Senin, 07 Maret 2011

Arti Sebuah Keberhasilan, Bagaikan Itik


Bila anda melakukan sesuatu yang baik dan orang memuji, lalu ada merasa senang, maka itu tak apa. Rasa senang muncul bukan karena kehendak anda. Rasa senang itu bagai belaian alam yang mengusap keringat anda; mengubah butir-butirnya menjadi gula-gula pemanis.

Namun, bila kemudian anda menikmatinya dan bekerja demi memperoleh kesenangan dari pujian itu, maka itu mara. Itu petaka.

Saat itu anda telah kehilangan kebebasan dalam berkebaikan.
Anda seolah bekerja keras agar orang lain puas, padahal gelisah menanti ceceran remah-remah sanjungan. Jangan demikian.

Jangan timbang keberhasilan anda dari seberapa tinggi salut orang lain pada anda.

Seluruh bakat anda anugerah alam, maka kembalikan ia pada alam.
Lepaskan itu sebagaimana anda melepaskan rajawali. Seperti kata seorang pujangga bahwa rajawali milik langit, biarkan ia ditelan langit.


Bekerjalah sebagaimana itik berenang di telaga. Ia melaju dengan tenang dan cantiknya, tanpa membuat permukaan air menjadi berkecipak dan berisik.

Ia pun tak perlu membuat sekujur tubuhnya basah kuyup atau merusakkan bulu-bulunya. Bahkan, berenangnya itik itu sendiri selalu menambah keindahan pandangan seluruh telaga.

Namun, tahukah kita bahwa di dalam air sepasang kakinya bekerja keras mengayuh-ayuh. Dan, itu tak tampak oleh mata yang memandangnya.

Kita dapat bekerja dengan keras dan gigih. Dan untuk itu, kita memang tak perlu menyembunyikan luruhan keringat dan tarikan nafas panjang kelelahan, namun kita dapat mengubahnya sebagai sebuah kesukacitaan.

Itu hanya tercapai bila kita meletakkan sumbangsih kerja kita dalam bingkai indah tentang peraihan hidup.

Karena kerja adalah bagian dari hidup, maka jangan biarkan kerja jadi noda tinta dalam lukisan tentang kehidupan kita.

sungguh Allah swt adalah maha sebaik-baik maha pemberi balasan

Sabtu, 05 Maret 2011

Muhasabah


Mengadakan evaluasi diri atau muhasabah memang merupakan tuntunan Islam. Hal itu diungkapkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr [59] : 18).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, suatu siang para sahabat sedang bersama Rasulullah SAW. Lalu, datanglah suatu kaum yang keadaannya sangat memprihatinkan. Wajah Rasulullah berubah ketika melihat mereka. Rasul masuk, kemudian keluar, dan lalu menyuruh Bilal mengumandangkan adzan dan iqamah.

Rasul pun shalat dan kemudian berkhutbah:
“Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kalian semua kepada Tuhan mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu …” (QS. An-Nisaa’ [4]: 1).
Dan, beliau membaca ayat: “… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),…” (QS. Al-Hasyr [59] : 18).

Seketika itu, seorang sahabat langsung menyedekahkan dinar, dirham, baju, dan kurmanya. Kemudian, secara berturut-turut diikuti oleh para sahabat yang lain, hingga sedekah berupa makanan dan baju itu menumpuk seperti dua anak bukit.

Melihat pemandangan yang menyenangkan itu, wajah Rasulullah berbinar-binar. Lalu, beliau bersabda bahwa siapa yang berbuat baik dia akan mendapat pahala dari perbuatannya dan juga pahala dari orang yang mengikuti kebaikannya itu tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang mengikuti jejak kebaikannya itu. Demikian sebaliknya ketika seseorang berbuat jelek (HR. Muslim).

Dari riwayat yang amat inspiratif tersebut, Ibnu Katsir lalu menafsirkan, ayat "… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),…” tersebut mengandung pengertian: “perhitungkanlah diri kalian sebelum kalian diperhitungkan oleh Allah SWT di hari kiamat kelak, dan perhatikanlah amal shalih apa yang sudah kalian simpan untuk akhirat dan untuk menghadap Tuhan”.

Jadi, muhasabah adalah menghitung diri atau bertanya kepada diri sendiri tentang amal shalih yang akan menjadi bekal dalam perhitungan (hisab) Allah SWT di hari kiamat nanti.

Sebagaimana dialami para sahabat dalam kisah inspiratif di atas, muhasabah akan langsung menggerakkan kita untuk bersegera mengukir amal shalih ataupun prestasi. Sebab, dengan muhasabah, kita akan menyadari kebutuhan kita terhadap amal shalih. Bahwa kita sangat membutuhkan amal shalih untuk bekal kita di akhirat kelak.

Oleh karena itu, marilah di Tahun Baru 1432 H ini atau 2011 M nanti, kita semua melakukan muhasabah. Kita bertanya pada diri masing-masing, amal shalih apa yang sudah kita lakukan untuk akhirat kita. Sebab, dengan muhasabah itu, kita akan optimistis menghadapi tahun baru. Dan, optimisme itu muncul tiada lain karena karya nyata yang lahir dari kegiatan muhasabah. Wallahu a’lam.

Oleh Achmad Sjamsudin
Dimuat di Republika Edisi Rabu, 22 Desember 2010
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/12/22/153729-muhasabah


********************

Apa yang kita dapatkan bila bertakwa kepada Allah?

Allah Ta’ala menjanjikan kepada kita, akan berada dalam kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Di antara janji Allah yang merupakan buah dari takwa adalah memberikan jalan keluar dan mendatangkan rizki. Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (At-Thalaq: 2-3).

Kita bersyukur kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan bershalawat kepada nabi kita Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam. Kita berharap dan memohon semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala, meridhoi dan menerima amalan yang kita lakukan sebagai amal ibadah yang diterima serta kita memohon pula untuk senantiasa dijadikan pengikut Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang setia hingga akhir hayat serta kita tidak kembali keharibaan-Nya kecuali dalam keadaan berserah diri kepadaNya, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita di dalam surat Ali Imran ayat 102: Artinya: “Dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan beragam Islam.” (QS. Ali Imran 102)

Kamis, 03 Maret 2011

tausiyah sms

Ini adalah kumpulan sms taushiyah yang diberikan sahabat-sahabat ria, daripada penuh-penuhin inbox Hp, mending diabadikan di blog aja :D Semoga bermanfaat ;)

Mari kita berbenah dan terus berbenah untuk mempersembahkan yang terbaik dalam masa hidup kita. Dengan torehan kemuliaan dan semangat pantang menyerah. Di manapun, kapan pun, dan dengan siapapun, selama Allah menjadi JUST THE ONE goal, insya Allah akan “bahagia” sebagaimana doa yang sering terlantun untuk kebahagiaan dunia akhirat.

Jika hati laksana tanaman. Ia bisa segar, layu, dan kering. Karena itu, hati butuh sesuatu yang bisa menyuburkan. Siraman air yang menyejukkan, kehangatan matahari yang menguatkan, dan tanah gembur merupakan lingkungan…

Sabar menghadapi sakit, menguasai diri karena kekhawatiran dan emosi, menahan lidah agar tidak mengeluh merupakan bekal bai orang mukmin dalam perjalanan hidupnya di dunia. Rasulullah bersabda: Tidaklah seorang mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya melainkan Allah mengampuni kesalahannya (H.R. Bukhari)

Salah satu solusi bagi penyakit jiwa adalah keberadaan saudaranya yang senang member nasihat. Yaitu orang yang penuh perhatian kepadamu hingga ia memberitahukan apa yang menjadi kekuranganmu (As Syahid Hasan Al Banna)

Rasulullah sangat berbangga pada para sahabatnya yang garang di medan perang namun sangat tawadhu dan terlihat lemah dihadapan Allah ketika beribadah. Seperti inilah bangganya saya memiliki saudara walaupun jauh namun selalu berbagi semangat dan saling mengirimkan doa…

Ukirlah senyuman yang paling manis, karena selain sedekah, senyuman itu ibarat lukisan rahasia hati dan senyuman itu tidak menyakitkan tetapi menjadi penawar hati yang sakit

Semoga Allah memberikan pelangi dalam setiap badai, sebuah senyuman dalam setiap air mata, sen=buah perlindungan dalam setiap cobaan dan sebuag jawaban untuk setiap doa

Mengenalmu adalah takdir. Menjadi temanmu adalah pilihan. Bersahabat denganmu adalah kesempatan dan menjadi saudara seaqidah denganmu adalah kebahagiaan… uhibbuki fillah ^_^

Sedikit Renungan: Ternyata sifat kita dengan sifat Rasulullah itu beda “SEDIKIT”. Rasulullah sedikit tidur, kita sedikit-sedikit tidur. Rasulullah sedkit makan, kita sedikit-sedikit makan. Rasulullah sedikit marah, kita sedikit-sedikit marah. Rasulullah sedikit bergurau, kita sedikit-sedikit bergurau. Rasulullah sedikit-sedikit beramal, kita beramal sedikit. Rasulullah sedikit-sedikit berkorban untuk Islam, kita sedikit pengorbanan. Rasulullah sedikit-sedikit menolong, kita sedikit menolong. Rasulullah sedikit-sedikit ikhlas, kita ikhlasnya sedikit. Jadi, kapan kita mulai berusaha mengejar perbedaan yang “Hanya SEDIKIT” itu? ;)

Allah tidak menjanjikan langit selalu biru, bunga selalu mekar, bahkan mentari selalu bersinar di tiap kehidupan. Tapi Allah berjanji bahwa dengan Rahman dan RahimNya akan selalu bersama kita dalam keadaan apapun, Allah akan memberi pelangi disetiap badai, senyum disetiap air mata, berkah disetiap cobaan, ayat-ayat cinta disetiap helaan napas dan jawaban disetiap doa...

Sahabat, keindahan mentari pagi dengan cahayanya yang menembus disela-sela pepohonan dan dedaunan adalah kekuatan yangmemberikan kehidupan bagi makhluk. Begitu juga dengan UKHUWAH, ia ibarat mentari yang membangkitkan kehidupan, mata air yang memberikan kesejukan dan pelepas dahaga, rembulan d malam hari yang menerangi perjalanan seorang musafir. Sahabat, hari esok akan menjelang dan perjalanan kita masih terlalu panjang. Genggamlah erat tanganku dan mari kita berjanji bahwa kita akan menruskan perjuangan ini, apapun yang terjadi. Tersenyumlah karena Allah akan meridhai kita, sahabat.

Ya ALLAH, jagalah saudaraku di kala penjagaanku tak sampai padanya, sayangi ia di kala rasa sayangku tak mampu merangkulnya dalam dekapan yang nyata, karuniakan kepadanya kesabaran dan kekuatan, muliakan ia di kala penghargaanku tak terangkum dalam kata yang sahaja, karena Engkau punya segala yang ku tak punya dan karena ku ingin dia selalu menjadi saudaraku di dunia dan mengharap bertemu dengannya di surga..Amin

Ukirlah senyuman paling manis, karena selain sedekah, senyuman itu ibarat lukisan rahasia hati dan senyuman itu tidak menyakitkan tetapi menjadi penawar hati yang sakit

Ya Allah warnai hidupku dengan selalu rindu padaMu, rindu pada RasulMu, rindu pada hamba-hambaMu yang Kau cintai, rindu untuk bertemu di syurga bersama para Nabi dan SYuhada (titip rindu untuk sahabat-sahabat yang member warna hidayah dalam hidupku

“Dihamapari jalan ke syurga dengan perkara-perkara sulit yang dibenci. Dihampari jalan ke neraka dengan nafsu syahwat (yang menggairahkan)” (Murafaqun ‘alaih) “Jika kabur bagimu dua perkara, maka perhatikanlah salah satu dari keduanya yang terasa paling berat bagi nafsu, lalu ikutilah dia. Karena tidak ada yang berat bagi nafsu kecuali sesuatu itu yang benar” (Ibnu Athaillah)

Saudariku, ketenangan itu salah satunya berasal dari kejernihan hati dan bebasnya pikiran dari rasa kekhawatiran, Allah adalah sandaran kita dan Dial ah sebenarnya pembimbing utama skripsi kita. Dia yang meng-Acc kita dan Dia juga yang meluluskan kita. So, apalagi yang menjadi kekhawatiran saat Dia selalu ada di samping kita dan meridhai tulisan-tulisan tinta skripsi kita

Berhenti sejenak bukan berarti patahkan langkah dan menghambat tujuan. Gunakan itu untuk mengisi kekuatan dan lihatlah apa saja yang telah dilakukan. Segera lepas landas dan teruskan perjuangan!

Ya Allah, muliakanlah sadariku semulia bunda Khadijah, selembut bunda Aisyah, setegar bunda Maryam, seanggun bunda Fathimah, secantik bunda Zulaikha, tinggikan derajatnya, mudahkan segala urusannya serta tabahkan dan kuatkan hatinya setangguh bunda Sumayyah, lindungi ia dari segala bahaya. Aamiin… semoga tali persaudaraan tetap terjalin hingga kita termasuk salah satu orang yang mendapat perlindungan dari Allah karena saling mengingatkan dan mencintai karena Allah…

Sejatinya, ikatan hati karena ukhuwah takkan pernah pudar walau terhijab ruang dan masa. Sesunguhnya ukhuwah itu bukan terletak pada pertemuan, melainkan ingatan sahabat terhadap saudaranya dalam untaian doa. Semoga Allah mengeratkan ikatan hati kita. Aamiin

Wahai Rabb Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dengan RahmatMU aku memohon pertolongan. Perbaiki dan lancarkanlah seluruh urusanku, maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata karena sesungguhnya aku adalah hamba yang lemah… Bismillah… Mudah-mudahan hari ini lancer dan dipermudah Allah. Sukses!

Jika sendiri janganlah merasa sepi,ada Alla yang sedang mengawasi. Jika sedih janganlah dipendam di hati, ada Allah tempat berbagi. Jika susah janganlah merasa pilu, ada Allah tempat mengadu. Jika gagal jangan berputus asa, ada Allah tempat meminta. Jika bahagia janganlah menjadi lupa, ada Allah temtap memuja. Ingatlah Allah selalu, ukirlah namaNya dihatimu

Diri ini merindu akan hadirnya ketenangan hati,ketenangan jiwa yang Allah anugerahkan merasuk ke relung kalbu, menjadi jalan keberkahan hidup yang Allah ridhai. Namun, ternyata ku baru tersadar, bahwa datangnya sinaran itu, datangnya hidayah itu, hanya dapat seiring dengan ksungguhan diri mencari jalan kebenaran, jalan keridhaanNya

Seandainya engkau tahu bahwa setan tidak pernah sekeja[ pun lupa kepadamu, maka janganlah sekejap pun engkau lupa kepada Allah yang nasibmu berada dalam kekuasaanNya. Karena kau tak memiliki hati (ibnul Qayyim Al Jauziyah)

Ya Rabb, demi cinta kami kepadaMu, jadikanlah persahabatan kami abadi seperti air yang terus mengalir tanpa henti bak bulan dan bintang yang selalu indah menghiasi malam. Jadikanlah pula persahabatan kami, tulus karena keridhaanMu. Sepucuk doa untukmu, smeoga menjadi pengikat silaturrahim di antara kita

Barakah itu membawa senyum meski air mata menitik nitik. Barakah itu menyergapkan rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat daad kita sesak oleh masalah. Semoga Allah selalu memberikan barakahNya pada kita...

Allah selalu punya hadiah untuk kita. Cahaya untuk setiap kegelapan, solusi untuk setiap permasalahan, kebahagiaan untuk setiap kesedihan, kedewasaan untuk setiap ujian...

Kutitipkan helai-helai rabithah pada desir angin, kusematkan setangkai kata rindu pada ranting cakrawala yang syahdu dan kumunajatkan segala asa dan doa. Semoga Allah selalu mengikatkan dalam tali ikatan ukhuwah yang tidak akan pernah terputus hingga Allah memperyemukan kira di JannahNya...

Dalam segala hal ada keterbatasan. Itulah sebabnya mereka harus bekerja efektif dan menggunakan tenaga seefisien mungkin. Akan tetapi, keterbatasan bukanlah alas an untuk tidak berjuang. Sebab Allah berfirman, “ Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (At-Taghabun: 16). Bahkan nilai kepahlawanan itu sesungguhnya terletak pada capaian-capaian besar di atas keterbatasan. Semangat ya kawanku.

Mari belajar untuk menjadi muslim yang tidak sekadar TAHU tetapi harus YAKIN dengan janji-janji Allah pada hambaNya. Karena keyakinan membuahkan sikap dan amal nyata...

Ya Qawi, Kaulah Zat yang Maha Kuat. Tanamkanlah kekuatan dasyat dalam hatiku, agar aku tak udah menyerah pada ujian hidup, agar aku mampu istiqomah di jalan Mu, keep ur spirit.

Tiga hal dalam hidup takkan pernah kembali: waktu, perkataan, dan kesempatan. Tiga hal dalam hidup yang jangan sampai hilang: kehormatan, harapan, dan kejujuran. Tiga hal dalam hidup yang paling berharga: cinta, kepercayaan, dan persahabatan. Met istirahat...

Di setiap udara yang kau temukan, di sana akan kau jumpai Allah yang senantiasa mendengar doamu. Allah bersamamu tak ada jalan buntu.

Andai kegagalan bagaikan huja dan kesuksesan bagaikan matahari, maka kita butuh keduanya untuk dapat melihat pelangi yang indah. Met belajar… semoga UASnya sukses. Usaha maksimal + doa optimal = sukses...

Praying is free call to Allah. No sim card needed, no busy network, no battery problems, no rejected calls. There just good signals and good answers. All the time.

Bahkan dalam letih pun seorang muslim tetap tersenyum karena apa yang kita tunaikan menjadi jaminan bermaknanya usia dan manfaatnya kehidupan. Semoga kita bisa menjaga keikhlasan.

Rabb,eratkan ukhuwah di antara kami, tarbiyahkan kami dengan kelembutan dan kasih sayang Mu. Yakinkan kami pada jihad di jalan Mu. Selamatkan kami dengan keikhlasan amal padaMu. Jadikan kami ahli syurgaMu.

Sahabat, semoga senantiasa dalam rahmatNya. Selamat berjuang, selamat beribadah, selamat menuju kesuksesan yang hakiki. Semoga Allah memperindah KKN sahabat semua. Ikhtiar yang optimal, sabar, dan tawakal. Semangat!

Allah tidak menciptakan beban tanpa menciptakan pundak. Duhai jiwa-jiwa pengemban amanah, ingatlah setiap tetes keringat, tiap rupiah, tap detik, tiap langkah yang kita ikhlaskan utnuk tegaknya panji-panji Allah akan diganti batubata-batubata yang Allah susun di surge. Semegah apa istana kita di surga? Sebanyak pengorbanan kita hari ini, di sini, di dunia ini. Selamat berjuang di lading amal KKN. Semangat ! Barakallah...

Bila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan bila kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah (H.R. Tirmidzi)

Apa kabar hati? Semoga selalu bersih tanpa kalbu. Apa kabar iman? Semoga selalu menapak maju. Apa kabar cinta? Semoga selalu berpeluh rindu padaNya. Apa kabar sahabat? Semoga Allah selalu menjagamu...

Jika dakwah adalah jalan panjang. Jangan pernah berhenti sebelum menemukan penghujungnya. Jika dakwah bebannya berat. Jangan minta yang ringan tapi mintalah punggung yang kuat untuk menopangnya. Jika pendukungnya sedikit maka jadilah yang sedikt itu. Keep spirit!

Bagaimana bila kita sampai jatuh cinta? Tidak salah, tapi mendai salah bila berada pada keadaan dan waktu yang belum tepat. Kuatkan hati ikhwatifillah, bila sudah merasa ada yang salah, sejak awal, ya, SEJAK AWAL, kita harus MEMENANGKAN ALLAH di hati !! Perasaan yang mungkin ada saat ini atau nanti adalah keindahan dunia, tapi Allah menawarkan kepada kita kebaikan dunia serta balasan di negeri akhirat yang dekat denganNya. Dialah SEGALANYA bagi kita, teutama, tertinggi… maka cinta kita kepada manusia haruslah karena Dia dan benar jalannya. Bila cinta manusiawai kita mengotori cinta kita kepadaNya, maka orang-orang beriman yang mencintai Allah, Rasul dan negeri akhirat, TAHU APA YANG HARUS IA PILIH!!! Bila ada masa dimana Dia titipkan rasa, maka itu adalah untuk menguji cintamu padaNya. Semoga kita selalu memenagkan Allah di ahti, hingga nanti bertemu dengan Nya. Aamiin…

Jangan biarkan tets air mata menghapus semua keindahan dan menodai segala harapan!! Dan ingatlah, selama ada waktu pasti ada kesempatan untuk mendapatkan yang terbaik!

PadaMu Rabbi, ajarkan kami bagaimana berpikir sebelum bicara, untuk menerima sebelum menuntut, untuk tersenyum disaat kecewa, untuk tenang dikala gundah, untuk diam dikala gaduh dan bersahaja di atas kebenaran… Aamiin.

Semakin hari semakin kusadari bahwa betapa mulia menyeru kepada Allah, betapa sejuk melayani umat, betapa indah keikhlasan… kita tidak sedang berlelah-lelah, kita hanya bermainmain di halaman surga… semangat!

Sejarah takkan pernah sedikitpun mencatat langkah orang-orang biasa. Ia hanya akan mencatat dengan tinta emas langkah orang-orang luar biasa yang membawa perbaikan dan kemanfaatan. Terus barokah karena tiap detik adalah perbaikan, pembelajaran, dan kesungguhanmeraih ridha Allah. Ingatlah bahwa kita adalah penggerak perubahan, langkah harus semakin tegap, karena perubahan adalah kepastian, bangkitkan semangat dan rebut tiap peluang yang ada!

Ukhuwah adalah cinta yang mengalir melalui keimanan, bersemi dengan pupuk nasihat, tertawa dalam doa dan berbuah dalam pertemuan di syurga. Ukhuwah adalah menguatkan. Menjaga, memperbaiki, member, menghilangkan kelalaian dan saling mengingatkan. Semoga Allah memperkokoh persaudaraan di antara kita…

Untukmu yang hatinya bening bercahaya, bersahabatlah dengan ikhlas agar tenang jiwa, bermuamalahlah bersama muhasabah agar bersih hati...

Rabb, ajari kami tesenyum meski berat oundak memikul beban, ajari kami berlapang dada meski banyak hal yang menyesakkan jiwa, ajari kami rendah hati karena Kaulah yang Maha Tinggi, bantu kami bersabar ya Rabb, sungguh beratnya perjuangan ini tak sebanding dengan manisnya surgaMu.

Tidak ada yang tahu sampai kapan kita berada di jalan ini.mungkin kita pun tidak pernah bermimpi untuk berada dalam kereta dakwah ini. Tapi inilah yang harus menjadikan kita bersyukur atasnya, kenikmatan akan indahnya ukhuwah yang diawali pada indahnya hidayah…

Selasa, 01 Maret 2011

Heraklius, Sang Kaisar Romawi Yang Tertunduk Di Depan Islam faanzirtasdiqunnas



Islam, sejak dikumandangkan pertama kali oleh Rasulullah, pelan tapi pasti kian berkembang dan diakui.
Untuk memperluas dakwah Islamiyah, Rasulullah SAW mengirim surat ke beberapa raja Arab dan non-Arab.

Di antara raja yang mendapat seruan secara tulisan itu adalah Heraklius, kaisar Romawi. Untuk mengemban amanat ini, beliau mengutus Dhihya bin Khalifah Al-Kalabi.
Setelah melakukan perjalanan cukup panjang akhirnya Dhihya tiba di istana raja Romawi. Surat Rasulullah langsung dibaca oleh salah seorang staf Heraklius.
“Dari Muhammad utusan Allah, kepada Heraklius, Pembesar Romawi…”

Mendengar bunyi awal surat itu, keponakan pembesar Romawi langsung marah, lalu berseru, “Surat ini tidak boleh dibaca sekarang.!”

“Kenapa?” tanya Kaisar.

“Dia memulai dengan namanya dulu sebelum engkau. Kemudian dia memanggilmu dengan pembesar Romawi, bukan Maharaja Romawi.”

“Tidak!” sambut Kaisar, “Biar surat ini dibaca untuk diketahui isinya.”

Surat Nabi SAW itu terus dibacakan hingga selesai. Setelah semua pengiring Kaisar keluar dari majelisnya, Dhihya dipanggil untuk masuk. Bersamaan dengan itu dipanggillah seorang uskup yang mengetahui seluk beluk agama mereka. Kaisar lalu memberitahu uskup itu dan dibacakan sekali lagi surat itu kepadanya.

“Inilah yang selalu kita tunggu-tunggu, dan Nabi kita, Isa sendiri telah memberitahukan kita sejak lama!” jawab sang uskup.

“Apa pendapatmu yang harus aku perbuat?” tanya Kaisar kepada uskup.

“Kalau engkau tanya pendapatku, aku tentu akan mempercayainya dan akan mengikuti ajarannya,” jawab uskup dengan jujur.

“Tetapi aku jadi serba salah,” kata Kaisar,

“Jika aku ikut nasihatmu, akan hilanglah kerajaanku!”

Sementara Dhihya diperbolehkan meninggalkan tempat itu, raja Romawi terus bertukar pendapat dengan sang uskup. Kebetulan, waktu itu, Abu Sufyan bin Harb sedang berada di Romawi. Kala itu ia belum masuk islam. Ia dipanggil oleh Kaisar untuk dimintai keterangan tentang Muhammad SAW.

“Coba engkau beritahu kami tentang orang yang mengaku Nabi di negerimu itu!” tanya Kaisar.

“Dia seorang anak muda,” jawab Abu Sufyan.

“Bagaimana kedudukannya dalam pandangan masyarakatmu?”

“Tidak ada yang melebihi kedudukan dan keturunannya,” jawab Abu Sufyan jujur.

“Ini tentulah tanda-tanda kenabian,” Kaisar berbisik-bisik kepada orang-orang di sampingnya.

“Bagaimana bicaranya, apakah dia selalu berkata benar?”

“Betul,” jawab Abu Sufyan, “Dia memang tidak pernah berkata dusta.”
“Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!”

Kaisar terus berbisik-bisik kepada orang-orang yang mengiringnya itu. “Baiklah,” kata Kaisar lagi. “Adakah di antara pengikutnya yang meninggalkan agama nenek moyangmu, kembali ke agama mereka lagi?”

“Tidak,” jawab Abu Sufyan.

“Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!” kata Kaisar pula. “Apakah terjadi peperangan di antara kamu dengannya?”

“Ya,” jawab Abu Sufyan.


“Siapa yang selalu menang?”

“Kadang-kadang dia menang, kadang-kadang kami mengalahkannya,” jelas Abu Sufyan.
“Ini lagi satu tanda-tanda kenabian,” kata Kaisar Romawi itu.

Beberapa saat kemudian Dhihya Al-Kalbi dipanggil oleh Kaisar Romawi, seraya berkata, “Sampaikanlah berita kepada pembesarmu itu, bahwa aku tahu dia memang benar Nabi, tetapi apa daya, aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku tak mau ditumbangkan dari kerajaanku.”

Adapun sang uskup itu yang biasanya selalu datang ke gerejanya setiap hari Ahad untuk menyampaikan ajaran Nasrani, sejak pertemuan itu, terus berdiam di rumahnya. Lantaran kecewa karena sang uskup tidak datang ke gereja, orang-orang pun berdatangan ke rumahnya.

Kepada mereka, sang uskup mengatakan dirinya sedang sakit. Kejadian itu berlangsung berkali-kali, sehingga orang-orang mencurigainya. Mereka lalu mengirim utusan kepada sang uskup dan memberinya peringatan. Jika ia tak mau datang lagi ke gereja, mereka akan datang beramai-ramai ke rumahnya dan akan membunuhnya.

Menurut orang-orang itu, sejak kedatangan Dhihya, sikap uskup banyak berubah. Sang uskup segera memanggil Dhihya, dan menyampaikan sepucuk surat. “Ini suratku, ambillah dan serahkan kepada pembesarmu itu,” pesan uskup itu dengan hati yang tidak tenang. “Sampaikan salamku kepadanya, dan beritahukan bahwa aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah. Katakan juga, bahwa aku beriman kepadanya, mempercayainya, dan menjadi pengikutnya. Dan kaumku telah mengingkari semua kata-kata dan nasihatku. Ceritakan juga apa yang engkau saksikan ini,” pesan uskup. Sejak saat itu sang uskup tidak datang lagi ke gereja. Sampai akhirnya ia dibunuh.

Sementara itu, sebenarnya Heraklius sudah meyakini kebenaran ajaran Islam. Namun, seperti yang ia katakan, ia malu untuk meninggalkan agama Nasrani. Apalagi kedudukannya sebagai raja. Tidak mungkin tunduk begitu saja kepada ajaran Dhihya yang menurut mereka orang Badui. Ia segera menyuruh salah seorang utusan membawa suratnya kepada Rasulullah.

“Bawalah suratku ini kepada orang yang mengaku Nabi itu,” kata Heraklius. “Tetapi dengar baik-baik apa yang dikatakannya dan ingat tiga hal berikut ini. Pertama, apa komentarnya ketika membaca suratku. Kedua, apakah dia akan menyebut perkataan ‘malam’, atau tidak? Ketiga, usahakan sampai engkau dapat melihat di belakang tubuhnya. Adakah suatu tanda yang menarik perhatianmu? Ingat baik-baik tiga perkara ini. Beritahu aku apa yang engkau lihat!” pesan Heraklius dengan hati-hati. Utusan itu berangkat membawa surat Heraklius, hingga tiba di Tabuk. Di situ dia bertanya kepada para sahabat Rasulullah, “Di mana ketua kamu, yang dikatakan Nabi itu?” tanyanya.

“Di sana. Yang sedang duduk dikelilingi orang,” jawab salah seorang dari mereka.

Saat itu Nabi SAW sedang duduk di tepian telaga kecil bersama beberapa sahabatnya. Utusan itu pun maju ke dapan, menyerahkan surat Heraklius kepada Rasulullah.

“Dari mana engkau?” tanya Rasulullah.

“Aku orang Tarukh,” jawab utusan itu.

“Maukah engkau kembali kepada agama yang suci dari kepercayaan nenek moyang kamu Ibrahim?” tanya Nabi SAW.

“Aku ini utusan sebuah negara dan menganut agama negara itu. Tidaklah wajar aku mengubah agamaku sehingga aku kembali kepada mereka lebih dulu,” jawabnya jujur.

“Hai saudara dari Tarukh,” tiba-tiba Nabi SAW berseru, “Aku telah menulis surat kepada Kisra (pembesar Persia), lalu suratku dikoyak-koyaknya, kelak Allah akan mengoyak-ngoyakkannya dan kerajaannya. Dan aku menulis surat kepada pembesarmu, dia masih ragu.”

Mendengar ucapan tersebut sang utusan berkata dalam hati, “Nah, salah satu dari tiga yang dipesan oleh Heraklius supaya aku ingat baik-baik.” Dia pun mengeluarkan sarung isi panahnya dan mencatat apa yang disampaikan Nabi.

Rasulullah menyerahkan surat Heraklius itu kepada seorang yang duduk di kirinya, yaitu Muawiyah untuk membacanya. Dalam suratnya Heraklius menyebut-nyebut surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

“Di manakah letaknya neraka, wahai Rasulullah?” salah seorang sahabat tiba-tiba bertanya.

“Subhanallah! Ajaib sekali pertanyaan ini,” ujar Nabi SAW, “Jadi di manakah malam jika datang siang?” tanya beliau.

Utusan itu pun segera mencatat apa yang dikatakan Nabi. Beliau menyebutkan kata malam yang mesti disampaikan kepada Heraklius. Setelah membaca surat Heraklius Rasulullah bersabda, “Engkau patut diberi hadiah karena engkau utusan kepada kami. Seandainya kami mempunyai sesuatu yang berharga, tentu akan kami berikan kepadamu. Akan tetapi kami adalah musafir yang mempunyai perbekalan terbatas.”

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Rasulullah, “Aku yang akan memberinya hadiah jika engkau perkenankan, ya Rasulullah!” Sahabat yang tak lain Utsman adanya segera mengeluarkan seperangkat pakaian kepada utusan itu.

“Siapakah yang bersedia menerima orang ini sebagai tamunya?” tanya Rasulullah lagi.

“Saya!” jawab seorang pemuda Anshar lalu bangkit mengajak utusan itu pergi. Ketika ia akan meninggalkan tempat itu, Rasulullah memanggilnya, “Hai Saudara dari Tarukh!”
Utusan itu segera mendekat, berdiri di sisi Rasulullah. Beliau lalu menarik pakaiannya sehingga terbuka bagian belakangnya, sambil berkata, “Tunaikanlah tugasmu dengan baik, sebagaimana yang disuruh oleh tuanmu!” Saat itulah utusan itu bisa melihat dengan jelas tanda di belakang badan Rasulullah, yaitu semacam cap (khatamun-nubuwah)


Ahmadiyah Murtad & Dimusuhi Karena Ajarkan Ada Nabi Lagi Sesudah Muhammad


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang hak. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada penutup para nabi dan rasul yang tiada nabi sesudahnya, Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.

Bentrokan berdarah antara Jemaat Ahmadiyah dengan warga muslim kembali terjadi di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, Ahad (6/2/11) kemarin. Dan menurut pemberitaan voa-islam.com, terdapat beberapa anggota Jemaat Ahmadiyah yang tewas. Salah satu korbannya bernama Mulyadi (Bukan Mulyadi Pemred voa-islam.com).

Bentrokan tersebut dipicu oleh sikap Ahmadiyah yang tidak mau mematuhi keputusan SKB 3 Menteri tahun 2008 yang memperingatkan dan memerintahkan kepada penganut, anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW, (Point kedua dalam SKB tersebut).

Selain masih tetap menyebarkan ajaran sesatnya tersebut, Ahmadiyah juga bersikap arogan dan berulah memancing kerusuhan dengan menantang perang dan membacok tangan warga hingga nyaris putus. Akibatnya, wargapun marah sehingga terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa.

Kenapa Umat Islam Marah Kepada Ahmadiyah?

Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran pokok Islam. Yang barangsiapa menyimpang darinya maka dia keluar dari Islam, yaitu meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah penutup para Nabi dan Rasul. Hal ini dijelaskan dengangambalang oleh nash yang sharih dan shahih sehingga tidak membutuhkan penakwilan lagi. Namun, jemaat Ahmadiyah meyakini masih ada Nabi sesudah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang bernama Mirza Ghulam Ahmad dari India.

Dan selanjutnya silahkan simak tulisan yang kami nukil dan terjemahkan dari kitab yang membahas pokok-poko ajaran Islam yang wajib diketahui setiap muslim, yaitu Maa Laa Yasa’ al-Muslima Jahluhu, tulisan DR. Abdullah Al-Mushlih dan DR. Shalah Shawi.

___________

Kita bersaksi bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah penutup para Nabi. Maka siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam. Karena berarti dia telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku seperti seorang laki-laki yang membangun rumah, ia tata dan percantik rumah itu. Hanya saja ada satu tempat sebesar batu bata di sebelah pojok. Lalu orang-orang berkeliling di sekitarnya dan terpesona dengan keindahannya. Mereka berkata, ‘Alangkah baiknya kalau batu bata ini diletakkan di tempatkan itu.’ Beliau bersabda, ‘Aku adalah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi’.” (Mutaafaq ‘alaih) dan dalam riwayat Muslim, “Maka aku adalah tempat batu bata tersebut, aku datang dan menjaid penutup para Nabi.

Siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam.

Karena berarti dia telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadits lain,

أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

Aku adalah Muhammad, dan aku adalah Ahmad. Aku juga الْمَاحِي “al-Mahi” yang kekufuran terhapus denganku. Aku adalahالْحَاشِر (pengumpul) yang seluruh manusia dikumpulkan sesudahku. Aku juga juga الْعَاقِبُ (yang terakhir) yang tidak ada nabi sesudahnya.” Dan dalam riwayat Muslim lainnya,

وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ

Dan aku الْعَاقِبُ (yang terakhir) yang tidak ada seorang nabi-pun sesudahnya.

فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ

Aku diistimewakan dari nabi yang lain dengan enam perkara: Aku diberi jawami’ al-kalim (kalimat ringkas namun padat maknanya), aku dimenangkan dalam peperangan dengan masuknya rasa takut pada musuhku, Dihalalkan ghanimah bagiku, dijadikan bumi buatku suci dan tempat sujud, aku diutus untuk seluruh umat manusia, dan para nabi ditutup oleh aku.” (HR. Muslim)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar menuju Tabuk dan menunjuk Ali menggantikannya. Lalu Ali berkata, “Apakah Anda meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?!” Beliau bersabda,

أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي

Tidakkah engkau ridha menempati poisiku sebagaimana kedudukan Harun dari Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan dalam riwayat Muslim,

غَيْرَ أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

Hanya saja (bedanya) tidak ada kenabian sesudahku.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

Bani Israil dahulu dipimpin para Nabi. Setiap meninggal seorang nabi, maka datang nabi lain menggantikannya. Dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, yang akan ada adalah para khalifah. Jumlah mereka banyak. Para sahabat bertanya, ‘Apa yang anda perintahkan kepada kami.’ Beliau menjawab, ‘Penuhilah bai’at orang paling pertama, kemudian baru orang setelah itu. Berikan hak mereka, maka sungguh Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka dari kepemimpinan mereka’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Orang-orang pertama dan terakhir akan memberikan kesaksian itu kepada beliau. Yaitu di hari saat Allah mengumpulkan mereka di satu tempat pada hari kiamat. Seorang penyeru akan menyeru mereka dan pandangan menembus mereka. Kemudian mereka tergesa-gesa mendatangi para anbiya’ untuk meminta syafa’at. Ketika sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mereka bersaksi bahwa beliau adalah rasul terakhir. Mereka berkata kepadanya,

يَا مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ وَخَاتِمُ الْأَنْبِيَاءِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ

Wahai Muhammad, Anda adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan akan datang. Berilah kami syafaat (pertolongan) kepada Rabbmu, tidakkah engkau lihat kondisi kami.” (HR. Al-Bukhari)

Berdasarkan semua ini, maka apa yang diklaim oleh sekte Qadiyaniyah (Ahmadiyah) di semenanjung Hindia tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad, telah mengeluarkan mereka dari Islam.

Apa yang diklaim oleh sekte Qadiyaniyah (Ahmadiyah) di semenanjung Hindia tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad, telah mengeluarkan mereka dari Islam.

Universitas Al-Azhar di Mesir, Rabithah ‘Alam Islami di Makkah Mukarramah, seminar OKI yang diselenggaran di Rabithah, Lajnah Daimah (Panitia Tetap) untuk kajian Ilmiah, Fatwa, dan dakwah di Riyadh dan lembaga-lembaga keIslaman di seluruh dunia lainnya telah mengeluarkan keputusan bahwa Qadiyaniyah adalah kelompok yang sudah murtad dari Islam. Parlemen Pakistan tahun 1976 juga telah mengeluarkan keputusna yang sama.

Adab Terhadap Allah SWT


Allah SWT, telah menciptakan kita sebagai makhluk yang paling sempurna, melebihkan kita atas kebanyakan makhluk-Nya, memberi kita rizki dari yang baik-baik, dan tidak pernah putus mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, selalu menebarkan sifat Rahman dan Rahim-Nya kepada seluruh makhluk.

Sebagai salah satu ciptaan-Nya, merupakan hal yang semestinya bagi kita melaksanakan kewajiban-kewajiban, hak-hak, dan adab-adab kepada Allah SWT. Maka, diantara kewajiban-kewajiban dan hak-hak itu adalah sebagai berikut: Pertama, beribadah dan tidak menyekutukan-Nya."Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS Adz-Dzariyat:56).

Firman Allah tersebut menggariskan misi hidup manusia dengan tegas, yakni ibadah. Substansinya, seluruh gerak langkah, desah nafas, dan aliran darah manusia tidak boleh keluar dari kerangka pengabdian (ibadah) kepada Allah SWT.

Dengan demikian, ibadah seharusnya menjadi aktivitas keseharian kita sebagai makhluk-Nya selama dua puluh empat jam. Lalai terhadap hal ini berarti penyia-nyiaan kita akan salah satu hak-hak Allah SWT dari makhluk-Nya dan penyia-nyiaan terhadap kesempatan hidup yang akan menjadi penyesalan paling dalam di hari akhir
(QS Az-Zumar:56).

Beribadah kepada Allah SWT, selain disertai dengan niat ikhlas, juga menjauhkan diri dari menyekutukan-Nya. "Dari Ibnu Mas'ud RA, berkata: aku bertanya kepada Rasulullah SAW: "Dosa apakah yang paling besar? Rasul menjawab: Engkau membuat sekutu bagi Allah padahal Dia-lah yang menjadikanmu." (HR Bukhari, 4:303).

Setiap Rasul di utus pada tiap-tiap ummat untuk menyerukan,"Sembahlah Allah dan jauhi Thagut". Hadits di atas menunjukan salah satu tugas Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya, bahwa salah satu adab kita kepada Allah SWT adalah beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Termasuk dosa besar apabila kita menduakan Allah SWT dengan harta, jabatan, kedudukan, maupun dengan keyakinan-keyakinan lainnya yang menyimpang.

Dalam salah satu haditsnya yang lain, Rasulullah SAW bersabda: "Jauhilah oleh kalian tujuh perbuatan maksiat. Ditanyakan: Wahai Rasulullah! Apa tujuh perbuatan itu? Rasul menjawab: Menyekutukan Allah dan sihir.....". (HR Muslim, 1:51).

Kedua, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya adalah merupakan kewajiban kita dan hak Allah SWT atas hamba-Nya. "Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah." (QS Al-Baqarah:172).

Betapa besar karunia yang Allah berikan kepada kita, udara segar yang kita hirup setiap hari, cahaya matahari yang selalu menghangatkan tubuh kita, berbagai jenis makananan dan tumbuh-tumbuhan, air jernih sebagai sumber kehidupan, hidup sehat, harta dan kedudukan yang kita miliki, semuanya adalah nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita sebagai makhluk-Nya. Tidak akan pernah terhitung berapa banyak nikmat yang Allah berikan, sekalipun lautan dijadikan tinta, pohon-pohon dijadikan pensilnya. Tapi, mengapa kita tidak pernah bersyukur atas segala pemberian-Nya?. "....bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari (nikmat-Ku)." (QS Al-Baqarah:152).

Bentuk pengingkaran kita atas nikmat Allah SWT adalah bersikap kufur dan seolah-olah segala yang kita miliki mutlak hasil jerih payah kita dengan mengenyampingkan eksistensi Allah SWT sebagai pemberi rizki. Bukankah ketika kita bersyukur, Allah SWT akan menambah nikmat-Nya dan ketika kita kufur, Allah SWT telah menyediakan siksa yang sangat pedih?.

Oleh sebab itu, sebagai salah satu wujud adab kita kepada Allah SWT, adalah bersyukur dan mensyukuri segala pemberian nikmat dan karunia-Nya dan buang jauh-jauh segala sifat Qorunisme yang melekat pada diri kita.

Ketiga, bertaubat, istighfar dan sadar banyak berbuat dosa adalah adab kita kepada Allah SWT. "Katakanlah; Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengampuni lagi Maha Penyayang".(QS. Az-Zumar:53).

Dalam mengarungi kehidupan, ketika derajat keimanan "yaziid" (bertambah) manusia akan ingat dan ta'at kepada Allah SWT. Tapi, ketika derajat keimanan "yanqus" (berkurang) adakalanya manusia terjerambab dalam perbuatan dosa dan maksiat. Ketika dalam kondisi seperti itu, bersegeralah bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. "Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (hari kiamat). Maka ia (Abu Hurairah) menceritakan hadits dan diantaranya: Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi sampai mencucurkan air mata". (HR. Bukhari-Muslim).

Seberat dan sebesar apapun dosa kita, Allah SWT akan mencurahkan kasih sayang-Nya dengan mengampuni hamba-hamba-Nya yang jatuh dalam kubangan dosa. "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian) niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai waktu yang ditentukan........" (QS Hud:3).

Saat ini, kita masih diberi kesempatan untuk menikmati hidup, janganlah sia-siakan hidup ini, janganlah memandang remeh akan perbuatan dosa. Sebab dosa, adalah penyebab kita akan mendapatkan murka dan siksa Allah SWT. "Bagi orang mukmin melihat dosa-dosanya itu seolah-olah ia duduk di bawah gunung dimana ia merasa takut gunung itu akan menimpanya, sedangkan bagi orang fajir, melihat dosa-dosanya itu bagaikan lalat yang lewat di atas hidungnya".(HR Bukhari 4:99).

Selagi nafas masih ada, selagi malaikat Izrail belum mencabut nyawa, hiasi hari-hari kita dengan senantiasa beribadah dan beristighfar kepada Allah SWT, atas segala perbuatan dosa kita. "Demi Allah! sesungguhnya aku (Muhammad) beristighfar (minta ampun) kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR Bukhari).

Itulah diantaranya kewajiban, hak-hak, dan adab kita sebagai makhluk kepada Allah SWT. Semoga dalam keseharian kita selalu beribadah kepada-Nya tanpa disertai kemusyrikan, mensyukuri segala nikmat-Nya, dan senantiasa bertaubat dan beristighfar (memohon ampun) atas dosa-dosa kita. Aamiin.

Template by:

Free Blog Templates