Do'a dan Optimisme
Kalau sekiranya Kita tanyakan kepada seseorang, “ anda optimis ? ” terhadap sebuah objek kehidupan, maka seketika itu juga jawabannya akan beragam. Ada yang mungkin akan menjawab “saya optimis”, “saya tak terlalu optimis”, atau sama sekali “saya tidak optimis”. Namun, ketika ditanyakan “apa itu optimisme?”, maka tak semua orang bisa merumuskan jawabannya dalam sebuah kalimat. Yang nyata, hanya bisa dirasakan maknanya dengan tepat di dalam hati, tapi tak dapat dirumuskan dalam sebuah alur kalimat.
Sudah jamak dalam kehidupan manusia, bahwa manusia itu punya harapan dan keyakinan. Keselarasan antara sebuah harapan dan keyakinan akan tercapainya harapan tersebut, itulah yang dinamakan dengan optimisme.
Namun, sudah jamak pula dalam kehidupan manusia, selalu punya gelombang. Tak selamanya harapan dan keyakinan itu selaras. Sebab, manusia juga ditakdirkan punya naluri cemas. Kecemasan inilah yang mempengaruhi tinggi rendahnya optimisme. Ketika kecemasan mengecil, pada saat itulah optimisme meningkat. Demikian pula sebaliknya.
“Suka atau tidak suka, kehidupan manusia mengandung konsekuensi. Manusia mengalami penderitaan, kesedihan, dan kegagalan, sebagaimana ia juga akan mengalami kegembiraan, prestasi, dan keberhasilan”
(Quraish Shihab dalam makalahnya Amalan Keagamaan Sehari-hari, 1997).
Tak dipungkiri, banyak kepedihan yang bisa diatasi dengan upaya yang bersungguh-sungguh. Namun, beberapa (atau mungkin banyak) peristiwa di dalam hidup tak selalu demikian, ia tak bisa diatasi dengan upaya yang bagaimanapun, kecuali dengan bantuan Allah Yang Maha Kuasa. Nah, pada titik inilah posisi do’a menjadi sebuah kemestian.
Hanya saja kemudian, tak pula semua manusia itu yakin bahwa do’anya akan dikabulkan, disinilah letak persoalannya.
Dalam perspektif ideologi Islam, Allah Swt. pernah berjanji,
“Berdo’alah kepada-Ku, maka pasti akan Aku kabulkan”.
Janji Allah ini tentu tidak main-main. Janji ini bukan janji manusia, yang kadang kala mungkir. Janji ini adalah janji yang pasti ditepati. Lalu, mengapakah manusia banyak yang merasa bahwa do’anya tak dikabulkan Tuhan? Pada tahap inilah pentingnya sebuah kesadaran.
Sadar artinya adalah pengetahuan akan realitas dan penerimaan.
Sadar bahwa “perspektif” Allah itu tidaklah sama dengan perspektif manusia.
Allah itu jauh lebih tahu, jauh lebih bijak di atas segalanya yang ada di langit dan di bumi, ataupun yang ada di antaranya. Oleh karena itu, Quraish Shihab mengatakan, bahwa menurut sementara ulama, do’a akan dikabulkan dalam tiga cara;
pertama, dikabulkan sesuai dengan permintaannya.
Kedua, dikabulkan dengan menggantinya dengan sesuatu yang lain yang lebih bermanfaat bagi si pemohon.
Ketiga, ditangguhkan pada hari kemudian, untuk diberi ganjarannya.
Dari pendapat ulama tersebut, dapat ditarik kesimpulan, bahwa Allah tidak pernah tidak mengabulkan sebuah do’a. Pengabulan itu hanya soal “kapan” dan “bagaimana caranya” saja.
Allah sangat tahu “kapan” dan “bagaimana caranya” mengabulkan, dimana “kapan” dan “bagaimana cara” Allah mengabulkan itu tidaklah selalu sama dengan “kapan” dan “bagamana caranya” manusia minta dikabulkan.
Keputusan “kapan” dan “bagaimana cara” Allah mengabulkan itu adalah yang paling tepat dan jitu. Sebab, dalam posisi ini, Allah mengetahui yang terdahulu dan terkemudian, Allah mengetahui semua yang telah terjadi dan semua yang belum terjadi. Sekali lagi, inilah yang dinamakan kesadaran.
Sebagai motivasi bagi kita adalah, bahwa Iblis saja yang durhaka dan jelas-jelas menentang-Nya – artinya, dalam posisi ini Iblis penuh bergelimang dosa – dikabulkan do’anya ketika ia meminta untuk dipanjangkan umurnya hingga kiamat tiba.
Oleh sebab itu, penting dalam berdo’a itu dalam posisi tulus dan posisi yakin. Kombinasi dua posisi ini yang akan senantiasa menghidupkan dan mengembangkan harapan. Harapan yang tak pernah mati itulah cikal bakal lahirnya optimisme. Dan, tak syak lagi, optimisme sangat baik dampaknya bagi kehidupan manusia.
Sabtu, 15 Januari 2011
Jumat, 14 Januari 2011
Perbedaan Antara Pendidikan Dan Pengajaran

Pengajaran dan pendidikan atau dalam bahasa arabnya taalim dan tarbiah adalah dua perkara penting di dalam membina manusia. Pengajaran dan pendidikan adalah dua perkara yang berbeda tetapi banyak orang yang tidak faham tentang kedua perkara ini.
Pengajaran khusus ditujukan pada akal. Oleh karena itu mudah dan straight forward. Sedangkan pendidikan adalah pembinaan insan yang tidak saja melibatkan perkara fisik dan mental tetapi juga hati dan nafsu karena sesungguhnya yang dididik adalah hati dan nafsu. Oleh karena itu pendidikan lebih rumit dan susah. Kedua perkara ini harus kita fahami benar dalam membina insan. Keduanya diperlukan dalam pembinaan pribadi agar pandai berbakti pada Tuhan dan pada sesama manusia.
Pengajaran adalah proses belajar atau proses menuntut ilmu. Ada dosen, guru, ustadz yang mengajar atau menyampaikan ilmu kepada murid yang belajar. Hasilnya murid menjadi pandai, dan berilmu pengetahuan (‘alim). Pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai. Di dalam pendidikan terdapat proses pemahaman, penghayatan, penjiwaan, dan pengamalan. Ilmu yang telah diperoleh terutama ilmu agama dicoba untuk difahami dan di hayati hingga tertanam dalam hati dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain pendidikan menyangkut tentang akhlak.
Pendidikan antara lain adalah memperkenalkan Tuhan kepada manusia. Membersihkan hati insan dari sifat-sifat keji (mazmumah) dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji (mahmudah). Pendidikan juga adalah mengembalikan hati nurani manusia kepada keadaan fitrah yang suci dan bersih. Nafsu perlu dikendalikan supaya tidak cenderung kepada kejahatan dan maksiat tetapi cenderung kepada kebaikan dan ibadah.
Namun, kita tidak bisa mendidik saja tanpa memberi ilmu, dan begitu juga sebaliknya, kita tidak bisa memberi ilmu saja tanpa mendidik. Pengajaran tanpa pendidikan akan menghasilkan masyarakat yang pandai tetapi rusak akhlaknya atau jahat. Masyarakat akan maju di berbagai bidang dan kemewahan timbul dimana-mana tetapi akan timbul hasad dengki dimana-mana karena jiwa tiap insannya tidak hidup. Manusia menjadi individual, tidak berkasih sayang, dan kemanusiaan musnah. Manusia berubah identitas. Fisiknya saja manusia tetapi perangainya seperti setan dan hewan.
Sebaliknya mendidik saja tanpa memberi ilmu akan menghasilkan individu yang baik tetapi tidak berguna di tengah masyarakat. Mendidik tanpa ilmu menyebabkan insan mempunyai jiwa yang hidup tetapi tidak ada ilmu untuk dijadikan panduan.
Tetapi perlu dipahami bahwa tidak semua orang mampu mendidik. Ada orang yang berilmu banyak tetapi tidak mampu mendidik tetapi ada juga orang yang berilmu sedikit tetapi dapat mendidik. Karena peranan pengajaran ilmu hanya sedikit saja sedangkan selebihnya adalah peranan pendidikan.
Manusia menjadi jahat bukan karena tidak tahu ilmu. Jumlah orang bodoh yang jahat hampir sama dengan jumlah orang pandai yang jahat juga. Bahkan orang pandai yang jahat lebih jahat dari pada orang bodoh yang jahat, karena orang yang pandai menggunakan kelebihan akal atau ilmunya untuk kejahatan. Manusia menjadi jahat adalah karena proses pendidikannya tidak tepat sehingga jiwanya tidak hidup.
Dalam mencari ilmu, seseorang bisa belajar dari beberapa guru karena hanya ilmu yang kita pelajari. Tetapi, dalam mendidik atau mencari pendidik, tidak bisa ada lebih dari seorang pendidik. Pendidik yang sesungguhnya adalah pemimpin, model, sekaligus contoh untuk diikuti. Kalau ada banyak pendidik maka ibarat seperti masakan yang dimasak oleh beberapa koki. Dia akan jadi rusak. “ Too many cooks spoil the brook”.
Kemudian dilihat dari segi ilmunya, tidak semua ilmu mempunyai nilai pendidikan. Ilmu agama khususnya ilmu fardlu ‘ain seperti ilmu mengenal Tuhan memang untuk mendidik. Sedangkan kebanyakan ilmu akademik seperti matematika, perdagangan, sejarah, ilmu alam dan lain-lain tidak dapat untuk mendidik dan sekedar untuk mengajar saja. Meskipun begitu, jika proses pendidikan berjalan dengan benar sehingga jiwa Tauhid hadir pada diri seseorang maka ilmu-ilmu akademik akan menambah keyakinannya dan akan menjadikannya semakin melihat betapa berkuasa dan Maha Hebatnya Tuhan.. Sebaliknya, bagi pelajar-pelajar yang kosong jiwanya dari mengenal Tuhan, ilmu-ilmu tersebut hanya akan melalaikan mereka karena mereka tidak mampu mengaitkan apa yang mereka pelajari dengan Tuhan.
Dalam suatu proses membangun dan membina manusia, pengajaran dan pendidikan adalah perkara wajib. Namun pendidikanlah yang lebih diutamakan karena jika pendidikan tidak diutamakan maka akan terbangun masyarakat yang rusak dan merusakkan. Manusia akan menjadi musuh kepada manusia yang lain dan kepada Tuhannya.Didiklah manusia lebih dahulu sebelum mengajar mereka hingga pandai. Jadikan mereka berakhlak sebelum menjadikan mereka berilmu. Kenalkan Tuhan lebih dahulu sebelum mengenalkan alam semesta beserta ciptaanNya yang lain. Jadikan mereka sebagai hamba-hamba ALLAH lebih dahulu sebelum menjadikan mereka sebagai khalifahNya.
http://kawansejati.ee.itb.ac.id/perbedaan-antara-pendidikan-dan-pengajaran
PERSAHABATAN

Persahabatan adalah tempat kita mendapatkan tangan Allah yang melayani, mendorong semangat, memberi dan mendukung. Nah, anda perlu mengetahui empat hal tentang persahabatan sejati. Yaitu:
* Sahabat bukanlah yang paling bagus tapi yang paling penting!
Tidak ada pengganti bagi seorang sahabat yakni seseorang yang memperhatikan, mendengarkan, merasakan, menghibur dan seringkali juga memarahi.Sahabat sejatilah yang paling baik dalam melakukan hal-hal ini.
* Sahabat tidak diperoleh secara otomatis tapi harus dipelihara.
Seseorang harus menjaga persahabatannya dengan perbaikan yang terus-menerus.Sama seperti pohon-pohon, persahabatan perlu dipelihara.
* Sahabat tidak bersifat netral tapi justru mempengaruhi kehidupan kita.
Jika sahabat anda menjalani kehidupan yang baik, mereka akan mendorong anda menjadi orang yang lebih baik. Jika sahabat anda menjalani kehidupan yang jelek mereka akan memimpin anda menuruni jejak jalan yang sama atau bahkan lebih buruk. So...Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik!! Jadi pilihlah sahabat anda dengan hati-hati dan berhikmat. Anda ingin berhikmat? Pilihlah sahabat-sahabat yang berhikmat!!!
* Persahabatan datang dalam jenjang bervariasi.
Ada yang namannya kenalan. KENALAN adalah orang yang dengan mereka kita memiliki hubungan tidak teratur dan interaksi yg dangkal. Biasanya just say hello ...apa kabar?...baik, baik, bagus...(padahal sebenarnya keadaan anda sedang tidak baik.Tapi sulit untuk diberitahukan karena hanyalah seorang kenalan). SAHABAT BIASA adalah orang yg dgn mereka, kita lebih banyak berhubungan dan miliki banyak persamaan, melakukan percakapan yang terperinci bahkan meminta pendapat namun masih ada jarak yang aman di antara kita. SAHABAT DEKAT adalah orang yg dgn mereka, kita membagi tujuan hidup yg sama dan dgn mereka kita mendiskusikan masalah-masalah yg sulit bahkan bisa pula berlibur bersama. SAHABAT KARIB adalah hanya beberapa orang yg dgn mereka kita memiliki hubungan yg teratur dan komitmen yg mendalam. Sahabat karib bebas untuk mengkritik, mengoreksi dan juga mendorong semangat karena kepercayaan dan kebersamaan yg telah dibangun di antara kita.
So...mereka yg tidak memiliki sahabat karib pastilah merupakan orang yg paling kesepian di dunia ini.
***************
Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri.
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya…
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.
Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
Ingatlah kapan terakhir kali kamu berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping kamu ?? Siapa yang mengasihi kamu saat kamu merasa tidak dicintai ?? Siapa yang ingin bersama kamu saat kamu tak bisa memberikan apa-apa ??
MEREKALAH SAHABATMU
Hargai dan peliharalah selalu persahabatanmu
http://www.fenomena-cinta.co.cc/search/label/Persahabatan
* Sahabat bukanlah yang paling bagus tapi yang paling penting!
Tidak ada pengganti bagi seorang sahabat yakni seseorang yang memperhatikan, mendengarkan, merasakan, menghibur dan seringkali juga memarahi.Sahabat sejatilah yang paling baik dalam melakukan hal-hal ini.
* Sahabat tidak diperoleh secara otomatis tapi harus dipelihara.
Seseorang harus menjaga persahabatannya dengan perbaikan yang terus-menerus.Sama seperti pohon-pohon, persahabatan perlu dipelihara.
* Sahabat tidak bersifat netral tapi justru mempengaruhi kehidupan kita.
Jika sahabat anda menjalani kehidupan yang baik, mereka akan mendorong anda menjadi orang yang lebih baik. Jika sahabat anda menjalani kehidupan yang jelek mereka akan memimpin anda menuruni jejak jalan yang sama atau bahkan lebih buruk. So...Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik!! Jadi pilihlah sahabat anda dengan hati-hati dan berhikmat. Anda ingin berhikmat? Pilihlah sahabat-sahabat yang berhikmat!!!
* Persahabatan datang dalam jenjang bervariasi.
Ada yang namannya kenalan. KENALAN adalah orang yang dengan mereka kita memiliki hubungan tidak teratur dan interaksi yg dangkal. Biasanya just say hello ...apa kabar?...baik, baik, bagus...(padahal sebenarnya keadaan anda sedang tidak baik.Tapi sulit untuk diberitahukan karena hanyalah seorang kenalan). SAHABAT BIASA adalah orang yg dgn mereka, kita lebih banyak berhubungan dan miliki banyak persamaan, melakukan percakapan yang terperinci bahkan meminta pendapat namun masih ada jarak yang aman di antara kita. SAHABAT DEKAT adalah orang yg dgn mereka, kita membagi tujuan hidup yg sama dan dgn mereka kita mendiskusikan masalah-masalah yg sulit bahkan bisa pula berlibur bersama. SAHABAT KARIB adalah hanya beberapa orang yg dgn mereka kita memiliki hubungan yg teratur dan komitmen yg mendalam. Sahabat karib bebas untuk mengkritik, mengoreksi dan juga mendorong semangat karena kepercayaan dan kebersamaan yg telah dibangun di antara kita.
So...mereka yg tidak memiliki sahabat karib pastilah merupakan orang yg paling kesepian di dunia ini.
***************
Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri.
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya…
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.
Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
Ingatlah kapan terakhir kali kamu berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping kamu ?? Siapa yang mengasihi kamu saat kamu merasa tidak dicintai ?? Siapa yang ingin bersama kamu saat kamu tak bisa memberikan apa-apa ??
MEREKALAH SAHABATMU
Hargai dan peliharalah selalu persahabatanmu
Senin, 10 Januari 2011
Ciri Manusia Terbaik
Sebagai manusia yang hidup di dunia ini, tentunya kita mendambakan nilai yang terbaik di sisi Allah SWT sebagai bekal menuju kehidupan di akhirat kelak. Merujuk beberapa keterangan dalam Al-Quran dan Hadits, terdapat beberapa ciri manusia terbaik yang bisa menjadi acuan bagi kita.
Pertama, Manusia Terbaik adalah yang Paling Baik Akhlaqnya
Akhlaq berasal dari kata kholaqo yang berarti menciptakan. Jadi akhlaq itu pada dasarnya bisa dibuat / diciptakan, bukan sesuatu yang given dan tidak bisa berubah. Kita bisa melihat kisah hidup Umar bin Khatab untuk memahami perubahan akhlak.
Pada zaman jahiliyah akhlaq beliau amatlah buruk, ia membunuh bayi, seorang pegulat hebat, bahkan akan membunuh nabi saat adiknya mau masuk islam. Namun setelah ia masuk islam akhlaqnya berubah luar biasa, ia menjadi seorang yang bisa menerima nasehat walau dari seorang pembantu dan saat ia sedang marah. Begitu juga dengan kisah Abu Bakar, ia seorang yang sering menangis dan lemah lembut. Namun ketika banyak orang murtad zakat setelah nabi wafat, ia menjadi tegas dan keras, bahkan sampai memerangi kaum murtad tersebut.
Satu diantara kunci sukses dakwah nabi, adalah keluhuran akhlaqnya. Hal ini bisa dilihat dalam kisah yang sering kita dengar. Setiap hari nabi selalu melewati seorang yahudi, dan nabi selalu dilempar, dicaci maki dan diludahi. Namun saat orang yahudi itu tidak nampak dikarenakan sakit, nabilah orang pertama yang menengok yahudi tersebut dengan membawa butiran kurma. Karena keluhuran akhlaq nabi, akhirnya orang yahudi tersebut masuk islam.
Begitu juga saat Abu Bakar bertanya kepada Aisyah, “Amal nabi apa yang bisa aku lakukan?, Aisyah menjawab, Nabi selalu berangkat di pagi hari menemuhi seorang yahudi tua buta yang selalu mencaci makinya, nabi membawa roti dan menyuapinya. Lantas Abu bakar meniru amalan nabi itu dan menemui orang yahudi itu. Orang yahudi itu lantas bertanya, Siapakah engkau?, Abu bakar menjawab, Akulah yang setiap hari memberimu roti dan menyuapimu. Orang yahudi itu berkata,”Engkau bukan orangnya, karena orang yang setiap pagi datang itu, sangat lembut saat menyuapiku”. Lantas Abu Bakar berkata, apakah engkau tahu bahwa orang yang datang setiap hari itu adalah Muhamad saw. Mendengar keterangan Abu Bakar itu, orang yahudi tua itu menangis dan akhirnya masuk islam.
Salah seorang penyair mesir, Syauqi Bay, berkata: “Suatu bangsa akan maju ketika akhlaq bangsa itu baik. Sebaliknya suatu bangsa akan rusak ketika akhlaq bangsa itu rusak”.
Akhlaq nabi sepenuhnya mencerminkan Al-Quran 30 juz, yang semuanya firman alloh dan mutlak kebenarannya. Sehingga Alloh pun memuji akhlaq beliau,” Waiinaka la’ala khulukin adhiim..” Sesungguhnya pada diri Muhammad terdapat akhlaq yang agung”
Kedua, Orang terbaik ialah orang yang panjang umur dan baik amalnya.
Sebagaimana tersirat dalam QS an-Nasr, waktu yang kita miliki setiap hari haruslah diisi dengan amal baik (ibadah), agar semakin banyak bekal yang kita bawa sebelum kembali kepada Allah SWT. Tugas kita untuk beribadah harus ditafsirkan dalam pengetian yang luas, yakni setiap aktivitas yang berharap ridlo Alloh, baik yang nyata maupun yang bathin. Setiap kita diminta untuk bekerja sesuai keahlian dan kapasitasnya masing-masing, baik di bidang ekonomian, pertanian, pendidikan, dan lain lain. Jadikanlah potensi ini sebagai ibadah sesuai aturan Alloh untuk memakmurkan bumi-Nya.
Sebagaimana Allah menerangakn dalam QS An-Nahl 97, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
Sayyid Qutub menafsirkan ayat ini, bahwa kehidupan yang baik itu tidak hanya harta yang banyak dan melimpah. Namun Allah juga memberikan dalam bentuk lain misalnya kesehatan, kedamaian rumah tangga, kenikmatan hidup, dan lai lain. Apalah arti banyak harta atau kaya namun penyakit banyak diderita. Lebih tepatnya harta yang kita miliki itu bersifat barokah atau bertambah dan kita merasa cukup dengannya.
Ketiga, Manusia terbaik adalah yang seimbang dunia dan akhirat
Sebagaimana Allah menciptakan alam semesta ini dengan penuh keseimbangan. Kiat dituntut juga menjalani kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Nabi berkata, “Kalian yang terbaik adalah ketika mencari dunia tidak meninggalkan akhirat. Dan ketika mencari akhirat tidak meninggalkan dunianya”.
Kewajiban seorang muslim saat ia bekerja atau bisnis, haruslah tetap melaksanakan kewajiban ibadah dengan terbaik misalnya sholat, zakat, dan lain lain. Alloh berfirman dalam QS Al-Qashas 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Sikap kita terhadap dunia adalah menjadikannya di tangan bukan di hati. Dan jadikan dunia sebagai wasilah untuk menggapai kebahagiaan selama-lamanya.
Keempat, Manusia terbaik adalah yang tidak menjadi beban orang lain
Islam negajarkan kita agar mandiri. Meminta-minta dalam pandangan islam amatlah tercela. Nabi berkata, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Salah satu kewajiban seorang muslim adalah memberi kepada orang lain yaitu zakat dan infaq.
Kelima, Manusia Terbaik adalah yang berlaku baik kepada keluarganya
Nabi berkata, “Dan akulah orang yang paling baik dalam muamalah kepada keluargaku”. Islam sangat mengangkat derajat dan martabat kaum perempuan. Dalam salah satu hadits, nabi berkata, “Surga berada di telapak kaki ibu”. Begitu menghargainya nabi kepada istrinya, beliau selalu memanggil dengan kata mesra yaitu, “Ya Khumairah, wahai yang pipinya kemerah-merahan”. Nabi menciptakan surga dalam rumahnya dengan cara saling menghormati dan mencintai antar keluarga. Jadikanlah keluarga sebagai madrasah / sekolah pertama bagi anak-anak kita, untuk memberikan teladan yang baik kepada anak kita.
Keenam, Manusia terbaik adalah yang punya hutang ia segera membayar
Islam mengajarkan agar kita segera membayar hutang, karena sesungguhnya kita tidak tahu kapan dipanggil Alloh SWT. Nabi berkata, “Jauhilah untuk berhutang, karena dengan berhutang membuat dirimu terganggu dimalam hari, dan hina di siang hari”.
http://www.nasehatislam.com/?p=78
******************
10 MANUSIA TERBAIK
Didalam beberapa sabdanya, Rasulullah SAW menyebut kata "Khairukum" atau "Khiyarakum" yang artinya "Sebaik-baik manusia diantara kalian", atau "Khoirunnaas" sebaik-baik manusia, yang dimaksud "kalian" disini adalah umat beliau yang beriman, dan dengan kalimat ini beliau ingin menegaskan keutamaan (fadhilah) suatu karakter yang akan beliau sebutkan.
Adapun manusia-manusia terbaik berdasarkan hadist Rosulullah SAW adalah sebagai berikut :
1. Para Shahabat yang Mulia
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian generasi sesudah mereka (tabi'in) kemudian generasi sesudah mereka (tabi'ut tabi'in)." (HR. Bukhari Muslim)
2. Orang yang paling bertaqwa dan suka menyambung Silaturahmi
Seorang lelaki berdiri saat Nabi SAW sedang diatas mimbar, ia bertanya, "Manusia seperti apa yang terbaik?" Beliau menjawab. "Manusia terbaik adalah yang paling banyak bacaan dan ilmu Aq-Qur'annya, paling bertaqwa dan paling suka beramar makruf nahi mungkar serta paling rajin menyambung silaturahmi." (HR. Ahmad)
3. Orang yang mepelajari dan Mengajarkan Al-Qur'an
"Sebaik-baik orang dari kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR Bukhari Muslim)
4. Para Mujahid
"Sesungguhnya termasuk salah satu manusia terbaik adalah seorang lelaki yang beramal (berjuang) fisabilillah diatas kudanya, atau untanya atau kedua kakinya sampai maut menjemputnya." (HR. Nasa'i)
5. Orang yang panjang umurnya lagi baik Amalnya.
Seorang Badui berkata "Wahai Rosulullah, siapakah manusia terbaik?" Beliau menjawab, "Yang panjang umurnya dan baik amalnya" (HR. At Tirmidzi)
6. Orang yang kebaikannya selalu diharapkan
"Sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang kebaikannya selalu diharapkan dan orang merasa aman dari keburukannya, sedang seburuk-buruk manusia diantara kalian adalah yang kebaikannya tidak pernah diharapkan dan orang tidak merasa aman dari keburukannya." (HR. At Tirmidzi dan Ahmad)
7. Orang yang memiliki Akhlak mulia
"Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya" (HR. Bukhari Muslim)
8. Orang yang berlaku baik terhadap keluarganya
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik terhadap keluargaku..." (HR. At Tirmidzi)
9. Orang yang Uzlah menghindari fitnah
"Sebaik-baik manusia saat terjadi fitnah adalah orang yang mengisolir diri dengan hartanya, beribadah kepada Rabbnya dan menunaikan kewajibannya..." (HR. At Tirmidzi)
10. Orang yang suka memberi makan
"Sebaik-baik kalian adalah yang memberi makanan atau orang-orang yang meberi makan." (HR. Ahmad)
Pohon Kurma dan Kemiripannya Dengan Orang Mukmin

Coba kita perhatikan pohon kurma yang merupakan salah satu kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta'Ala. Kita dapat menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang sangat luar biasa dan membuat kita takjub. Allah telah menetapkan bahwa diantara pohon kurma itu ada yang betina dan butuh dibuahi, maka Allah menciptakan pohon kurma jantan sebagai pasangannya yang akan membuahinya. Sebagaimana halnya makhluk hidup yang saling berpasangan-pasangan. Oleh sebab itulah pohon ini sangat mirip dengan manusia daripada pohon-pohon lainnya. Khususnya dengan orang mukmin sebagaimana perumpamaan yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam dalam hadits beliau.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?”
Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Abdullah Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?”
Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma.”
Hadits ini diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam shahihnya kitab Al Ilmu, bab Qaulul Muhadits Hadatsanaa no. 61 (1/145-Fathul Baariiy) dan Muslim dalam shahihnya kitab Sifatul Munafiqin bab Mitslul Mukmin Matsalun Nakhlah no. 7029 (17/151- Syarah Nawawiy)
Kemiripan itu dapat kita lihat dari beberapa sisi :
Pertama: Keteguhan dan kekokohan akarnya tertancap di bumi, tidak seperti pohon-pohon lainnya yang tercabut akarnya dari permukaan bumi dan tidak dapat tegak sedikitpun. Demikian juga iman jika telah mengakar di dalam hati seorang mukmin, maka akan menjadi sangat kokoh dan tidak goyah sedikitpun, seperti kokohnya gunung yang besar menjulang.
Kedua: Buahnya yang manis dan lezat serta khasiatnya yang sangat banyak. Demikian pula seorang mukmin, baik ucapannya dan banyak manfaatnya.
Ketiga: Pakaian dan perhiasannya yang selalu tampak, baik pada musim panas maupun musim dingin. Demikian pula halnya dengan seorang mukmin yangg selalu mengenakan pakaian ketakwaan.
Keempat: Mudah mengambil dan memetik buahnya. Pohonnya yang pendek tidaklah menyulitkan orang yang ingin mengambilnya, ia dapat diraihnya tanpa harus memanjat. Adapun batangnya mudah dipanjat dibandingkan pohon-pohon lain yang tinggi batangnya. Demikian pula seorang mukmin, kebaikannya mudah didapat dan sangat dekat bagi orang yang mencarinya, ia bukanlah orang yang penuh tipu daya lagi jahat.
Kelima: Buah kurma termasuk buah yang paling bermanfaat, karena ruthabnya dimakan sebagai buah-buahan dan manis. Juga kurma yang telah kering menjadi makanan pokok, lauk dan buah serta dapat dihasilkan darinya cuka dan pemanis. Kurma juga dibuat sebagai obat dan minuman. Kemanfaatannya sudah cukup jelas bagi yang menggunakannya. Demikian juga mukmin memiliki keumuman manfaat dan keanekaragaman kebaikan dan kebagusannya.
Ditambah lagi buah kurma memiliki rasa manis dan iman pun memiliki rasa manis yang tidak dapat merasakannya kecuali orang yang memiliki iman yang benar. Oleh karena itu Rasulullah bersabda:
“Tiga perkara, jika seorang memilikinya niscaya merasakan manisnya iman, menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya dan mencintai seseorang hanya karena Allah serta benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan kedalam api.” (Mutafaqun ‘alaihi)
Imam Abu Muhammad bin Abi Jamroh menyatakan: “Diibaratkan dengan rasa manis dalam hadits ini, karena Allah menyerupakan iman dengan pohon dalam firman-Nya:
Kalimat di dalam ayat ini adalah kalimat ikhlas dan pohonnya adalah pokok iman, cabangnya adalah mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Sedang daunnya adalah kebaikan yang diperhatikan seorang mukmin, buahnya adalah ketaatan.” (Lihat Fathul Bari, 1/60)
Keenam: Pohon kurma merupakan pohon yang paling teguh menghadapi terpaan angin dan badai. Demikianlah seorang mukmin yang selalu tabah dan sabar dalam menghadapi musibah dan bala, tidak mudah tergoyahkan oleh cobaan. Seorang mukmin memilki tiga jenis kesabaran yang terkumpul pada dirinya, yaitu sabar dalam ketaatan Allah, sabar dari kemaksiatan dan sabar menghadapi takdir yang menyedihkan. Allah berfirman:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155-157)
Dan firman-Nya:
“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabbmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: [39]:10)
Ketujuh: Pohon kurma seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Tidak ada satupun yang terbuang percuma. Buahnya sangat berguna, batangnya dapat dijadikan sebagai ruas, pelepahnya dapat dijadikan sebagai atap rumah untuk menggantikan kayu dan untuk menutupi celah dan lobang. Daunnya dapat digunakan sebagai bahan keranjang, bakul, berbagai macam alat rumah tangga, tikar dan lain-lain. Sabutnya dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan yang sudah dikenal luas oleh manusia. Seorang mukmin memilki karakter yang sama dengan karakter pohon kurma tersebut. Demikian juga seorang mukmin ketika bergaul dengan teman dan sekitarnya. Ia tidak menampakkan kecuali akhlak yang mulia, adab budi pekerti yang luhur, muamalah baik, memberikan kebaikan dan tidak mengganggu mereka. Selalu memberikan manfaat kepada mereka dalam seluruh pergaulannya.Sampai-sampai duri yang terdapat pada pohon kurma ibarat ketegaran seorang mukmin dalam menghadapi musuh-musuh Allah dan orang fasik. Dan seorang mukmin itu memiliki sifat lembut seperti manis dan lembutnya buah kurma yang masih segar.
Kedelapan: Semakin panjang umurnya semakin banyak gunanya dan semakin baik buahnya. Demikianlah seorang mukmin, semakin panjang umurnya, akan semakin baik dan shalih pulalah amalnya. Imam At Tirmidziy meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Busr, beliau berkata:
Seorang a’robiy bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah siapakah orang yang terbaik?” Rasulullah menjawab: “Orang yang panjang umur dan baik amalannya.” (Sunan Tirmidzi 4/565 dan dishohihkan Al Albaniy dalam Shohih Sunan At Tirmidzi, 2/271)
Kesembilan: Jantung pohon kurma merupakan jantung pohon yang paling baik dan paling manis. Hal ini merupakan keistimewaan pohon kurma yang tidak dimilki oleh pohon-pohon lainnya. Demikianlah hati seorang mukmin, merupakan sebaik-baik hati manusia.
“Dari Abdullah bin umar beliau berkata: “Ketika kamu duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba diberikan jamaar (jantung kurma). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: ‘Sesungguhnya terdapat satu pohon, barakahnya seperti barakah seorang muslim’. Lalu aku menerka itu adalah pohon kurma lalu ingin aku sampaikan dia adalah pohon kurma, wahai Rasulullah. Kemudian aku menengok dan mendapatkan aku orang kesepuluh dan paling kecil, lalu aku diam. Rasulullah berkata: ‘Ia adalah pohon kurma.’” (diriwayatkan oleh Bukhari dalam shohihnya, 3/444)
Ibnu Hajar berkata: “Barokah pohon kurma ada pada semua bagiannya, senantiasa ada dalam setiap keadaannya.
Kesepuluh: Kegunaannya tidaklah habis sama sekali. Jika salah satu manfaatnya telah habis maka masih banyak lagi manfaat-manfaat lainnya. Demikianlah seorang mukmin yang tidak pernah kering dari amal-amal kebaikan. Jika salah satu sisi kekeringan maka sisi yang lain pasti subur. Kebaikannya selalu diharapkan dan kejelejannya selalu terjaga.
Penjelasan tentang masalah ini tentu sangat panjang sekali. Cukuplah sekiranya kita perhatikan baik-baik bentuk pohon kurma, mulai dari batangnya, pelepahnya, buahnya sampai daunnya!
BELAJAR DARI SEJARAH KONSTANTINOPEL:
Buah Manis Keshalihan dan Perencanaan Matang
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”
Demikianlah hadis Nabi Muhammad Sallahu ’alaihi wa Salam yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal Al-Musnad. Hadis ini sejatinya memiliki kekuatan pesan bagi kita untuk mempelajari sejarah dan melihat bahwa ada banyak hikmah yang dapat kita petik dari perjalanan penaklukan konstantinopel, baik dari segi strategi kemenangannya hingga pada hal yang paling penting yakni kesiapan para prajuritnya.
Perumpamaan kota Konstantinopel sudah layaknya seorang gadis desa anak Pak Lurah yang diincar oleh banyak pujangga untuk dipinang, dimana berbondong-bondong golongan dari berbagai negara berupaya untuk mendapatkan kota pecahan Kekaisaran Romawi ini, termasuk dari golongan Arab-Muslim. Alasannya tidak lain karena lokasinya yang strategis diantara Asia dan Eropa serta merupakan rute ”jalur sutera” yang sangat menggiurkan dalam hal ekonomi maupun geopolitik pada saat itu.
Sejarah menceritakan bahwa ada banyak tokoh Islam yang berusaha untuk menaklukan kota Konstantinopel, mulai dari Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668M namun gugur sebelum sempat berhasil dalam penaklukan hingga pada generasi selanjutnya yaitu Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang salah satu masanya dipimpin oleh Harun al-Rasyid pada 190H. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bahwa seorang pemimpin dari Bani Utsmani-lah yang berhasil menaklukan kota Konstantinopel, yakni pada masa kepemimpinan Sultan Muhammad II yang pada kemudian hari dijuluki al-Fatih (Sang pembebas).
Sebenarnya, proses perencanaan penaklukan kota Konstantinopel sudah diawali oleh pemimpin pertama kekhilafahan Utsmani yaitu oleh Utsman. Berbagai persiapan logistik maupun penambahan pasukan telah ia dilakukan. Pun pada kepemimpinan setelahnya yaitu oleh Sulthan Orkhan, Sulthan Murad I, Sulthan Bayazid I dan Sulthan Murad II, mereka tetap meneruskan visi Utsman untuk menaklukan kota Konstantinopel dengan melakukan berbagai persiapan bahkan penyerangan. Puncak penyerangan dan keberhasilan penaklukan berhasil dilakukan oleh Sulthan Muhammad II yang merupakan anak dari Sulthan Murad II, atas kegigihannya untuk menjadi pemimpin yang digambarkan oleh hadis Nabi diatas serta dengan keshalihan pribadinya yang senantiasa takut pada Penciptanya, maka Allah menetapkan bahwa dialah yang dapat menaklukan kota Konstantinopel dan menjadi pemimpin yang dimaksud oleh Nabi Muhammad dalam hadisnya.
Sulthan Muhammad II dalam penaklukan kota Konstantinopel ini berhasil memperbanyak pasukan hingga mencapai 250.000 prajurit, jauh dari jumlah pada masa Harun al-Rasyid yang hanya berjumlah 15.000 prajurit. Selain penambahan kuantitas, Sulthan Muhammad II juga meningkatkan kualitas para prajuritnya dengan menumbuhkan semangat jihad agar mampu menjadi pasukan pembebas seperti yang dimaksud Nabi Muhammad. Dengan semangat dan motivasi seperti ini, Sulthan Muhammad II berharap bisa memimpin pasukan mujahid yang tidak hanya terampil dalam teknik perang namun juga ikhlas dalam melaksanakannya.
Sejarah menceritakan bahwa menjelang berlangsungnya penyerangan kota Konstantinopel, Sulthan Muhammad II selalu mengobarkan semangat para prajuritnya dengan orasi yang berapi-api dan menggugah semangat jihad meraka. Ia menyatakan bahwa perang yang akan mereka lakukan merupakan perang suci sebagaimana dilakukan pada masa Nabi Muhammad dan para sahabat.
Perang dimulai, para prajurit al-Fatih ini pun beruapaya keras untuk dapat merobohkan benteng Byzantium dan menaklukan kota. Meskipun banyak pihak meragukan keberhasilan sang pembebas karena usianya yang masih tergolong muda, Sulthan Muhammad II tetap optimis bahwa Allah akan membantunya.
Hari demi hari terus berlalu namun pasukan muslimin belum juga mampu masuk ke dalam kota. Kepandaian sang al-Fatih terlihat disini, ia mengetahui bahwa ada semacam legenda di masyarakat Konstantinopel bahwa kota tersebut tak akan jatuh pada bulan purnama. Maka ia mempersiapkan serangan pada saat bulan sabit yang berhasil membuat moral masyarakat konstantinopel turun, dan dengan bantuan Allah maka pasukan al-Fatih pun dapat masuk ke dalam kota.
Hal lain yang menarik adalah ketoleransian Sulthan Muhammad II yang tetap melindungi seluruh warga Konstantinopel setelah ia kuasai, apapun agama mereka. Bahkan gereja pun tetap berdiri untuk menghormati dan memfasilitasi ummat kristiani untuk dapat beribadah dengan baik. Kebijakannya membolehkan siapapun boleh masuk ke dalam kota dan mencari nafkah yang halal bahkan diberikan rumah gratis.
Kisah ini begitu menginspirasi, bahwa untuk mencapai sebuah kemenangan dibutuhkan pengorbanan dan persiapan yang matang. Ditengah banyaknya kekurangan dan kelemahan kita, ingatlah bahwa itu bukan masalah besar selama masih ada keyakinan dalam hati kita akan adanya pertolongan Allah.
Dari kisah ini kita dapat lihat bahwa kebeliaan al-Fatih bukanlah hal yang menjadi penghalang karena sesungguhnya ia memiliki kematangan sifat dan perilaku. Sedari kecil ia diajarkan berbagai ilmu pengetahuan dan keagamaan yang membuatnya menjadi pribadi yang cerdas. Kematangannya dalam menyusun strategi perang terbukti saat dirinya berhasil membebaskan kota Konstantinopel ini. Tak seperti kebanyakan pemimpin, Sulthan Muhammad II selalu mengikuti peperangan yang berlangsung meskipun dalam keadaan sakit, bahkan tak jarang ia berada di barisan paling depan membela agamanya. Hal ini selain karena keinginannya untuk meraih gelar syahid, juga karena kematangan dan kecerdasannya dalam membuat strategi perang sehingga ia selalu terpilih untuk memimpin langsung pasukan dalam berbagai peperangan.
Lalu hal apakah yang membuat seorang pemimpin muda belia mampu menaklukan kota tua Konstantinopel yang sejak masa kekhalifahan sebelumnya tak mampu ditaklukan? Hal ini tak lain karena keshalihan pribadinya dan kecerdasan pikirannya. Ulama dalam literatur sejarah menyebutkan bahwa Sulthan Muhammad II adalah sosok yang rendah hati, teguh pendirian dan selalu mempersiapkan semua hal dengan matang. Keshalihan pribadinya dapat dilihat dari rutinitasnya yang tak pernah meninggalkan shalat rawatib dan tahajud sejak masa baligh hingga wafat. Dan keshalihannya ini ia turunkan pada prajuritnya sebelum berangkat menuju medan perang yakni dengan memerintahkan prajuritnya untuk selalu menjaga kondisi ruhiyahnya.
Sungguh sebuah hal yang memberikan hikmah bagi kita bahwa untuk menuju suatu kemenangan dibutuhkan persiapan ruhiyah yang mantap. Sama konteksnya dengan situasi dakwah kampus, bagaimana mungkin Allah akan memberikan kemenangan sementara para prajuritnya sendiri tidak pernah ”dekat” pada-Nya?? Maka seorang Aktivis Dakwah sudah selayaknya terdiri dari orang-orang yang senantiasa menjaga kualitas ruhiyahnya dan selalu dalam naungan kedekatan pada-Nya.
Hal lain yang juga sangat menginspirasi adalah adanya ketoleransian Sulthan Muhammad II dalam memimpin ummat yang plural, dimana pada saat itu tak hanya ada ummat Islam tapi juga Kristiani maupun Yahudi. Semua ia perlakukan dengan adil tanpa ada diskriminasi.
Sulthan ”pembebas” juga merupakan seorang yang pandai dalam penataan negara, konstantinopel yang olehnya diubah namanya menjadi Islambul (kota Islam) dan kini disebut Istanbul berubah dari kota hancur akibat perang menjadi kota yang sangat indah dan maju. Kepandaian dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ini patut untuk ditiru oleh aktivis dakwah. Itqhon atau profesionalitas adalah harga mati bagi jama’ah dakwah demi mewujudkan peradaban kampus.
Hal terakhir yang saya perhatikan dalam penelusuran sejarah penaklukan Konstantinopel ini adalah fakta bahwa ternyata ada proses pembinaan calon prajurit pada masa itu. Literatur menyebutkan bahwa untuk menjadi seorang prajurit profesional, dibuat tim khusus yang bertugas untuk mencari anak-anak cerdas lagi sholeh diseluruh penjuru Turki yang mau dibina dan dididik menjadi prajurit. Jika orangtua mereka mengizinkan, maka anak-anak tersebut akan dilatih dan dibina baik ruhiyah, jasadiyah, maupun fikriyah agar mampu menjadi prajurit profesional lagi shalih jika besar nanti. Maka tak heran jika Sulthan Muhammad II berhasil menaklukan kota Konstantinopel bersama prajuritnya ini.
Maka sudah jelas bahwa untuk menjadi jundi Allah dibutuhkan proses pembinaan yang memerlukan waktu yang tidak sebentar. Proses pembinaan menjadi sangat penting karena disinilah awal dari pembentukan seorang kader dakwah yang militan dan shalih.
Akhir kata, semoga Allah tak akan pernah menutup hati-hati kita untuk bisa belajar dan mengambil hikmah dari sejarah. Karena hanya orang bodoh yang masuk ke dalam jurang yang sama untuk kedua kalinya, dan hanya orang fasik yang tak mau belajar dari sejarah.
Wallahu ’alam bi Shawab
