Bangsa Yahudi di Eropa merupakan korban-korban utama dalam Holocaust, yang disebut kaum Nazi sebagai "Penyelesaian Terakhir Terhadap Masalah Yahudi". Jumlah korban Yahudi umumnya dikatakan mencapai enam juta jiwa. Dalam sejarah yang tercatat, pembantaian ini dilakukan dengan penembakan massal, kamar gas beracun, maupun dibiarkan mati kelaparan. Selain kaum Yahudi, kelompok-kelompok lainnya yang dianggap 'tidak disukai' kaum Nazi antara lain adalah bangsa Polandia, Rusia, suku Slavia lainnya, penganut agama Katolik Roma, orang-orang cacat, orang cacat mental, homoseksual, Saksi-Saksi Yehuwa (Jehovah’s Witnesses), orang komunis, suku Gipsi (Orang Rom dan Sinti) dan lawan-lawan politik dari Hitler. Mereka juga ditangkap dan dibunuh. Jumlah keseluruhan korban jika dikalkulasi dengan korban tambahan ini diperkirakan dapat mencapai 9-11 juta jiwa.

Kontroversi
Pengingkaran holocaust atau holocaust denial adalah kepercayaan bahwa Holocaust tidak pernah terjadi, atau jauh lebih sedikit dari 6 juta orang Yahudi yang dibunuh oleh Nazi seperti yang selama ini tercatat dalam sejarah; bahwa tidak pernah ada rencana terpusat untuk memusnahkan bangsa Yahudi; atau bahwa tidak ada pembunuhan masal di kamp-kamp konsentrasi. Mereka yang percaya akan hal ini biasanya menuduh bangsa Yahudi atau kaum Zionis mengetahui hal ini dan mengadakan konspirasi untuk mendukung agenda politik mereka. Karena Holocaust dianggap ahli-ahli sejarah sebagai salah satu kejadian paling banyak didokumentasikan dalam sejarah, pandangan-pandangan ini tidak dianggap kredibel, dengan organisasi-organisasi seperti American Historical Association mengatakan bahwa Holocaust denial sebagai "at best, a form of academic fraud." Pernyataan holocaust denial di muka umum adalah pelanggaran hukum di sepuluh negara Eropa, termasuk Perancis, Polandia, Austria, Swiss, Belgia, Romania, dan Jerman.

Holocaust deniers lebih suka disebut Holocaust "revisionists". Kebanyakan ahli sejarah mengatakan bahwa istilah ini menyesatkan. Historical revisionism adalah bagian dari ilmu sejarah; yaitu penyelidikan ulang dari accepted history (sejarah yang sudah diterima secara umum) dengan tujuan untuk lebih memperjelas peristiwa tersebut. Sebaliknya, negationist dapat secara sengaja menggunakan catatan sejarah yang salah; seperti ditulis Gordon McFee: "Revisionists depart from the conclusion that the Holocaust did not occur and work backwards through the facts to adapt them to that preordained conclusion. Put another way, they reverse the proper methodology … thus turning the proper historical method of investigation and analysis on its head."

Public Opinion Quarterly juga menyimpulkan: "Tidak ada ahli sejarah terkemuka yang mempertanyakan kenyataan Holocaust, dan mereka yang mendukung Holocaust denial kebanyakan adalah anti-Semit dan/atau neo-Nazi."

Holocaust denial sangat populer dalam penentang-penentang Israel dari kaum Muslim karena memang banyak bukti yang dikeluarkan oleh ilmuwan barat sendiri yang menjelaskan kebohongan holocaust ini. Disertasi dr. Mahmoud Abbas, Presiden Palestina, meragukan bahwa kamar gas digunakan untuk membunuh orang-orang Yahudi dan mengatakan bahwa jumlah orang Yahudi yang dibunuh dalam Holocaust kurang dari 1 juta jiwa. Abbas belum pernah menyatakan pandangan ini sejak ditunjuk menjadi Perdana Menteri Palestina pada tahun 2003, dan telah membantah bahwa ia adalah seorang Holocaust denier. Pada akhir 2005, presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad menggambarkan Holocaust sebagai "mitos pembantaian orang Yahudi."

Sebenarnya dari kalangan ilmuwan barat sendiri ada beberapa yang menyangkal adanya Holocaust, di antaranya: Pengarang Perancis Roger Garaudy, Professor Robert Maurisson, Ernst Zundel, David Irving, dll. tetapi hampir semuanya dinyatakan bersalah dan dijebloskan kedalam penjara termasuk Pada 15 Feb 2007, Ernst Zundel seorang Holocaust denier dihukum 5 tahun penjara. Seorang pengacaranya, Herbert Schaller, mengatakan bahwa semua bukti tentang adanya Holocaust hanya berdasarkan pengakuan korban-korbannya saja, bukan berdasarkan fakta-fakta yang jelas. Ernst Zundel ini juga pernah ditahan pada tahun 1985, dan 1988 dalam kasus yang sama.

Semua hal di atas sangat kontras dengan slogan negara-negara barat sendiri yang menyatakan kebebasan berpendapat apalagi disertai bukti-bukti ilmiah tentang kebohongan Holocaust terutama digunakannya kamar gas oleh Nazi di Polandia, tetapi begitu menyinggung masalah yang menggugat hal ini mereka langsung memberangus habis penentang-penentangnya sehingga banyak kalangan menilai adanya lobby Yahudi yang berdiri dibelakangnya dalam mempengaruhi putusan pengadilan

Dengan suara bulat, didalam sidang Majelis Umum PBB pada 1 November 2005, ditetapkan bahwa tanggal 27 Januari sebagai “Hari Peringatan Korban Holocaust”. 27 Januari 1945 adalah hari dimana tahanan kamp konsentrasi NAZI di Auschwitz-Birkenau dibebaskan. Bahkan sebelum PBB menetapkannya, tanggal 27 Januari telah di tetapkan sebagai Hari Peringatan Korban Holocaust oleh Kerajaan Inggris sejak tahun 2001, sebagaimana halnya di negara-negara lain, mencakup Swedia, Italia, Jerman, Finlandia, Denmark dan Estonia[18]. Israel memperingati Yom HaShoah vea Hagvora, “Hari Hari Peringatan Holocaust dan Keberanian Bangsa Yahudi” pada pada hari ke 27 bulan Nisan, bulan Ibrani, yang biasanya jatuh pada bulan April[18]. Hari peringatan ini biasanya juga di peringati oleh Yahudi di luar Israel.


Holocaust Hanyalah Lelucon
Banyak dari kita mengetahui bahwa Ahmadinejad (Presiden Iran sekarang) sangat benci dengan kata Holocaust. Ia pun terang-terangan menyatakan Holocaust hanyalah sebuah lelucon. Berikut ini saya akan mencoba membuktikan bahwa apa yang dikatakan Ahmadinejad ada benarnya.

Anne Frank’s Diary

Saya akan memberikan dua kutipan yang diambil dari salah satu halaman dari diari Anne Frank ini :

Yang pertama pada 14 juni 1942,

"During recess I passed out cookies to my teachers and my class . . . I
went to gym with the rest of my class. As it was my birthday, I got to decide
what game my classmates would play, and I chose volleyball. Afterward they all
danced around me in a circle and sang “Happy Birthday."

Yang kedua pada 15 juli 1944,

"Deep down, the young are lonelier than the old.’ I read this in
a book somewhere and it’s stuck in my mind. As far as I can tell, it’s
true. . . Anyone who claims that the older folks have a more difficult time in
the Annex doesn’t realize that the problems have a far greater impact on us.
We’re much too young to deal with these problems, but they keep thrusting
themselves on us until, finally, we’re forced to think up a solution, though
most of the time our solutions crumble when faced with the facts. It’s
difficult in times like these: ideals, dreams, and cherished hopes rise within
us, only to be crushed by grim reality. . . . It’s utterly impossible for me
to build my life on a foundation of chaos, suffering and death. I see the world
being slowly transformed into a wilderness, I hear the approaching thunder that,
one day, will destroy us too, I feel the suffering of millions."

Dari kutipan di atas, inilah fakta-fakta yang mempertanyakan keabsahan dari diari tersebut:

  • Pada masa sekitar tahun 1944, ternyata belum ada pena, dan anehnya diari dari Anne ditulis menggunakan pena.
  • Terjadi perbedaan gaya bahasa tulisan saat dia umur 13 yang masih cenderung remaja tiba-tiba langsung menjadi seseorang dengan gaya penulisan yang sangat dewasa.
  • Sampai saat ini masih terdapat dua edisi dari diari Anne yang memiliki isi yang sangat berbeda.
  • Menurut David Irving, sangat tidak mungkin seorang remaja menulis begitu dewasa, dan diari itu lebih mirip sebuah novel.
  • Keanehan lainnya adalah penulisan diari saat keadaan perang adalah sesuatu yang dipertanyakan. Kemungkinan tidak ada anak yang sempat-sempatnya menulis diari jika keadaan dimana ia berada sedang dalam masa perang.

Jumlah Korban
Pada gambar dibawah yang diambil dari Edgar J Steele dalam "Holy Holocaust" disebutkan bahwa yang meninggal di SELURUH kamp konsentrasi yang dimiliki Jerman itu dibawah 300.000 dan tidak disebutkan jika mereka mati karena kamar gas, tetapi terkena penyakit Tipus dan berbagai penyakit lain. Dan adanya eksekusi alias ditembak ditempat oleh tentara Jerman memang ada, tetapi jumlah itu hanya 100-an dan itu pun ada sebabnya, karena mereka memberontak, mencuri, politisi korupsi dimasanya maupun kesalahan hukum lainnya.

Anne Frank’s Diary

Tugu Peringatan
Di Auswitchz ada dua tugu peringatan tentang perang dunia kedua, dari kedua tugu inipun rupanya masih kebingungan dalam memastikan jumlah korban holocaust. Lihat saja perbedaan dari kedua tugu tersebut yang memuat tentang jumlah korban holocaust.


Setelah perang dunia 2 berakhir, klaim dari para Yahudi ada sekitar 4 juta orang korban, sementara klaim dari banyak pihak mengenai korban terus meningkat bahkan hingga mencapai 9 juta korban.

Dari beberapa bantahan mengenai kebenaran dari Holocaust, ada satu bantahan yang membuat semuanya semakin terhubung, yaitu seperti yang pernah saya singgung mengenai kematian Hitler, bahwa jika benar Hitler telah membinasakan jutaan umat Yahudi, maka dia tidak mungkin disembunyikan oleh para anggota Rothschild (yang sering mengaku keturunan Yahudi) di Argentina.

sumber:thenoock.com

Rabu, 13 Oktober 2010

Keterbatasan Itu Nikmat


Allah menciptakan manusia memiliki kelebihan disamping juga kekurangan. Keterbatasan pasti dimiliki oleh setiap manusia, namun demikian kekurangan atau keterbatasan bukanlah suatu aib, dalam kondisi tertentu kita harus mensyukuri keterbatasan yang melekat pada diri kita, karena Allah SWT menganugerahkan keterbatasan itu tentu ada hikmah dan manfaat bagi umat manusia.

Coba kita renungkan, panca indera kita !

Seandainya panca indera kita mempunyai kemampuan yang tanpa batas, apa jadinya kita? kalaulah telinga kita bisa mendengar apa saja, mampu menangkap suara yang jauhnya bermil-mil. tentu kita tidak akan tidur nyenyak karena telinga kita terganggu dengan bunyi pesawat terbang atau kereta api yang jaraknya jauh tapi ditangkap oleh pendengaran kita dengan jelas. Manusia akan lebih banyak bertikai sebab mereka tidak bisa berbisik-bisik lagi, meski pun jauh, masih bisa didengar oleh orang yang kita omongin.

Andai hidung kita sangat peka, bagaimana kita dapat menikmati makanan yang lezat, sedangkan hidung kita mencium aroma dari toilet diseberang jalan.

Lupa juga nikmat, kalau kita tidak dikasih sifat lupa, tentu rumah sakit jiwa akan penuh, sebab banyak orang yang stress memikirkan masalah-masalahnya, tanpa bisa istirahat. Ngantuk juga nikmat, kalau kita mampu terjaga selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu, tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi?

Dalam keterbatasan itulah sebenarnya isi.Keterbatasanlah yang membuat manusia saling membutuhkan. Kesempurnaan hanya milik Allah semata.

How You Think, is How You Act, is Who You Are .




“Pemimpin yang baik dan mengerti arah perubahan, akan memimpin dengan contoh. Ia berada di depan, berkorban demi kebaikan. Ia mengajak yang lain berkorban, tanpa harus merasa susah.” –Rhenald Kasali–

Suatu pagi tiba-tiba masuk sebuah SMS dari seorang sahabat. Ia mengajukan pertanyaan, ”Mengapa para motivator, trainer, dan konsultan, tidak menjadi pemimpin besar dunia yang membuat perubahan besar untuk kesejahteraan umat manusia, mengukir sejarah? Mereka asyik saja memotivasi orang dan bicara banyak tentang leadership, tanpa menjadi pelaku utama”. Dug! Karena profesi saya trainer dan konsultan, dan dalam banyak kesempatan diminta menjadi motivator, pertanyaan tersebut lumayan menohok saya, namun di sisi lain juga memaksa saya berpikir untuk menemukan jawabannya.

Motivator, trainer, dan konsultan, sebagaimana juga dokter, pengacara, presiden, gubernur, ketua parpol, dan anggota legislatif, adalah profesi. Sementara pemimpin, leader, bukanlah profesi, melainkan peran dan sekaligus kualitas personal seseorang. Implikasinya, seorang presiden, gubernur, maupun ketua parpol belum tentu pemimpin. Sebaliknya, seorang konsultan, dokter, atau pengacara belum tentu bukan pemimpin. Walaupun memang ada profesi tertentu yang sebenarnya menuntut kapasitas kepemimpinan – kemampuan menjalankan peran sebagai pemimpin dan kualitas personal sebagai pemimpin – yang relatif lebih tinggi dibandingkan profesi lainnya.

Mari kita lihat leader sebagai peran. Sebuah peran ditunjukkan oleh sekumpulan perilaku yang memiliki pola tertentu. Jangan dilupakan formula dasar bahwa perilaku adalah fungsi – refleksi, akibat – dari pola pikir. Ingat kembali hubungan: how you think is how you act, is who you are. Dalam konteks ini seseorang disebut leader karena ia berperilaku leader, yang merupakan dampak dari pola pikir leader pula.

Bagaimana seorang leader berpikir? Leader berpikir bagaimana menghadapi, dan bahkan memenangkan perubahan. Bagaimana organisasinya atau masyarakatnya dapat meniti gelombang turbulensi, dan bukan sekedar selamat, namun juga mampu melompat ke jenjang yang lebih tinggi. Leader menyadari bahwa agar tak tergulung oleh perubahan ia harus punya visi yang jelas, yang kemudian di-buy in oleh para pengikutnya, sehingga kemudian menjadi shared-vision, visi bersama. Visi yang jelas itu membuat leader tahu pasti apa yang harus dilakukan, dan mengapa hal tersebut harus dilakukan, walaupun sangat mungkin ia membutuhkan bantuan orang lain untuk mengelola kompleksitas yang timbul sebagai dampak gelombang turbulensi dengan menyusun rencana bagaimana mobilisasi sumberdaya harus dilakukan dan anggaran keuangan yang menjadi konsekuensinya.

Di sinilah titik beda yang membuat pemimpin menjadi begitu unik. Leader berorientasi ke masa depan (one day) di suatu tempat yang sama sekali berbeda (be somewhere), bukan sekedar re-inventing the wheel, berkubang dengan problematika klasik yang dari itu ke itu juga. Ia sangat berani bermimpi menembus batas realitas, karena ia menghayati bahwa menciptakan masa depan – learning from the future – adalah tugasnya. Bagi pemimpin sejati, sejarah dan kekinian adalah guru dan pemberi peringatan agar tak mengulangi kebodohan yang pernah terlanjur dibuat, terperosok ke dalam lubang yang sama, namun sama sekali bukan koridor pembatas, apalagi belenggu pemasung kemerdekaan berpikir dan bermimpi.

Bermimpi adalah kompetensi yang mutlak dimiliki seorang leader. Bukan sekedar bermimpi, namun melakukan visualisasi dalam pikiran sedemikian rupa sehingga mencapai titik disosiasi. Disosiasi adalah sebuah kondisi di mana kita seolah-olah melihat rekaman video tentang mimpi kita – lengkap dengan gambar, suara, dan sensasi rasa (visual, auditory, kinesthetic) – di mana kita melihat diri kita sendiri dalam film itu sebagai aktor utamanya. Disosiasilah yang membuat otak dan pikiran kita “tertipu”, merekam imajinasi itu, mimpi kita, sebagai realita, sehingga menjadi referensi yang sangat kuat, dan pada gilirannya mampu menciptakan sense of certainty, rasa pasti, yang membangun keyakinan kita, belief, terhadap visi itu. Dan jangan lupa, sense of certainty, belief, merupakan perintah mutlak, unquestioned command, terhadap sistem saraf dan proses-proses biokimia dalam tubuh kita, yang pada gilirannya akan membangunkan seluruh potensi tak terbatas yang sebelumnya lelap tertidur.

Ada cerita kecil tentang ini. Konon, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan, sepuluh ekor anak kodok menggagas lomba memanjat menara. Karena penasaran khalayak ramai berkerumun menyaksikan lomba yang tak lazim itu. Mereka bertepuk dan bersorak-sorai, namun sejatinya bukan memotivasi, bahkan kebalikannya, mengejek dan menafikkan kemungkinan kesepuluh anak kodok itu akan berhasil. Benar juga apa kata penonton, satu demi satu anak-anak kodok itu tergelincir jatuh. Teriakan penonton semakin brutal, dan kian banyak pula peserta lomba yang terpeleset dan gagal. Namun tunggu dulu. Ada satu anak kodok yang bergeming. Sama sekali tak terpengaruh! Ia terus merayap menunju puncak menara. Perlahan tapi pasti. Dan akhirnya ... dia berhasil! Maka penontonpun heran. Mereka mencoba mencari tahu mengapa anak kodok yang satu ini sukses mencapai puncak. Masya Allah, ternyata dia ... tuli!

Kesimpulannya, kalau mau berhasil jadilah pemimpin yang ”tuli”. Tuli terhadap seruan negatif para provokator! Sekali anda punya niat baik, punya mimpi besar untuk mengubah diri dan dunia di sekitar anda, fokuskan pandangan ke depan, mantapkan hati, busungkan dada, bermunajat mohon pertolongan dan penjagaan Allah SWT, lalu ... melangkahlah! ”...Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya” (QS. Ali ’Imran: 159).

Senin, 11 Oktober 2010

siap menyerang atau diserang?

bismillah tiada awalan yg indah slain menyebut nama engkau dzat maha sempurna dan paripurna...
alhamdulillah atas limpahan rahmat yg engkau berikan kpda kami yg tak terhitung jumlahnya dan mustahl hamba bisa menghitungnya.

depok,11.oktober.2010

hufftthhhh..terkadang ku mulai berontak dgn keadaanku.terkadang ku melawan terkadang ku berdamai denganya.sungguh sederhana cita2 ku membahagiakan orang2 yg telah berjasa dalam hidupku lebih2 ke orang lain.
perjalanan hidup ini terjal kawan ibarat kita mendaki gunung di depan ada badai angin dan hujan di belakang jurang dan lembah yg terjal kemana kita lari.tak ada pilihan lain.hidup adalah plihan pastinya dgn kedewasaan umur kita semakin kita tahu apa motivasi hidup ini.

kembali ke judul utama.....siap menyerang atau diserang?
kaya perang aja...yah bgitulah hidup.saat kita tak menyibukkan diri dgn kebaikan.kebajikan.kesalehan.maka saat itu pula kejelekan.keburukan.kefasadan otomatis mengintai kita.saat kita lemah saat kita lalai.....itulah kenapa nabi selalu menyuruh kita menyibukkan diri dgn yg namanya kebaikan,,,sabda nabi ketika beliau ditanya oleh salah seorang sahabat beliau,,ya nabi amalan apa yg utama disisi allah nabi menjawab..yaitu amalan yg dikerjakan terus menerus meski itu sedikit..!!

subhanallah sungguh saya merasa malu.melihat sosok2 yg perkasa disekitar kita mereka yg di beri kekurangan allah ada yg cacat tubuhnya mereka sanggup menjadi agent of change sedangkan kita dengan bnyak pilihan hidup.justru bingung buat apa hidup ini di dedikasikan buat apa...

yahh bgitulah manusia pelajaran berharga buat kita adalah"tidak ada hal baru di kolong langit ini semuanya telah terjadi sebelumnya" jadi sungguh keterlaluan klo kita tak belajar dari kearifan dan kebajikan masa lalu..

dan saatnya sekarang kita harus menentukan tujuan kita.ingat kita hidup bukan untuk mati.tapi kita hidup untuk hidup lagi..jangan sampai dengan kelengahan kita diserang kemalasan.malas belajar diserang kebodohan..dan lain sebagainya

perjuangan itu bukanlah bagaimana cara kita mati di jalan allah.tapi cara bagaimana kita hidup di jalan allah......jangan menuntut hak kita sebelum kewajiban kita tunaikan..wallahu a'lam

Kamis, 07 Oktober 2010

entah ambisi ataukah cita2 sebuah kebahagiaan itu?

kadang kita berpikir alasan apa kita hidup dan apa motivasinya???..yah bgitulah.berbagai cara memaknai hidup ini.
Setiap hari adalah campuran dari yang baik dan yang jahat, tak ada hari atau keadaan yang 100 % baik. Unsur-unsur dan fakta fakta di dunia ini dan di dalam kehidupan pribadi anda selalu dapat membenarkan, entah pandangan yang pesimistik dan menggerutu atau pandangan yang optimistis serta bahagia, terpulang kepada kita sendiri.

Ini adalah pilihan, perhatian dan keputusan. Itu juga bukan soal jujur atau tidak jujur secara intelektual. Baik itu adalah sama nyatanya seperti jahat.Persoalannya hanyalah yang mana yang kita pilih perhatikan – dan pikiran-pikiran apa yang kita pikirkan.

Kita tidak pernah hidup, melainkan hanya berharap hidup, dan selalu menanti nantikan agar kita bahagia, sehingga kita tidak pernah bahagia. Demikianlah yang di ungkapkan oleh Pascal tentang kehidupan yang banyak orang jalani sehari-hari.

Ketidak-bahagiaan disebabkan : Karena kebiasaan menafsirkan kejadian tertentu sebagai pukulan terhadap harga diri kita. Kita cenderung bereaksi dengan amarah, kebencian, mengasihi diri sendiri / merasa tidak nyaman / senang.
Menurut pendapat George Bernard Shaw : Penyebab utama ketidak-bahagiaan adalah terlalu mengambil hati hal-hal yang sesungguhnya tidak pribadi sifatnya.
Sedangkan menurut pendapat Epictetus : Manusia itu “ Terganggu “, bukan oleh hal hal yang terjadi ( fakta ) , melainkan oleh opini / pendapat mereka sendiri tentang hal hal yang terjadi.

Menurut Dr.John A.Schindler : Kebahagiaan adalah ” Kondisi pikiran dimana kebanyakan pikiran kita menyenangkan “.
Kebahagiaan adalah kebiasaan mental, sikap mental, dan kalau tidak dipelajari dan dilatih mulai sekarang, kebahagiaan itu tidak pernah dialami.Kebahagiaan itu tidaklah dapat dicadangkan untuk nanti, setelah memecahkan masalah eksternal tertentu. Ketika masalah yang satu terpecahkan, timbul lagi masalah lainnya. Kehidupan ini adalah serangkaian masalah. Kalau anda ingin bahagia, anda harus bahagia – titik ( . ) – “ bukan bahagia karena……… “.
Pandangan Spinoza terhadap kebahagiaan adalah “ Kebahagiaan bukanlah Imbalan atas kebajikan, melainkan merupakan Kebajikan itu sendiri “.

Menyenangkan hanya kalau anda menjadikannya menyenangkan. Kita bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri sebab kita bisa memilih pikiran pikiran kita dan bahkan memilih citra diri kita, dan kita sebaiknya melakukannya daripada tergantung kepada orang lain untuk melakukannya.
Ketika Kita Bahagia, kita berpikir lebih baik, berprestasi lebih baik, merasa lebih baik dan lebih sehat, demikian juga organ-organ pengindera kita akan bekerja lebih baik. Sebetulnya Penyakit yang kita alami merupakan akibat dari Kondisi tidak bahagia yang kita alami.

Kebiasaan-kebiasaan kita secara harafiah adalah pakaian yang dikenakan oleh kepribadian kita. Kebiasaan konsisten dengan citra diri kita dan keseluruhan pola kepribadian kita.
Citra diri kita dan kebiasaan kita cenderung sejalan. Ubahlah yang satu maka otomatis anda ubah yang lain. 95 % dari perilaku kita, perasaan kita, dan respons kita adalah karena kebiasaan. Sikap kita, emosi kita dan kepercayaan kita cenderung menjadi kebiasaan.
Kebahagiaan adalah kebiasaan mental yang dapat dikembangkan. Kebahagiaan itu murni Internal.

Kebahagiaan itu dihasilkan bukan oleh objek, melainkan oleh ide-ide, pikiran pikiran, dan sikap sikap yang dapat dikembangkan serta dibangun oleh kegiatan kegiatan individu yang bersangkutan, terlepas dari lingkungannya. Demiian pendapat dari Dr.Matthew N Chappell.
Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang terjadi pada anda. Kebahagiaan adalah sesuatu yang anda lakukan sendiri dan anda tentukan sendiri. Kalau anda nantikan kebahagiaan menyusul anda, terjadi begitu saja, atau dibawakan bagi anda oleh orang lain, kemungkinan besar anda harus menunggu lama sekali. Tak seorang pun dapat memutuskan bagaimana pikiran anda selain anda sendiri. Kalau anda tunggu hingga keadaan membenarkan anda memikirkan pikiran pikiran yang menyenangkan, kemungkinan anda juga akan menunggu selamanya.

begitu luas makna kebahagiaan .terkadang dalam menjalani hidup ini.penuh dgn ambisi..harus bahagia.sukses.kaya.istri cantik.anak2.dan lain2 sebagainya.sadar atau tidak sadar itu bukan cita2 tapi sebuah belenggu...untuk itu dibutuhkan jiwa besar dlam mengarunggi hidup ini..tentunya keikhlasan....bismillah ayo rahmat terus maju.petiklah cita2 bukan ambisi nan nafsu belaka...katakan innallah ma'an..show me the way ya allah..sungguh kamibutuh ridhomu bukan murkamu...semangat ABDUL ROHMAT

Template by:

Free Blog Templates