Sabtu, 05 Februari 2011

Agar Allah tak Membuka Aib Kita


Suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar dan menyeru dengan suara yang tinggi, "Janganlah kalian menyakiti kaum Muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama Muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan, siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia berada di tengah tempat tinggalnya." (dari Abdullah bin 'Umar)

Syekh Mahmud al-Mishri dalam kitabnya Mausu'ah min Akhlaqir-Rasul mengungkapkan, di zaman sekarang ini sulit untuk menemukan orang yang dapat dipercaya dalam menjaga rahasia. Kebanyakan manusia-kecuali manusia yang mendapat pertolongan Allah-tak dapat menjaga rahasia orang lain. Padahal, membuka aib orang lain termasuk bagian dari khianat.

Dalam hadis di atas, Rasulullah menegaskan bahwa menutupi aib dan menjaga rahasia termasuk keutamaan. Nabi SAW menganjurkan agar umatnya senantiasa saling memelihara rahasia dan menutupi aib saudaranya agar dapat hidup bermasyarakat dalam ketenangan, kedamaian, juah dari keresahan, kedengkian, serta balas dendam.

Namun, kita sering melalaikan peringatan ini. Kita kerap kali bermain-main dengan aib. Kita lupa kalau suatu saat Allah SWT pun akan membukakan aib kita tanpa bisa ditolak. Sesungguhnya, ketika membuka aib orang lain, sama dengan memberitahukan aib kita sendiri.

Padahal, dengan menutup aib orang lain, Allah akan menutup aib kita, baik di dunia maupun akhirat. Rasulullah bersabda, "Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia, melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya".

Aib merupakan sesuatu yang diasosiasikan buruk, tidak terpuji, dan negatif. Manusia tidak bisa lari dengan menutup diri terhadap kekurangannya. Manusia harus berintrospeksi dan menghisab diri sendiri untuk memperbaikinya. Umar bin Khattab berpesan, "Hisablah dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang."

Dalam hidup, kita terkadang terlupakan dengan aib-aib sendiri yang begitu menggunung karena begitu seringnya memikirkan aib orang lain. Kita juga sering lupa untuk bersyukur bahwa Allah telah menjaga aib-aib kita. Sesungguhnya, manusia bukanlah apa-apa jika semua aibnya dibukakan di depan mata orang lain.

Jumat, 04 Februari 2011

Sayap

Sekumpulan burung dara tampak berkerumun di depan sarang mereka di sebuah pohon besar di tepian hutan. Keluarga besar burung ini sepertinya sedang bersiap untuk terbang ke suatu tempat. Wajah-wajah riang menghias tingkah mereka.

Hari itu, keluarga besar burung dara itu memang akan berangkat menuju ladang jagung yang bersebelahan dengan hutan tempat mereka tinggal. Naluri mereka seperti sudah menjadwalkan kalau hari itu butiran-butiran jagung lezat akan berserakan seusai panen petani.

“Ah, sebuah tempat yang begitu mengasyikkan,” bisik hati seekor burung dara muda yang juga tak mau ketinggalan. Dan, mereka pun mulai mengepak-ngepakkan sayap masing-masing untuk siap terbang.

Sayangnya, sebatang dahan kering tiba-tiba terjatuh dan tepat menimpa si burung dara muda. “Aduh!” teriak sang burung spontan.

Dahan patah yang terjatuh dari ketinggian itu tepat menimpa sayap kanan sang burung. Ia pun merintih kesakitan.

Semua burung yang lain sudah terlanjur terbang meninggalkan si burung dara muda yang masih di depan sarang. Begitu bersemangatnya mereka terbang, hingga lupa kalau salah satu saudara mereka masih tertinggal di pintu sarang.

Kini tinggallah si burung dara muda merintih kesakitan. Beberapa kali ia mencoba terbang, tapi sayapnya yang luka masih nyeri untuk digerakkan. ”Ah, mungkin sayap kananku patah!” keluh sang burung masih membayangkan tempat indah yang mungkin kini sedang dinikmati saudara-saudaranya.

Dalam kesendirian itu, ia sempat bergumam, ”Tuhan, kenapa kau timpakan ketidaknyamanan hanya buatku seorang.”

Selama beberapa jam ia menunggu kepulihan sayapnya agar bisa terbang. Tiba-tiba, seekor burung dara menukik tajam dan nyaris menabrak sarang di mana si burung muda beristirahat. Ia pun kaget ketika mendapati salah seorang saudaranya sudah berada persis di depannya dengan beberapa luka di bagian pangkal kaki dan dada.

“Ada apa, saudaraku?” ucap si burung dara muda sambil memeriksa luka saudaranya. “Mana yang lain?” sambungnya.

Dengan tertatih-tatih, saudara burung itu pun berujar pelan. ”Semuanya tertangkap jebakan manusia. Hanya aku yang berhasil kabur,” ucap sang burung sebelum akhirnya terkulai.

Saat itu, si burung dara muda pun tercenung. Ia seolah bingung, apakah dengan kondisi patah sayapnya itu ia sedang diberikan ketidaknyamanan oleh Tuhan, atau sebaliknya.

**
Dalam upaya menggapai cita-cita hidup, tidak jarang terjadi ‘patah sayap’ yang dialami sebagian kita. Bisa berupa gagal karir karena musibah, putus pendidikan karena biaya, gagal berjodohan karena sesuatu hal, dan sebagainya.

Nurani kemanusiaan kita pun seperti berontak untuk akhirnya mengatakan, “Tuhan, kenapa Kau timpakan ketidaknyamanan ini buatku seorang?”

Kalau saja ada kemampuan mata kita untuk melihat ujung perjalanan waktu yang akan kita alami, kalau saja kita bisa mengintip dari celah tirai hikmah hidup yang akan dilalui, mungkin hati dan lidah kita akan berujar, ”Terima kasih atas ketidaknyamanan ini, wahai Yang Maha Sayang!”

Selasa, 01 Februari 2011

Kesabaran


Tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan. Maka dahulu ulama kita mengatakan: "Keberanian itu, sesungguhnya hanyalah kesabaran sesaat."

Resiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus menerus. Dan itulah yang dimaksud Allah swt dalam firman-Nya: ”Jika ada di antara kamu dua puluh orang penyabar, niscaya mereka akan mengalahkan dua ratus orang. Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), niscaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir."(QS. 8: 65).

Ada banyak pemberani yang tidak mengakhiri hidup sebagai pemberani. Karena mereka gagal menahan beban resiko. Jadi keberanian adalah aspek ekspansif dari kepahlawanan. Tapi kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita mampu membawa beban idealisme kepahlawanan, dan sekuat apa kita mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup. Mereka yang memiliki sifat ini pastilah berbakat menjadi pemimpin besar. Coba simak firman Allah swt ini: "Dan Kami jadikan di antara mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan mereka selalu yakin dengan ayat-ayat Kami." (QS. 32 : 24).

Demikianlah kemudian ayat-ayat kesabaran turun beruntun dalam Qur’an dan dijelaskan dengan detil beserta contoh aplikasinya oleh Rasulullah saw, sampai-sampai Allah menempatkan kesabaran dalam posisi yang paling terhormat ketika Ia mengatakan: "Mintalah pertolongan dengan kesabaran dan sholat. Sesungguhnya urusan ini amatlah berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’." (QS. 2: 45 )

Rahasianya adalah karena kesabaran ibarat wanita yang melahirkan banyak sifat lainnya. Dari kesabaranlah lahir sifat santun. Dari kesabaran pula lahir kelembutan. Bukan hanya itu. Kemampuan menjaga rahasia juga lahir dari rahim kesabaran. Demikian pula berturut-turut lahir kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja dan yang mungkin sangat penting adalah ketenangan.

Tapi kesabaran itu pahit. Semua kita tahu begitulah rasanya kesabaran itu. Dan begitulah suatu saat Rasulullah saw mengatakan kepada seorang wanita yang sedang menangisi kematian anaknya: "Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama." (Bukhari dan Muslim). Jadi, yang pahit dari kesabaran itu hanya permulaannya. Kesabaran pada benturan pertama menciptakan kekebalan pada benturan selanjutnya. "Mereka memanahku bertubi-tubi, sampai-sampai panah itu hanya menembus panah," kata penyair Arab nomor wahid sepanjang sejarah, Al-Mutanabbi.

Mereka yang memiliki naluri kepahlawan dan keberanian, harus mengambil saham terbesar dari kesabaran. Mereka harus sabar dalam segala hal: dalam ketaatan, meninggalkan maksiat atau menghadapi cobaan. Dan dengan kesabaran tertinggi, "sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya," kata Ibnul Qoyyim.


Mengakhiri Penindasan Amerika dan Israel Terhadap Dunia Islam


Nilai Nasionalisme dan sekelurisme yang ditanamkan terhadap rakyat Arab, tak juga menjadikan mereka hidup dengan lebih baik. Justru proses internalisasi nilai-nilai nasionalisme dan sekulerisme membawa kehancuran. Mereka tak mengalami kehidupan yang lebih baik. Dari waktu ke waktu. Justru kekuatan Dunia Arab semakin menyusut. Arabisme dan Sekulerisme menggiring mereka ke belantara kehancuran, dan berlangsung secara sistematis.

Nasionalisme yang diberi bumbu Arabisme itu, bukan hanya mengkotak-kotakkan bangsa Arab, tetapi juga menciptakan ‘chauvinisme’ secara sempit, yang akhirnya disudahi dengan peperangan yang sangat merusak. Berkali-kali terjadi perang besar di kalangan negara-negara Arab. Pasca Perang Dunia II, dan sesudah negara-negara Arab merdeka, konflik sesama negara Arab semakin kuat. Tak dapat disatukan lagi. Karena itu, seluruh potensi Dunia Arab, habis oleh konflik.

Perang Irak-Iran yang berlangsung lebih dari 10 tahun telah menguras habis sumber daya yang ada. Bukan hanya kematian dari kedua belah pihak, tetapi berapa banyak potensi yang harus dikorbankan untuk perang. Irak-Iran keduanya rugi. Tetapi, semuanya itu tak pernah menjadi pelajaran. Perang berabad yang lalu, yang pernah terjadi berulang dan berulang lagi, dan semuanya itu menguras potensi dan sumber daya yang ada. Sampai akhirnya Dunia Arab terpuruk. Kekayaan minyak yang mereka miliki hanya menyebabkan malapetaka. Masing-masing negara menumpuk senjata. Kemudian mereka berperang satu sama lainnya.

Tentu, yang paling fatal lagi, ketika berlangsung Perang Dingin antara Timur dengan Barat, memaksa Dunia Arab, terpolarisasi menjadi dua kutub. Menjadi pengikut Blok Timur atau menjadi pengikut Blok Barat. Polarisasi Dunia Arab ini diikuti dengan tindakan. Di mana Timur dan Barat yang berebut pengaruh itu menggunakan s ekutunya, kemudian satu negara dengan negara lainnya, saling berhadap-hadapan ‘vis a vis’, yang akhirnya diujungnya adalah perang. Sementara itu, Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet dan Blok Barat yang dipimpin Amerika, di tengah-tengah perang yang ada, kedua negera itu yang memetik keuntungan. Karena industri militer kedua negara itu mendapatkan keuntungan dari perang yang desktruktif.

Era Perang Dingin ini berlangsung sampai hampir lima dekade, dan bukan hanya itu, tetapi Duni Arab juga terpolarisasi dalam ruang ideologi. Mereka bukan hanya menjadi pengikut Soviet, tetapi mereka juga menikmati ideologi komunisme. Negara-negara Arab seperti Suriah, Irak, Aljazair, Tunisia, Yaman, dan Mesir, berada dalam satu blok, di bawah Uni Soviet. Sementara itu, Arab Saudi, Yordania, Maroko dan Negara-Negara Teluk, mereka berada dalam satu blok di bawah Amerika.

Tranformasi ideologi terjadi dengan intens. Soviet bukan hanya menjual senjata dan menjadi payung politik sekutunya, tetapi Soviet juga menanamkan ideologi komunisme dan sosialisme kepada setiap rezim yang menjadi sekutunya. Di Lebanon seorang ideolog yang bernama Michael Aflaq, seorang Maronit, yang sekolah di Sorbone, Perancis, dan kemudian bertemu dengan seorang mentor atau ideolog komunisme, dan selanjutnya mendirikan Partai Baath, yang esensinya penggabungan antara komunisem dan Arabisme. Ideologi berkembang di Lebanon, Syria dan Iraq, dan ideologi dianut rakyat dan para pemimpinnya, seperti Hafez al Assad dan Saddam Husien. Sementara itu, yang pro Barat, membawa paham sekulerisme, yang terus dicekokkan kepada para pemimpin Arab, dan rakyatnya.

Pasca erang Perang Dingin, dan runtuhnya Soviet, sekarang muncul masalah baru, apa yang disebut yaitu, ‘The World Order’, atau ‘Tatanan Dunia Baru’, yang intinya Barat melalui Amerika ingin menegakkan nilai-nilai atau peradaban Barat ke Dunia Arab. Yaitu sekulerisme. Ini semuanya telah mereduksi Islam dari akar kehidupan rakyat dan umat. Mereka kehilangan nilai-nilai Islam yang sudah mengakar dalam kehidupan mereka selama berabad-abad, dan harus menerima nilai-niali baru.

Para penguasa di Dunia Arab, selamanya hanyalah ‘makhluk’ yang mengabdi kepada para penjajah Barat, yang menghancurkan, bukan hanya mereka merampas kekayaan dan sumber daya alam mereka semata, tetapi para penjajah itu merampas keyakinan mereka (Islam), dan digantikan dengan nilai-nilai sekuler. Para penguasa di Dunia Arab begitu kejam terhadap rakyatnya, sesuatu yang logis, karena hakekatnya mereka itu penjajah, dan bagian dari para penjajah, yang ingin menghancurkan kehidupan rakyatnya, dan keyakinan yang mereka miliki yaitu Islam.

Para penguasa Arab bukan hanya memiskinkan rakyatnya dari materi, tetapi yang lebih kejam lagi, mereka memiskinkan nilai-nilai yang sangat berharga bagi kehidupan mereka, yang dapat memberikan ketenteraman, kebahagiaan, dan masa depan mereka, yaitu Islam. Inilah seb uah kejahatan yang tiada taranya.

Seperti y ang dilakukan oleh Amerika yang melakukan intervensi langsung kepada para pemerintahan di Dunia Arab, khususnya yang terkait dengan pendidikan, yang mereka meminta agar ajaran agama (Islam) dihapuskan dari sekolah-sekolah. Arab Saudi sudahmelakukan itu. Seperti yang dilakukan Gubernur Makah dan Jeddah, Khalid Al-Faisal, yang menutup ribuan sekolah penghafal al-Qur’an di Jeddah dan Makkah.
Amerika yang ingin seluruh bangsa Muslim di Dunia Arab menjadi sekuler, sekarang dengan menggunakan isu terorisme, dan menelanjangi kaum Muslimin di dunia Arab dari keyakinan agama mereka (Islam). Dengan hilangnya keyakinan agama mereka (Islam) itu, penjajahan akan menjadi permanen. Itulah tujuan Barat.

Sekarang di mulai dari Tunisia, yang akan merembet ke suluruh Dunia Arab, nampaknya telah terjadi tranformasi politik, dan hakikatnya ini, merupakan perang ideologi (agama), bukan hanya perang melawan kepentingan Amerika, tetapi perang melawan kepentingan para penjajah Barat dengan menggunakan para penguasa lokal, yang dibelakangnya tak lain, adalah Yahudi dan Nasrani, yang ingin menghinakan kaum Muslimin dan memperbudaknya. Selayaknya kaum Muslimin saling bahu membahu. Saling tolong menolong. Mengakhiri segala bentuk kezaliman. Membebaskan negeri-negeri Muslim dari penjajahan Yahudi dan Nasrani. Wallahu’alam.

Nilai Kehidupan


Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

*****************
Apakah kehidupan atau waktu yg kita lalui ini sudah kita pergunakan sebaik mungkin atau tdk.? Alangkah ruginya kita di saat menjalani sesuatu yg berharga kemudian di sia2-kan. Orang yg merugi jika diberikan modal tetapi modalnya tdk dipergunakan pd tempatnya atau dihamburkan begitu saja dgn sia2. Begitu jg kalau kita diberi modal waktu, kemudian ... See Morewaktu itu di sia2-kan maka kita juga termasuk orang yg merugi. Karena pentingnya waktu itu maka Allah SWT sampai berfirman dgn “ bersumpah demi waktu ”

" Demi masa Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan menjalankan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran"
(QS. Al-Ashr 1-3)

Bening Hati Berbalas Surga


Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat. Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Qur’an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan berkata,”Akan hadir diantara kalian seorang calon penghuni surga”.

----------

Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat. Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Qur’an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan berkata, ”Akan hadir diantara kalian seorang calon penghuni surga”.
Para sahabat pun bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang istimewa yang dimaksud Rasulullah ini ?. Dengan antusias mereka menunggu kedatangan orang tersebut.
Semua mata memandang ke arah pintu.

Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki melenggang masuk masjid. Para sahabat heran, inikah orang yang dimaksud Rasulullah? Dia tak lebih dari seorang laki-laki dari kaum kebanyakan. Dia tidak termasuk di antara sahabat utama. Dia juga bukan dari golongan tokoh Quraisy. Bahkan, tak banyak yang mengenalnya. Pun, sejauh ini tak terdengar keistimewaan dia.

Ternyata, kejadian ini berulang sampai tiga kali pada hari-hari selanjutnya. Tiap kali Rasulullah berkata akan hadir di antara kalian seorang calon penghuni surga, laki-laki tersebutlah yang kemudian muncul.

Maka para sahabat pun menjadi yakin, bahwa memang laki-laki itulah yang dimaksud Rasulullah. Mereka juga menjadi semakin penasaran, amalan istimewa apakah yang dimiliki laki-laki ini hingga Rasulullah menjulukinya sebagai calon penghuni surga?

Akhirnya, para sahabat pun sepakat mengutus salah seorang di antara mereka untuk mengamati keseharian laki-laki ini. Maka pada suatu hari, sahabat yang diutus ini menyatakan keinginannya untuk bermalam di rumah laki-laki tersebut. Si laki-laki calon penghuni surga mempersilakannya.

Selama tinggal di rumah laki-laki tersebut, si sahabat terus-menerus mengikuti kegiatan si laki-laki calon penghuni surga. Saat si laki-laki makan, si sahabat ikut makan. Saat si sahabat mengerjakan pekerjaan rumah, si sahabat menunggui. Tapi ternyata seluruh kegiatannya biasa saja. “Oh, mungkin ibadah malam harinya sangat bagus,” pikirnya. Tapi ketika malam tiba, si laki-laki pun bersikap biasa saja. Dia mengerjakan ibadah wajib sebagaimana biasa. Dia membaca Qur’an dan mengerjakan ibadah sunnah, namun tak banyak. Ketika tiba waktunya tidur, dia pun tidur dan baru bangun ketika azan subuh berkumandang.

Sungguh, si sahabat heran, karena ia tak jua menemukan sesuatu yang istimewa dari laki-laki ini. Tiga malam sang sahabat bersama sang calon penghuni surga, tetapi semua tetap berlangsung biasa. Apa adanya.

Akhirnya, sahabat itu pun pun berterus terang akan maksudnya bermalam. Dia bercerita tentang pernyataan Rasulullah. Kemudian dia bertanya, “Wahai kawan, sesungguhnya amalan istimewa apakah yang kau lakukan sehingga kau disebut salh satu calon penghuni surga oleh Rasulullah? Tolong beritahu aku agar aku dapat mencontohmu”.

Si laki-laki menjawab, ” Wahai sahabat, seperti yang kamu lihat dalam kehidupan sehari-hariku. Aku adalah seorang muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun ada satu kebiasaanku yang bisa kuberitahukan padamu. Setiap menjelang tidur, aku berusaha membersihkan hatiku. Kuma’afkan orang-orang yang menyakitiku dan kubuang semua iri, dengki, dendam dan perasaaan buruk kepada semua saudaraku sesama muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta ikhlas. Barangkali itulah yang menyebabkan Rasulullah menjuluki demikian.”

Mendengar penjelasan itu, wajah sang sahabat menjadi berseri-seri. “Terima kasih kawan atas hikmah yang kau berikan. Aku akan memberitahu para sahabat mengenai hal ini”. Sang sahabat pun pamit dengan membawa pelajaran berharga.