Rabu, 06 Juli 2011

TUKANG KAYU DAN RUMAH TERAKHIR

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, ” katanya, “hadiah dari kami.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.
Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup
kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

Senin, 04 Juli 2011

pesan ibu

Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, “Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!”

“Tidak Dik, saya mau makan nasi saja,” kata si pemuda menolak.

Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.

Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, “Tidak Dik, saya sudah kenyang.”

Sambil terus mengikuti si pemuda, si anak berkata, “Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om.”

Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. “Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya.”

Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.

Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, “Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?”

“Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu.”

Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. “Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh.” Si anak pun segera menghitung dengan gembira.

Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, “Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu.”

Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, “Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami.”

Hikmah:
Ini sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang POSITIF dan TERHORMAT. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.

Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam menjalani kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita miliki itu akan mengkristal menjadi karakter, dan karakter itulah yang akan menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang mampu kita ukir dengan gemilang.

Takwa dan Fungsinya



Takwa adalah bekal hidup paling berharga dalam diri seorang muslim. Tanpanya hidup menjadi tidak bermakna dan penuh kegelisahan. Sebaliknya, seseorang akan merasakan hakikat kebahagiaan hidup, baik di dunia mau pun di akhirat apabila ia berhasil menyandang sebagai orang yang bertakwa.

Kata takwa sudah amat akrab di telinga kita. Tiap khutbah Jumat sang khotib senantiasa menyerukannya. Bahkan di tiap bulan Ramadhan, kata taqwa pun menghiasi ceramah-ceramah atau kultum-kultum yang diadakan. Taqwa adalah bekal hidup paling utama.

Ketika Abu Dzarr Al-Ghifari meminta nasihat kepada baginda Rasulullah, maka pesan paling pertama dan utama yang beliau sampaikan kepada sahabatnya itu adalah takwa. Kata Rasulullah SAW, "Saya wasiatkan kepadamu, bertakwalah engkau kepada Allah karena takwa itu adalah pokok dari segala perkara." [Nasr bin Muhammad bin Ibrahim, Kitab Tanbih al-Ghofilin li Abi Laits As-Samarkindi]

Secara lughah (bahasa), takwa berarti: takut atau mencegah dari sesuatu yang dibenci dan dilarang. Sedangkan menurut istilah, terdapat pelbagai pengertian mengenai takwa. Ibn Abbas mendefinisikan, taqwa adalah takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya. [tafsir Ibn Katsir, hal. 71]

Imam Qurthubi mengutip pendapat Abu Yazid al-Bustami, bahwa orang yang bertakwa itu adalah: "Orang yang apabila berkata, berkata karena Allah, dan apabila berbuat, berbuat dan beramal karena Allah." Abu Sulaiman Ad-Dardani menyebutkan: "Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang kecintaan terhadap hawa nafsunya dicabut dari hatinya oleh Allah." [Al-Jami li Ahkamil Qur'an, 1/161]. Sedangkan Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah menegaskan, bahwa hakikat taqwa adalah taqwa hati, bukan takwa anggota badan." [lihat: Ibn Qayyim al-Jauziyyah, kitab al-Fawaid, hal.173]

Umumnya, para ulama mendefinisikan taqwa sebagai berikut: "Menjaga diri dari perbuatan maksiat, meninggalkan dosa syirik, perbuatan keji dan dosa-dosa besar, serta berperilaku dengan adab-adab syariah." Singkatnya, "Mengerjakan ketaatan dan menjauhi perbuatan buruk dan keji." Atau pengertian yang sudah begitu populer, taqwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.

Dari definisi-definisi di atas menunjukan bahwa urgensi taqwa sudah tidak diragukan lagi, apalagi Al-Qur'an dan hadis Nabi SAW. secara berulang-ulang menyeru kita supaya bertaqwa. Khusus bagi orang-orang yang bertakwa, Allah telah menjanjikan berbagai macam keistimewaan atau balasan atas mereka, di antaranya: pertama, bagi siapa saja yang bertaqwa kepada-Nya, maka akan dibukakan baginya jalan keluar ketika menghadapi pelbagai persoalan hidupnya. (QS Ath-Thalaq: 2).

Kedua, memperoleh rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS At-Thalaq:3). Ketiga, dimudahkan segala urusannya (QS Al-Thalaq:4). Kelima, diampuni segala dosa dan kesalahannya, dan bahkan Allah SWT. akan melipatgandakan pahala baginya (QS Al-Thalaq: 5). Keenam, orang yang bertaqwa tidak akan pernah merasa takut, mengeluh, was-was dan sedih hati (QS Yunus: 62-63). Ketujuh, mereka yang bertaqwa akan memperoleh berita gembira (al-busyra), baik di dunia maupun di akhirat (QS Yunus: 64).

Di samping memberikan motivasi, janji-janji yang terkandung dalam ayat-ayat di atas juga menjelaskan tentang keutamaan taqwa dan fungsionalnya terhadap problematika kehidupan seorang muslim. Oleh sebab
itu, tidak semestinya bagi seorang muslim atau mukmin memandang remeh perkara ini. Pasal, taqwa berfungsi sebagai bekal hidup yang paling esensial dan substansial.

Lebih-lebih, bagi seorang pemimpin yang sedang memikul amanah dan tanggung jawab, bekal ketaqwaan tentunya sangat diperlukan. Tidak mustahil, seorang pemimpin, apa pun posisi dan levelnya akan mampu menunaikan tugas-tugasnya dengan baik, menemukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya serta dapat mencapai tujuan kolektifnya, apabila pemimpin tersebut membekali dirinya dengan ketakwaan kepada Allah.

Ibadah puasa Ramadhan tahun ini sudah hampir tiba. Kehadirannya merupakan momentum yang sangat berharga bagi kita untuk bermuhasabah dan berlomba-lomba dalam memperbanyak amal kebajikan sehingga kita betul-betul termasuk golongan insan bertakwa. Wallahu'alam bis shawab.

Anger management

Oleh Syaifoel Hardy

Menurut pandangan ahli ilmu jiwa, manusia yang sehat itu apabila bisa bersenang-senang atau bergurau (fun), bermain (play) serta bekerja (work). Jika salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak terpenuhi, maka jiwa kita memerlukan terapi.

Bayangkan saja apabila dalam kehidupan sehari-hari ini kita hanya bekerja dan bekerja. Betapa membosankan. Tidak terkecuali apabila kehidupan kita hanya berisi senda-gurau semata. Atau kita penuhi kegiatan mainan. Betapa berantakannya kehidupan yang tidak pernah serius ini.

Kombinasi ketiga aspek tersebut, apakah itu di rumah, di kantor atau di masyarakat penting sekali demi keseimbangan kesehatan jiwa kita. Rasulullah SAW saja dalam riwayatnya memiliki selera humor, juga suka bermain dengan cucu-cucu beliau SAW, selain bekerja keras.

Apakah itu berarti bahwa kita tidak boleh marah? Atau orang yang marah berarti tidak sehat?

Pulang dari kerja kemarin, suhu udara di Qatar cukup panas. Empat puluh tujuh derajat celcius. Di Surabaya dan Jakarta, maksimal suhu udara 33-34 saja sudah demikian gerahnya. Apalagi suhu sedemikian tinggi di Timur Tengah. Konon, akan lebih panas lagi jika tidak punya duit (Fun: Red!). Tambah panas kan?

Ketika saya nyalakan AC kamar, kali ini koq agak beda. Padahal, pagi hari sebelum berangkat ke kantor rasanya normal-normal saja. Saya cek di sana-sini. Saya tekan beberapa tombol bergantian yang ada di remote control AC tersebut. Tidak juga berubah. Saya putuskan menghubungi Teknisi AC. Sejumlah petunjuk diberikan. Anehnya, tidak juga membawa hasil.

Akhirnya saya cari manual nya. Alhamdulillah masih saya simpan. Biasanya saya paling nggak suka menyimpan hal-hal yang demikian. Tapi tahun lalu, entahlah. Manual AC ini tidak terbuang. Tahap-demi tahap saya baca. Sampai akhirnya pada bagian Out Door Unit. Bagian ini, disarankan tidak boleh terkena sinar matahari atau kipas anginnnya tidak boleh ada block. Artinya, harus menghadap ke udara bebas.

Nah! Outdoor unit AC ini letaknya di teras lantai lima gedung kami. Saya yakin, pasti ada yang nggak beres! Tanpa sabar menunggu, karena udara memang mulai panas juga di dalam rumah, saya naik lift.

Benar dugaan saya. Pindahnya rumah penjaga gedung (watchman) kami ke atas, membuat unit tersebut terganggu. Bagaimana tidak terganggu? lha wong letaknya sudah berubah!

Tanpa berpikir panjang, saya kontak watchman. Kemudian saya suruh menghubungi teknisi AC. Berhubung pulsanya nggak cukup, dia meminta saya menelepon Foreman. Bebeberapa kali ringing, tidak diangkat. Kirim sms juga nggak ada tanggapan. Saya putuskan menelepon dan menelpon lagi.

Begitu dia angkat, kesempatan besar nih untuk ‘nyerocos’!

Saya marah! Anehnya, sudah tahu bahwa marah, lha koq malah bertanya ke saya: “Why are you angry?” Lha yang bilang saya ketawa itu memangnya siapa? Of course saya marah!

Bagaimana tidak marah? Unit yang ada di teras atas gedung itu kan punya saya? Tanpa meminta izin si empunya, tukang dia yang mendirikan kamar watchman di atas itu seenaknya saja memindahkannya ke lain tempat. Bukan hanya itu. Salah satu kabel penguhubungnya ada yang putus. Parahnya lagi, ada pipa kecil yang bocor, sehingga gas yang ada dalam AC nyaris kosong. Pantes, suhu udara jadi kayak seterika saja!

Sebetulnya, saya menyadari bahwa hal-hal yang seperti ini tidak harus diekspresikan dalam bentuk kemarahan. Niat saya hanya ‘mengajar’ sang Foreman. Kalau saja saya tidak marah, saya kuatir dia akan perlakukan orang lain sama dengan saya nantinya. Jadi, korban malah lebih banyak. Makanya, dibalik kemarahan ini, saya bermaksud ada hikmanya.

Ketika sang teknisi AC sedang sibuk membetulkan kabel-kabel AC, saya bilang kepada watchman: “Untung saya bukan orang Arab, Pakistan atau India. Coba saja seandainya mereka yang jadi saya, pasti kamu sudah ‘dicuci’!” Dia tersenyum, mengiyakan pernyataan saya.

Beberapa saat sebelum teknisi AC datang, saya menelepon lagi sang Foreman, sekedar meyakinkan kalau dia akan mendatangkan teknisi AC untuk memperbaiki kerusakan ini. Tapi nada saya tidak lagi ‘panas’.

Di akhir pembicaraan saya sampaikan terimakasih kepada nya. Sebagai bentuk ekspresi etika kehidupan sosial, bahwa kemarahan kita harusnya terfokus. Bukannya tidak terkontrol kayak orang-orang di belakang ‘tembok’ sana (Baca: Rumah Sakit Jiwa. Red!)

Ringkasnya, orang yang marah boleh-boleh saja sepanjang beralasan. Ketika saya bertanya kepada seorang ahli penyakit jiwa, pemarah bagaimana yang tidak normal, dijawabnya bahwa kemarahan yang ada dalam batas-batas normal adalah kembali normalnya sikap sesudah marah.

Jadi, jangan sampai kemarahan itu berkelanjutan sesudah peristiwanya terjadi. Sebaliknya, malah kita bakalan disebut tidak normal apabila kita tertawa, padahal seharusnya marah!

Maka, berbahagialah orang yang bisa marah, namun mampu mengendalikannya. Termasuk kembali ke kondisi sediakala, sesudah marah-marah yang pada tempatnya. Wallau a’lam!

Sabtu, 02 Juli 2011

Daftar Kode Emoticon Facebook














Facebook Emoticon

Jumat, 01 Juli 2011

Ketika Hati Menangis


Tuhanku….

ketika hati menangis, hanya kau saja yg tahu

Tuhanku….

Ketika mereka meninggalkan aku sendiri

Ketika dunia tiada simpati, Kau tetap mendengar rintihanku

PadaMu tempatku menagih kasih

Ketenangan kurasa mendekatiMu

Syahdu malam tak terasa sunyi

Tuhanku….

Ketika aku dalam kepayahan, dalam kesendirian dihimpit cobaan

Kau beri aku kesabaran, pengalaman mengajar arti kematangan

Lantas Kau membuka pintu hatiku, untuk memberi kemaafan

Pada mereka yang pernah melupakanku

Tuhanku….

Ketika aku buntu

Kau berikan aku kekuatan, kau tunjukkan aku jalan

Kau tak biarkan aku sendirian

Tuhanku….

Yang Maha Pengasih, Rahmatmu tak terkira

Syukurku melangit pun tak tercapai

Sungguh aku merasa berdosa karena dulu sering lalai

Semoga penyesalanku Kau terima

THANK YOU ALLAH FOR THE BLESSINGS YOU HAVE GIVEN

Template by:

Free Blog Templates