Kamis, 06 Januari 2011


Perayaan Natal dan Tahun Baru Adalah Syi'ar Agama Kafir

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang Mahaesa. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir, Muhammad bin Abdillah, keluarga dan sahabatnya.

Sesunguhnya setiap umat memiliki hari besarnya masing-masing untuk mengenang dan menghidupkan moment tertentu atau untuk mengungkapkan kebahagiaan, kesenangan, dan syukur yang sifatnya berulang setiap tahun.

Allah mengetahui kecenderungan yang ada dalam diri manusia ini. karenanya Dia memberi petunjuk untuk mengapresiasikannya dengan cara yang mulia. Yaitu dengan mengingatkan hikmah penciptaan, tugas manusia, dan ibadah kepada Allah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bermain-main (bersenang-senang) di dalamnya. Lalu beliau bertanya, ‘Dua hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Dua hari yang kami bermain-main di dalamnya pada masa Jahiliyah.’ Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari tersebut dengan Idul Adha dan Idul Fitri’." (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, "Hai Abu Bakar, setiap kaum memiliki hari raya, dan inilah hari raya kita." (HR. Bukhari).

Dua hadits ini menjadi dalil bahwa hari raya umat Islam hanya dua tersebut. Berbeda dengan hari raya selainnya, baik yang bersifat keagamaan, kenegaraan, atau dunia.

Banyak sekali nas syar'i yang menerangkan karakteristik umat ini yang berbeda dengan umat, agama, dan kelompok lainnya, agar menjadi umat terbaik. Umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sebagai rasul terakhir dengan kitab suci Al-Qur'an.

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: 110).

Umat ini adalah umat terbaik. Dalam hadits Mu'awiyah bin Haidah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kalian adalah penyempurna tujuh puluh umat. Kalian yang terbaik dan paling mulia di mata Allah 'Azza wa jalla." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

Beliau bersabda lagi, "Penghuni surga ada 120 baris. Sedangkan umat ini sebanyak 80 barisnya." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Namun kenyataannya, pada zaman ini banyak umat Islam yang tidak memahami posisi dan kedudukan mereka. Malahan mereka tertarik dengan perayaan hari Natal dan tahun baru yang menjadi syi’ar agama Kristen. Hal ini disebabkan tidak adanya pemahaman yang benar dan lemahnya ikatan aqidah mereka. Sehingga mereka terkadang ikut-ikutan dengan budaya dan tradisi orang kafir, antara lain:

  1. Saling mengucapkan selamat hari raya, saling kirim kartu lebaran baik melalui pos atau internet.
  2. Ikut serta memeriahkan hari Raya Natal di gereja, hotel, gedung serba guna, atau melalui media elektronik.
  3. Membeli pohon Natal dan memasang patung Sinterklas (Santa Claus) yang katanya mencintai anak-anak dengan membagi-bagikan hadiah sejak malam Natal hingga malam tahun baru.
  4. Bermaksiat, melakukan kejahatan, dan mabuk-mabukan pada malam tahun baru serta bentuk-bentuk lainnya.

Pada zaman ini banyak umat Islam yang tidak memahami posisi dan kedudukan mereka. Malahan mereka tertarik dengan perayaan hari Natal dan tahun baru yang menjadi syi’ar agama Kristen.

Hari raya Natal dan tahun baru tidak boleh dijadikan sebagai hari yang dirayakan oleh umat Islam dengan dua alasan: Pertama, mengandung nilai keagamaan yang kufur. Yaitu menyandangkan sifat tuhan kepada Al-Masih Isa bin Maryam, reinkarnasi, memberhalakan Isa, menganggapnya sebagai anak Allah, disalib, dan keyakinan batil lainnya.

Kedua, mengandung nilai kefasikan, berbuat seenaknya, berakhlak seperti binatang yang tak pantas ditiru manusia, terlebih oleh orang beriman.

Natal mengandung nilai keagamaan yang kufur. Yaitu menyandangkan sifat tuhan kepada Al-Masih Isa bin Maryam, reinkarnasi, memberhalakan Isa, menganggapnya sebagai anak Allah, disalib, dan keyakinan batil lainnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat tegas melarang ritual seperti ini. Dalam hadits shahih disebutkan, ada seseorang bernazar di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menyembelih unta di Bawwanah –yaitu nama suatu tempat-, ia lalu mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: “Aku bernazar untuk menyembelih unta di Bawwanah.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Apakah di sana ada berhala jahiliyah yang disembah?” Mereka berkata: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah di sana dilakukan perayaan hari raya mereka?” Mereka berkata: “Tidak.” Beliau bersabda: “Tunaikanlah nazarmu, sesungguhnya tidak boleh menunaikan nazar yang berupa maksiat kepada Allah dan yang tidak mampu dilakukan oleh anak Adam.” (HR. Abu Dawud dan sanadnya sesuai syarat as-Shahihain).

Dari Abdullah bin Amru bin 'Ash radhiyallahu 'anhuma, berkata:

مَنْ بَنَى بِبِلاَدِ الأَعَاجِمِ وَصَنَعَ نَيْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهُمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوتَ وَهُوَ كَذَلِكَ حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Barangsiapa yang tinggal di negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunannya: IX/234).

Selasa, 04 Januari 2011

trouble..... in trouble

As Salaamu‘alaykum and peace to all,

My mind is cloudy
My soul is empty
My heart is broken
My life is in chaos
My faith is shaken
My motivation is down
The road that I’m going through is stick
The mountain that I’m climb is high

I walk on the lonely road
No one standing by my side
No one to hold

Sometimes, I’m afraid of myself
Afraid if I’m loss my life
Loss what I’ve before
At the moment where my dreams
Still in the sky
Far away to reach
Far away from my hand to grab

When the life’s storm swept my life
I’m there alone
No one in front to hold me
No one at the back to support me
No one in my left and right
To bring me back to normal

After all, I’m the one who resist the storm
When I won, I thanks to Allah
For give me strength
To face the reality of life
But sometimes I’m failed
Slip to the wrong direction
Slip to same hole that I’ve slipped before
Doing the same mistake again and again
At that moment
I ask Allah’s repentance
By only His mercy and blessing
I can succeed in the world and hereafter

Trouble…I’m really in trouble

Then, what should I do?
I just need keep in my mind that
In what ever I do
Where ever I go
Allah is always with me
Even more closer than my veins
And I will never walk alone



In the name of Allah
The most beneficent
The most merciful
The most deserving of all praise
I pray for better days….

May the future bring the brightest day in my life..insya-Allah


Ribuan Warga Inggris yang Masuk Islam 2010, Mayoritas Wanita Kulit Putih

LONDON (voa-islam.com) – Jumlah muallaf di Inggris meningkat tajam, sebagian terinspirasi masuk Islamnya Lauren Booth, saudara ipar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Mayoritas muallaf itu wanita berkulit putih dan kini sudah mengenakan jilbab.

Lebih dari 100 ribu orang warga Inggris saat ini pindah agama ke Islam atau muallaf. Mayoritas dari warga tersebut adalah wanita berkulit putih.

Menurut perkiraan dari organisasi Faith Matters, jumlah tersebut meningkat dari hanya 60 ribu orang pada 2001. Studi tersebut dilakukan Kevin Brice dari Swansea University.

Dalam penelitiannya, Brice memperkirakan sekitar 5.200 orang pindah ke agama Islam di Inggris tahun lalu.

Saudara ipar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Lauren Booth, dinilai sebagai salah satu faktor yang menginspirasi banyaknya warga Inggris pindah agama ke Islam. Booth tahun lalu mengumumkan menjadi muallaf.

Dalam sebuah survei terhadap 122 warga yang baru pindah agama ke Islam, 56 persen merupakan warga berkulit putih dan 62 persen adalah wanita. Kebanyakan warga yang berpindah agama ke Islam berusia 27 tahun.

Sejumlah wanita yang pindah agama tersebut memakai hijab atau kerudung. [taz/tin]


Sabtu, 01 Januari 2011

PKS dan Tantangan Dakwah Era Siyasi

Oleh: Muhammad Zulifan

Bandul dakwah Indonesia telah berayun jauh dari mihwar tandzimi ke siyasi. Jika sebelumnya ikhwah sibuk dengan kajian ibadah, tazkiyatun nafs, makna syahadatain, al-kiyadah wa al-jundiyah, dll. maka menjadi wajar ketika kini banyak yang tergagap menyongsong era siyasi, sebuah era penuh kontroversi. Hatta, ada ikhwah yang mempertanyakan—tepatnya menyesalkan-- mengapa kini setiap liqo' bahasannya selalau politik. Hal tersebut setidaknya menjadi bukti, betapa hari ini kita tidak sepenuhnya siap masuk ke mihwar siyasi.

Sampai kini, banyak isu-isu yang tidak bisa terjawab oleh sebagian besar kader. Diskusi yang ada adalah pemaksaan prinsip-prinsip jamaah yang telah baku dan final agar mau tunduk sesuai persepsinya masing-masing, bukan berdasar prinsip jamaah yang seharusnya.

Dan kini, bak bola salju liar, fenomena ini terus menggelinding menerjang setiap kader, terutama mereka yang masih kurang pemahanan siyasi dan yang sedikit akses ke "pusat informasi".

Filosofisasi Siyasi

Hidup adalah sinkronisasi idealisme dengan realita, antara teks dengan rasionalitas lapangan. Itulah mengapa muncul kajian berbagai disiplin fiqh, tak terkecuali fiqh siyasi yang berusaha menjabarkan teks (Al-Quran dan sunnah) ke dalam teknis kehidupan.

Dari sini awal pebicaraan kita tentang siyasi. Siyasi bukanlah kajian ilmu filsafat yang selalu mencari apa yang ideal tanpa pertimbangan rasionalitas lapangan. Kita di dakwah bukan dididik menjadi filsuf yang tidak membumi, mengawang-ngawang tanpa solusi. Semboyan kita adalah "nahnu kaum amaliyun"--kami kaum pekerja keras--. Contoh konkretnya, 20 % targetan jamaah (melalui Mukernas) yang harus segera dirasionalisasi, bagaimana langkah dan strateginya agar tercapai. Dari sini akan tampak beda yang begitu kentara antara yang mengkritik dan yang diamanahi target tersebut (dalam hal ini TPPN).

Sementara ini banyak ikhwah yang memposisikan dirinya sebagai filsuf di jamaah ini. Memandang kebijakan hizb dalam kaca mata seorang filosof. Maka yang ada adalah pandangan-pandangan ideal versi individu, tanpa mengkaji realita lapangan dan cenderung menyalahkan bila ada yang berbeda dengan persepsi dakwah yang telah dibangunnya sendiri.

Ini yang saya sebut sebagai filosofisasi siyasi.

Fenomena lain adalah menganggap bahwa siyasi itu harus seragam dan searah, tidak boleh ada konflik atau beda pendapat. Ternyata selama ini kader cenderung pada bahasan politik Arab Saudi dan Mesir—sesuai backgruond pendidikan asatid mereka-- yang selalu seragam satu warna. Di kedua Negara ini, arus politik harus seragam, bila ada yang berbeda harus dihanguskan.

Bicara rasionalitas, politik itu perlu sebuah rasionalitas lapangan agar yang diusung bukanlah hanya syair-syair lapuk macam khilafah dll. Ini untuk membedakan kita dengan gerakan "sebelah" yang lebih mementingkan bentuk dibanding subtansi. Kita bukan HTI yang selalu menempatkan khilafah di atas segalanya tanpa pertimbangan rasionalitas lapangan, tanpa memperhatikan hasil survey, dan rentetan fakta ilmiah lainnya.

Suk atidak suka, Jamaah kita sudah memutuskan untuk terjun ke dunia demokrasi. Sampai point ini, tidak perlu kita berdebat lagi. Juga jamaah ini sudah bersepakat melalui Mukernasnya bahwa target perolehan 2009 adalah 20 %. Inilah adalah ijma' jamaah ini di Indonesia yang setiap kader berkewajiban mensukseskannya.

Sementara seperti sempat disinggung Eep ceruk pasar partai Islam itu hanya didiami 37,54% dari total pemilih. Para pemilih partai Islam cenderung mengalihkan dukungannya ke partai berbasis massa Islam lainnya. Dengan kondisi pemilih lintas parati Islam yang stagnan, tidak mungkin PKS bisa meraih suara 20 persen seperti ditargetjan.

Jika kita dalam posisi menjadi orang yang diamanahkan tagetan 20% itu, dengan kondisi seperti ini, apa yang akan kita lakukan? Tentu berbagai macam strategi kampenye akan kita pikirkan.

Akseptabilitas VS Elektabilitas.

Akseptabilitas menjadi faktor penting dimana sebuah partai bisa diterima atau tidak oleh publik. Sekat-sekat yang ada selama inilah yang berusaha PKS leburkan. Hal ini diatasi dengan serangan udara untuk melebur sekat-sekat imaginer yang timbul dari persepsi sebagian masyarakat yang masih menganggap PKS radikal, eksklusif, fundamentalis, dll. Ibarat sebuah wadah, ia harus punya corong yang lebar agar menjadi pintu masuk berbagai elemen bangsa. Inilah pertarungan persepsi, image yang selama ini ditempuh dengan berbagai inisiatif:

1. Pemberian PKS Award

Pemberian PKS award ke 100 peimimpin muda serta baru-baru ini kepada 8 wanita yang yang meninspirsi bangsa adalah bentuk pencitraan partai yang terbuka. Orang bisa berkata tenyata PKS bisa melihat kelebihan pada elemen lain dengan memberi penghargaan tidak saja untuk aktivis Islam, tapi juga orang kiri semacam Budiman Sujatmiko misalnya.

2. Dekonstruksi Warna

Dekonstruksi warna adalah hal penting. Selama ini, masyarakat kadung mengangngap bahwa merah adalah abangan (PDI), kuning birokrat (Golkar) dan hijau adalah Santri (partai Islam). Ajaran Clifford Geerts ini sudah saatnya di-recycle bin- kan . Jika sekarang kita lihat background bendera PKS kuning, maka ke depan PKS berkampanye dengan warna background bendera merah, hijau bahkan biru sekalian. Inilah partai lintas warna, yang tidak menjadikan warna bendera sebagai sumber konflik, tapi kita ingin merekatkan seluruh elemen bangsa.

3. Iklan Politik

Termasuk juga Iklan Politik yang menampilkan berbagai tokoh bangsa, termasuk di dalamnya Soeharto. Banyak kontroversi memang, tapi lihatlah sirah. Disana ada Rasul yang tetap memberlakukan hubungan kerjasama kaum Anshar dengan Yahudi, pasca hijrah dari Mekkah. Padahal salah satu dari dua makhluk yang dilaknat Allah dalam Qur'an adalah Firaun dan Yahudi. Seburuk-buruk Soeharto dia bukan Yahudi, ia adalah seorang muslim dan setidaknya melafalkan kalimat la ila ha illa allah di akhir hayatnya.

Lalu, setelah image terbuka, what next?

Ibarat sebuah bejana, maka adanya iklan dan pemberian award adalah sarana untuk memperluas corong bejana tersebut agar bisa menjadi jalan masuk bagi cucuran air yang menderas nantinya. Sedangkan untuk menampung cucuran air itu di butuhkan perluasan penampang bejana.

Maka strategi kedua adalah serangan darat berupa direct selling wajib bagi kader minimal 20 orang, kaos-isasi, stikerisasi, baksos dan kegiatan simpatik lainnya.

Sementara itu, krisis ekonomi global sekarang ini nyatanya membawa banyak manfaat bagi PKS. Bisa kita lihat, bagaimana donator utama Golkar; Abu Rizal Bakrie berkurang drastis kekayaanya dari nomor satu se-Indonesai menjadi nomer 8. Sutrisno Bachir yang belakangan ini selalu menggembor-gemborkan "hidup adalah perbuatan" kini tak bisa berbuat apa-apa lagi di media. Artinya, start dana PKS tidak begitu jauh lagi seperti pemilu 2004.

Maka, kini saatnya menunjukkan kualitas SDM yang dimiliki PKS. Dengan jumlah kader yang sekarang mencapai hampir satu juta (950.000), dengan asumsi setiap kader bisa merekrut 20 orang-- disamping variabel lainnya-- target 20 persen insyaalah bisa terlaksana.

Seputar FKP

Sementara ikhwan lain sibuk dengan amalnya, masih ada kader yang sibuk jadi filosof dakwah. Itulah FKP. Beragamnya motivasi awal pendirian forum ini menunjukan bahwa mereka tidak berangkat dari idealisme yang sama, hanya berdasar semangat mengkritik belaka. Nampak sekali ketika mereka menuntut hizb kembali ke asholah, sementara dalam gerak protesnya, jauh lebih banyak asholah yang dilanggar. Salah satu asholah yang mereka langgar sendiri adalah adab mengkritik dan ketaatan. Point ini yang akan dibahas.

Adalah Abu Dzar al-Ghifari, seorang sahabat senior yang getol mengkritik gubernur-gubernur agar meningalkan kekayaannya untuk masyarakat miskin sejak zaman khalifah Umar bin Khattab. Ia berpindah dari satu propinsi ke propinsi lain menggalang dukungan akar rumput. Sampai suatu ketika ada pengikutnya yang berkata: "marikita mari kita lawan saja khalifah dengan masa kita". Namun Abu Dzar tak setuju. Ia adalah sahabat yang tahu kaidah ketaatan pada kiyadah.

Sampai pada masa khalifah Utsman, dengan kondisi ia telah membuat gerakan yang merisaukan umat, khalifah memerintahkan ia untuk pergi mengasingkan diri ke padang pasir, sang Abu Dzar pun mentaatinya. Sampai ia meninggal dengan keadaan menyedihkan di padang pasir didampaingi istrinya. Sementara tidak ada sahabat yang tahu, hingga ada kafilah yang melewati padang pasir itu, barulah sahabat tahu bahwa Abu Dzar sudah meninggal.

Point yang bisa kita ambil adalah, sejauh apapun kita mengkritik kiyadah, tidak serta merta menjadikan kita berkurang ketaatan pada kiyadah tersebut. Saluran kritikpun sudah tersedia, tinggal datang ke orang yang bersangkutan. Yang disayangkan, salah satu agenda yang diusung FKP adalah sampai pada tahap pencopotan mas'ul dakwah. Sebuah hal yang sama sekali jauh dari ketaatan.

Seperti layaknya PKS watch, mungkin contens yang disampaikan benar secara dalil tapi secara konteks amat tidak relevan. Simaklah kisah ketika Rasul sedang sibuk mebagikan ghanimah, datang seorang badui yang menasehati Rasulullah :" ittaqu allaha ya rasul" taatlah pada Allah ya Rasul..seolah Rasul sedang bebuat tidak adil. Maka seketika itu Rasul bersabda:

"Niscaya dari tulang Sulbi oran g Baduai ini akan lahir seorang pengkhianat Islam."

Dan benarlah, dari keturunan siBadui ini lahirlah al-Hajjaj, seorang penguasa di Irak yang sangat kejam.

Seperti Inilah yang dilakaun PKS Watch, mengkriktik dengan balutan dalil, namun dalam konteks yang tidak tepat. Berusaha menggiring opini public bahwa apa yang ia sampiakan adalah kenayataan yang dihadapi para ustadz yang dikritik. Akhirnya Yang ada hanya kontra produktif, hingga memperluas rasa sakit hati.

Bicara PKS, Bicara Harapan Peradaban Dunia..

Kini, saatnya bicara yang lebih prospektif. Dikatakan bahwa PKS hanyalah setetes air di tengah lautan bangsa Indoneisa. PKS tidak mugkin bisa mengelola negeri ini sendirian. PKS ingin merangkaul semua pihak yang benar-benar ingin membangun bangsa ini.
Cita-cita PKS adalah membangun negara Indonesia yg madani, adil, sejahtera dan bermartabat yg diridhai oleh Allah SWT. PKS ternyata memiliki cita-cita yg jauh lebih besar dari sekedar menjadikan Indonesia negara yg madani tadi. PKS ingin menjadikan Indonesia sebagai soko guru peradaban dunia.
Indonesia menjadi tumpuan harapan besar umat Islam di seluruh dunia. Mereka membutuhkan sosok pemimpin dunia, dan mereka mengharapkan Indonesialah yg menjadi pemimpin dunia itu. Setidaknya itulah yg disampaikan oleh Dr. Yusuf al Qaradhawy, seorang ulama kaliber global yg menjabat sebagai Ketua Ulama Internasional dan Dewan Fatwa Ulama Eropa. Itulah sedikit gambaran harapan besar itu.

Cita-cita besar PKS untuk menjadikan Indonesia sebagai soko guru peradaban dunia bukanlah omong kosong. PKS membangun partainya menjadi partai yg punya kualifikasi dan standar global. Bahkan PKS memperluas jaringannya ke Partai Buruh Australia , Partai Komunis China , dan Turki. PKS telah bekerja sama dgn 3 elemen ini yg secara regional mewakili benua Australia , Asia dan Eropa. Sepertinya PKS ingin mengatakan, lawan kami sekarang bukan lagi Indonesia , lawan kami sekarang adalah dunia.
Itulah beberapa kiprah PKS untuk mencapai cita-cita besarnya. Dan cita-cita besar itu tidaklah akan tercapai tanpa ada pondasi yg kuat. Pondasi itu adalah negara yg kuat (strong state). Karenanyalah PKS bertekad membangun Indonesia menjadi negara yg kuat dan disegani di mata internasional. Dan PKS sangat menyadari ia tidak bisa merealisasikannya sendiri tanpa peran serta seluruh elemen bangsa ini.

Ini lebih prioritas dilakukan saat ini dalam bingkai nation-state. Prioritas di masa mendatang bisa berbeda, karena nation state sendiri kini sedang mengalami taruhan eksistensi. Masihkah nation state relevan untuk zaman sekarang? Seperti yang dipaparkan Kenichi Ohmae tentang " The End of Nation State" dan sebuah "Bonderless World."

Khatimah

Sebenarnya, yang sekarang kita butuhkan bukan politik partai, tapi politik negara. Bagaimana mengelola negara ini, itulah concern PKS saat ini. Dan PKS akan merangkul seluruh elemen bangsa untuk bekerja sama mengelola negara tanpa memandang sekat-sekat primordial seperti ideologi, agama, ras, suku, dll.

Bagaimanapun, kita (bangsa Indonesia ) membutuhkan narasi baru, suatu ide baru, suatu cita-cita baru yangg melampaui wilayah republik ini, jika kita ingin menjadi kiblat peradaban dunia.

"Mudah-mudahan di tangan kita semuanya... Di tangan-tangan yg setiap hari berwudhu' dan bersuci ini... Dan di depan wajah-wajah yg setiap hari bersujud ini... Mudah-mudahan Allah mengubah Indonesia menjadi qiblat peradaban dunia..."


Kepada Siapa Yang Tak Kenal Syeikh Yusuf Al-Qardhawi

Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi, keluarganya, para shahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:

Para pembaca yang dirahmati Allah Ta'alaa:

Siapa tidak kenal Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, seorang ulama besar yang dikenal kerap memunculkan fatwa-fatwa yang kontroversi, baru- baru ini keluar fatwa bahwa keberhasilan Qatar menjadi tuan rumah piala dunia 2022 merupakan kemenangan Islam, dan sebelumnya berfatwa bahwa penjajahan Rusia ke atas kaukakus boleh dan menganggap para mujahidin disana sebagai penjahat pembuat kerusakan, namun oleh sebagian pengikutnya yang fanatik dianggap sebagai ulama besar dan mungkin mujtahid dan mujahid.

Sebagian orang fanatik dengan fatwa-fatwanya dan seolah beliau tidak pernah melakukan kesalahan, bahkan masalah yang jelas dalam syariat dilarang dengan kepandaiannya berdalil seolah menjadi benar.

Disini kami ingin menyampaikan beberapa kesalahan dalam fatwa beliau, mudah-mudahan mereka yang fanatic bisa berpikir dengan jernih dan tidak mengkultuskan beliau sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.

Kami disini tidak bermaksud membenci beliau atau menjatuhkan kedudukannya sebagai seorang ulama, tapi kebenaran dari Allah Ta’ala tetaplah diatas segalanya.

Beberapa penyelisihan Syeikh Yusuf Al-Qardhawi kepada syariat Islam:

1- Figur yang mempengaruhi kepribadian Syeikh Yusuf Al-Qardhawi: Beliau berkata dalam sebuah konferensi pers dengan surat kabar Amerika Davis (disiarkan dalam sebuah buku dengan judul Islam dan barat):

Saya tumbuh disebuah sekolah yang berkhidmat kepada Islam – beliau mengklaim – bahwa sekolah ini dipimpin oleh seorang yang bersikap moderat dalam pemikiran, pergerakan, dan pergaulannya, yaitu Imam Syahid Hasan Albana dimana beliau sendiri adalah satu umat dari sisi ini, dimana beliau bermuamalah dengan seluruh manusia hingga sebagian penasihatnya adalah penganut kristen qibti dan memasukkan mereka dalam panitia politik dan menemani beliau dalam muktamar-muktamar dan berpendapat perlunya pendekatan dengan syi’ah).

2- Dakwah Syeikh Yusuf Al-Qardhawi untuk mencintai Ahlu Kitab dalam bukunya (Al-Halal wa Al-Haram).

3- Dakwah Syeikh Yusuf Al-Qardhawi untuk mendekatkan antara agama-agama:

Beliau berkata: (sungguh secara pribadi saya telah menyerukan dialog seperti ini dalam buku saya (Auliyat Al-Harakah Al-Islamiyah) saya menyerukan dialog dengan barat dan dialog dalam tingkatan agama dengan pemuka agama termasuk kardinal, uskup dan para pendeta….sebagaimana yang diusahakan oleh Hasan At-Turabi – sampai beliau berkata: - saya yakin dialog pada tingkatan agama, pemikiran dan politik seperti ini adalah dialog yang bermanfaat, dapat menghilangkan kebanyakan kebuntuan atau buruk sangka terhadap yang lain.

Saudara pembaca, bahwa dialog dan muktamar yang dihadiri oleh Syeikh Yusuf Qardhawi tujuannya bukan supaya orang yahudi dan kristen meninggalkan agama mereka dan mereka menerima Islam, bukan , hal ini tidak ada sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Yusuf Al-Qardhawi dalam ucapannya: (kami berdialog dan setiap dari kami berpegang teguh dengan prinsipnya) diambil dari bukunya (Islam dan barat).

4- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi mengklaim bahwa jihad hanya defensive saja.

5- Syeikh Yusuf Al- Qardhawi tidak menganggap memerangi Yahudi karena akidah:

Beliau berkata: (jihad kita terhadap yahudi bukan karena mereka yahudi, sebagian ikhwah yang menulis dalam permasalahan ini dan membahas tentangnya menganggap bahwa kita memerangi yahudi karena mereka yahudi dan kami tidak sependapat, karena kami tidak memerangi yahudi karena akidah namun kami memerangi mereka karena tanah, kami tidak memerangi orang kafir karena mereka kafir tapi kami memerangi mereka karena mereka merampas tanah dan rumah kami dan mengambilnya tanpa alasan yang benar.

6- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menganggap bahwa tanah lebih mahal dari akidah.

7- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi berpendapat bahwa kemajemukan agama untuk kebaikan manusia:

Beliau berkata: (tidak ada masalah dengan berbagai agama dan peradaban dan budaya dan hendaklah hubungan diantara mereka hubungan dialog bukan hubungan konflik) (sumber yang sama).

8- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi tidak mendoakan keburukan untuk orang Nasrani:

Dalam sebuah perjumpaan dengan surat kabar Qatar Al-Wathan: beliau mengatakan: (saya dalam masjid berdoa untuk orang-orang Nasrani dan berkata: Ya Allah binasakan orang kristen Serbia yang membawa ruh salibis, saya tidak mendoakan kebinasaan kepada orang nasrani secara umum).

9- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi berpendapat bahwa demokrasi adalah Syura:

Beliau berkata: (Demokrasi didalamnya terdapat jaminan kebebasan dan metode untuk menghancurkan para penguasa yang zalim, dan itu politik syar’ie yang memiliki pintu yang lebar dalam fikih Islam, maka Syura dan demokrasi ibarat uang logam yang memiliki dua sisi) (surat kabar Asy-Syarq edisi: 2719).

10- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menyerukan untuk mencalonkan wanita sebagai anggota dewan:

Beliau berkata: (saya berpendapat bahwa tidak ada halangan seorang wanita menjadi anggota dewan perwakilan rakyat dalam parlemen sebagaimana mereka berhak ikut dalam memilih anggota dewan ini) (surat kabar Al-Wathan edisi: 49).

11- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi memuji Israel:

Beliau berkata: (bangsa Arab dulu menggantungkan harapannya kepada kemenangan Perez dan Perez telah jatuh dan ini yang dipuji untuk Israel, kita berangan Negara kita seperti Negara ini karena adanya kelompok kecil satu orang jatuh dan rakyat yang berkuasa, ….. seandainya Allah menampakkan dirinya pada manusia pasti tidak mendapatkan nisbat seperti ini, kita mengucapkan selamat kepada Israel atas apa yang dilakukannya). (rekaman suara).

Syeikh Utsaimin rahimahullah ditanya tentang perkataan Al-Qardhawi: seandainya Allah …

Maka beliau menjawab: (kita berlindung kepada Allah, ini wajib atasnya untuk bertaubat kalau tidak maka dia murtad karena menjadikan makhluk lebih tinggi dari Sang Pencipta, maka dia harus bertaubat kepada Allah, jika dia bertaubat maka Allah akan menerimanya, jika tidak maka dwajib atas penguasa muslim untuk menebas lehernya) (rekaman suara).

12- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi berpendapat perpecahan dan kelompok merupakan jaminan keamanan:

Beliau berkata: (bahwa kemajemukan ini terkadang menjadi keharusan di zaman ini karena mewakili jaminan keamanan dari kekuasaan individu atau kelompok tertentu dan kekuasaan mereka atas seluruh manusia)(surat kabar Ar-rayah edisi: 4721).

13- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi dan sikapnya terhadap pemahaman Salaf terhadap Al-Qur’an:

Beliau berkata dalam bukunya (Bagaimana kita berinteraksi dengan Al-Qur’an hal:19): tidak sepatutnya kita menerapkan atasnya pemikiran atau pemahaman zaman tertentu).

14- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi berpendapat bahwa bantahan terhadap para pentakwil sifat-sifat Allah dan para pengingkarnya melemahkan barisan umat dan menguatkan para musuh:

Beliau berkata dalam bukunya (Wujud Allah hal 6): peperangan kita bukanlah dengan mereka yang mentakwilkan sifat-sifat Allah Ta’alaa tetapi dengan yang mengingkari Allah secara keseluruhan, dan segala macam upaya untuk merubah peperangan ini dari garis yang ada dianggap sebagai pelemahan terhadap barisan dan lari dari pertempuran dan menguatkan musuh.

15- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menuduh ulama umat Islam jumud dan kaku dan menganggap sejumlah para penulis dan pengikut akal dan ahli bid’ah sebagai orang jenius:

Beliau berkata dalam bukunya (Al-Ijtihad dalam Syariah Islam hal:47): kami melihat hari ini beberapa ulama yang kaku terhadap nas-nas yang dengan itu berfatwa kepada umat – mengeluarkan zakat fitri dari makanan pokok negeri – dan melarang sama sekali mengeluarkan zakat dengan sejumlah uang.

16- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi dan hari-hari raya bid’ah:

Beliau berkata dalam surat kabar Ar-Rayah edisi 597: (perayaan hari kelahiran saya tidak mengatakannya haram akan tetapi semacam taklid buta kepada orang barat dalam adat kebiasaan mereka).

Para pembaca, saya kira ada pertentangan dalam ucapan yaitu Syeikh Qardhawi tidak mengharamkan perayaan dengan hari raya tersebut, tetapi hanya termasuk taklid buta kepada barat oleh itu bisa jadi beliau tidak menganggap taklid kepada orang kafir tidak haram.

17- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menghadiri perayaan memperingati kematian Khomeini: surat kabar Qatar Asy-Syarq tanggal 17/1/1417H: (perayaan tersebut dihadiri oleh para tamu termasuk Syeikh Qardhawi).

18- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi dan seruannya kepada pendekatan antara sunah dan syi’ah:

Beliau menyampaikan kuliah dalam perkumpulan para alumni (surat kabar Akhbarul Al-Khalij tanggal 20/9/1998): Beliau mengisyaratkan kepada sikap Islam dan toleransinya terhadap mazhab-mazhab suni dan lainnya termasuk syi’ah, zaidiyah dan ibadhiyah dan berkata: kami tidak merasa sempit dengan perbedaan mazhab sebagaimana islam tidak merasa sempit dengan perbedaan agama karena perbedaan merupakan keharusan terutama dalam masalah furu sebagian permasalahan dan dalam sebagian furu’ akidah karena perkara asasnya – alhamdulillah – disepakati maka kita semua adalah penganut agama satu dan kiblat yang satu, bisa jadi perbedaannya seputar perkara yang berkaitan dengan perbuatan hamba dan tanggung jawab mereka atas perbuatan mereka, dan permasalahan ma’sumnya para imam disisi syi’ah dan imamiyah secara dzatnya pemahaman furu’ dalam akidah tetapi tetap saja dasar-dasarnya disepakati bersama maka tidak mengapa ada perbedaan seperti ini karena perbedaannya dalam masalah furu’ dan bisa dikumpulkan semuanya di atas satu makna.

19- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menghalalkan nyanyian (kitab Al-Halal wa Al-Haram hal 391).

20- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menghalalkan hadir dalam acara yang dihidangkan disana minuman keras:

(Beliau berpendapat bahwa setiap perkara pada dasarnya seorang pengundang dalam acara seperti ini hendaklah menghormati kekhususan kaum muslimin dengan menjauhkan mereka dari setiap yang diharamkan dalam agama mereka, tetapi jika itu sulit maka keperluan dapat membolehkan hal yang diharamkan seperti ini).

21- Syeikh Yusuf Al-Qardhawi mengizinkan putrinya kuliah di universitas barat yang ikhtilat.

Penentangan ini diambil dari kitab; (Raf’ul Litsam ‘an Mukhalafatil Al-Qardhawi li Syari’atil Islam) pengarang: Ahmad bin Muhammad Al’Udaini.

Wallahu A"lam bishowab:

(ar/voa-islam.com)

Garis

Seekor kuda unggulan jenis Lusiano tampak berlari santai menelusuri jalan setapak. Postur tubuhnya yang tegap dan langsing menjadikannya begitu ringan dan mantap ketika berlari. Nyaris, tak satu pun hewan di kawasan hutan lindung itu yang mampu menandingi larinya.

Setiap kali ada kuda-kuda lain yang tampak berlari, Lusiano selalu memacu larinya untuk bisa sejajar. Ia pun menoleh ke arah kuda itu dan mengajaknya untuk berlomba. Tapi, tak satu pun yang tertarik. Soalnya, ujungnya selalu sama: kalah.

Yang menyakitkan dari kekalahan oleh Lusiano, bukan pada kalahnya. Tapi, dari kesombongan Lusiano yang begitu menyakitkan lawan. ”Payah, lari kok mundur!” ucap Lusiano sambil tertawa.

Suatu kali, Lusiano melalui seekor kuda tua yang tampak berlari lambat dari arah yang berlawanan. Ia pun menghentikan larinya ketika Lusiano tiba-tiba memalangi jalan dengan tubuhnya yang tegap.

”Ada apa, Lusiano?” ucap si kuda tua dengan tetap menampakkan wajah tenang.

”Hei, Kakek. Apa kau tahu di mana tempat yang menarik kukunjungi? Aku sedang mencari lawan tanding yang sepadan?” ungkap Lusiano masih dengan penampilan sombongnya.

”Oh itu,” ujar sang kuda tua. ”Kamu bisa berlari ke arah utara, di sana akan ada tempat yang menarik untuk berlomba dengan siapa pun yang kau suka,” jawab sang kuda tua sambil kemudian berlalu meninggalkan Lusiano yang masih tampak bingung.

”Apa masih jauh?” ucap Lusiano.

”Bagiku jauh sekali, Lusiano. Entah menurutmu?” kata-kata pancingan itu kian membangkitkan kesombongan Lusiano untuk sesegera mungkin tiba di tempat itu. Dan ia pun memacu larinya menuju tempat yang disebut si kuda tua.

Lusiano berlari dan terus berlari. Hingga, ia menemukan sebuah tempat yang baru kali ini ia jumpai. Sebuah tepian pantai yang begitu landai. Sepanjang mata memandang, hanya ada sebuah garis lurus yang memisahkan bumi dan langit.

Lusiano tampak bingung dengan tempat itu. Tak satu pun kuda yang ia harapkan muncul di tempat itu. Dan pandangannya pun hanyut dalam garis lurus yang tak bertepi itu.

”Ah, betapa kecilnya aku. Ternyata, tak ada yang tinggi di bumi ini, kecuali langit di atas sana,” gumam Lusiano sambil terus menatap garis lurus itu.

**
Ketika seseorang memandang suatu yang sangat tinggi dalam dirinya, bahkan melampaui orang-orang di sekitarnya; sebenarnya ia sedang memandang dunia dari sisi yang teramat sempit.

Betapa kecilnya bumi dan dunia ini jika khazanah alam raya menjadi pembandingnya. Saat itu, siapa pun dan bagaimana pun kelebihan dan keunggulannya, akan menemukan bahwa dirinya tak lebih dari sebuah titik yang terlihat samar.

Template by:

Free Blog Templates