Rabu, 15 Februari 2012

Doa untuk Keluarga




Allahumma Yaa ‎​اَللّهُ Yaa Rahmaan Yaa Rahiim...

Jadikanlah keluarga kami, keluarga sakinah mawaddah wa rohmah, rukun, damai, mesra, bahagia dunia akhirat dalam penjagaan-Mu, keluarga yang mencintai engkau Yaa ‎​اَللّهُ , yang mencintai Rasul Engkau Yaa ‎​اَللّهُ , yang mencintai Alqur'an-MU, yang mencintai sunnah Nabi-MU, dan mencintai semua yang Engkau cintai dan membenci semua yang Engkau benci, dan yang Engkau undang semua menjadi para tamu-Mu ke tanah suci-Mu.

Yaa ‎​اَللّهُ ... selamatkan keluarga anak cucu keturunan kami dari semua fitnah dunia, dari ma'siyat, dari kezholiman dan tipu daya syetan jin dan manusia... Yaa ‎​اَللّهُ , kami mohon kelak di akhirat agar Engkau meridhoi kami, merahmati kami, mengampuni kami, semua kami, tidak satupun yang berpisah, semuanya Yaa ‎​اَللّهُ , semuanya Yaa ‎​اَللّهُ , semuanya Yaa ‎​اَللّهُ masuk Syurga-Mu... kami mohon Yaa ‎​اَللّهُ , selamatkan kami, jauhkan kami, keluarga kami dan semua orang-orang yang kami cintai dari murka-Mu dan dahsyatnya siksa api neraka-Mu...Yaa ‎​اَللّهُ ...
‎​​آَمِيّـٍـِـنْ... آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِن

Kisah Sahabat Nabi: Sa’id bin Amir Al-Jumahi, Pemimpin Bersahaja



Seorang pakar sejarah pernah berkata, "Sa’id bin Amir adalah orang yang membeli akhirat dengan dunia, dan ia lebih mementingkan Allah dan Rasul-Nya atas selain-Nya."

Sa’id bin Amir Al-Jumahi adalah seorang anak muda, satu di antara ribuan orang yang tertarik untuk pergi menuju daerah Tan’im di luar kota Makkah, dalam rangka menghadiri panggilan pembesar-pembesar Quraisy.

Panggilan ini adalah untuk menyaksikan hukuman mati yang akan ditimpakan kepada Khubaib bin Adiy, salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang diculik oleh mereka.

Kepiawaian dan postur tubuhnya yang gagah membuat Sa'id mendapatkan kedudukan yang lebih daripada orang-orang. Sehingga ia dapat duduk berdampingan dengan pembesar-pembesar Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan orang-orang yang mempunyai wibawa lainnya.

Ketika rombongan yang garang ini datang dengan tawanannya di tempat yang telah disediakan, Sa’id bin Amir berdiri tegak memandangi Khubaib yang sedang diarak menuju kayu penyaliban. Dan ia mendengar suaranya yang teguh dan tenang di antara teriakan wanita-wanita dan anak-anak. Khubaib berkata, “Izinkan aku untuk shalat dua rakaat sebelum pembunuhanku ini, jika kalian berkenan.”

Kemudian Sa'id memandanginya, sedangkan Khubaib menghadap kiblat dan shalat dua rakaat. Alangkah bagusnya dan indahnya shalatnya itu. Kemudian ia melihat Khubaib menghadap pembesar-pembesar kaum dan berkata, “Demi Allah, jika kalian tidak menyangka bahwa aku memperpanjang shalat karena takut mati, tentu aku telah memperbanyak shalat.”

Kemudian ia melihat kaumnya dengan mata kepalanya, memotong-motong Khubaib dalam keadaan hidup.

Kemudian Sa’id bin Amir melihat Khubaib mengarahkan pandangannya ke langit dari atas kayu salib, dan berkata, “Ya Allah ya Tuhan kami, hitunglah mereka dan bunuhlah mereka satu persatu serta janganlah Engkau tinggalkan satu pun dari mereka."

Kemudian Khubaib bin Adiy menghembuskan nafas terakhirnya, dan di badannya tidak terhitung lagi bekas tebasan pedang dan tusukan tombak.

Orang-orang Quraisy kembali ke Makkah, dan mereka telah melupakan kejadian Khubaib dan pembunuhannya karena banyak kejadian-kejadian setelahnya. Namun, Sa’id bin Amir Al-Jumahi tidak bisa menghilangkan bayangan Khubaib dari pandangannya walau sekejap mata.

Ia memimpikannya ketika sedang tidur, dan melihatnya dengan khayalan ketika matanya terbuka. Khubaib senantiasa terbayang di hadapannya sedang melakukan shalat dua rakaat dengan tenang di depan kayu salib. Dan ia mendengar rintihan suaranya di telinganya, ketika Khubaib berdoa untuk kebinasaan orang-orang Quraisy, maka ia takut kalau tersambar petir atau ketiban batu dari langit.

Khubaib telah mengajari Sa’id sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Ia mengajarinya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah akidah dan jihad di Allah hingga akhir hayat. Ia mengajarinya juga bahwa iman yang kokoh akan membuat keajaiban dan kemukjizatan.

Dan Khubaib mengajarinya sesuatu yang lain, bahwa sesungguhnya seorang laki-laki yang dicintai oleh para sahabatnya dengan kecintaan yang sedemikian rupa, tidak lain adalah nabi yang mendapat mandat dari langit.

Semenjak itu, Allah membukakan dada Sa’id bin Amir untuk Islam. Ia lalu berdiri di hadapan orang banyak dan memproklamirkan kebebasannya dari dosa-dosa Quraisy, berhala-berhala dan patung-patung mereka, dan menyatakan ikrarnya terhadap agama Allah.

Sa’id bin Amir berhijrah ke Madinah, dan mengabdikan diri kepada Rasulullah, dan ikut serta dalam Perang Khaibar dan peperangan-peperangan setelahnya. Dan ketika Nabi yang mulia dipanggil menghadap Tuhannya, Sa'id mengabdikan diri dengan pedang terhunus di zaman dua khalifah; Abu Bakar dan Umar.

Ia hidup bagaikan contoh satu-satunya bagi orang Mukmin yang membeli akhirat dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atas segala keinginan hawa nafsu dan syahwat badannya. Kedua khalifah itu telah mengetahui tentang kejujuran dan ketakwaan Sa’id bin Amir. Keduanya mendengar nasihat-nasihatnya dan memerhatikan pendapatnya.

Pada awal kekhilafahan Umar, Sa'id menemuinya dan berkata, “Wahai Umar, aku berwasiat kepadamu, agar kamu takut kepada Allah dalam urusan manusia. Dan janganlah kamu takut kepada manusia dalam urusan Allah. Dan janganlah ucapanmu bertentangan dengan perbuatanmu, karena sesungguhnya ucapan yang paling baik adalah yang sesuai dengan perbuatan."

Maka Umar berkata, "Siapakah yang mampu menjalankan itu, wahai Sa’id?”

Ia menjawab, “Orang laki-laki sepertimu mampu melakukannya, yaitu di antara orang-orang yang Allah serahkan urusan umat Muhammad kepadanya. Dan tidak ada seorang pun perantara antara ia dan Allah.”

Setelah itu Umar mengajak Sa’id untuk membantunya. “Wahai Sa’id, kami menugaskan kau sebagai gubernur Himsh,” kata Umar.

Sa'id menjawab, "Wahai Umar, aku ingatkan dirimu terhadap Allah. Janganlah kau menjerumuskanku ke dalam fitnah."

Maka Umar pun marah dan berkata, "Celaka kalian! Kalian menaruh urusan ini di atas pundakku, lalu kalian berlepas diri dariku. Demi Allah, aku tidak akan melepasmu.”

Kemudian Umar mengangkat Sa'id bin Amir menjadi gubernur di Himsh. “Kami akan memberimu gaji,” kata Umar.

“Untuk apa gaji itu, wahai Amirul Mukminin? Karena pemberian untukku dari Baitul Mal telah melebihi kebutuhanku,” jawab Sa'id. Ia pun berangkat ke Himsh.
Tidak lama kemudian datanglah beberapa utusan dari penduduk Himsh kepada Amirul Mukminin Umar bin Khathab.

Umar berkata kepada mereka, “Tuliskan nama-nama orang fakir kalian, supaya aku dapat menutup kebutuhan mereka!”

Maka mereka menyodorkan selembar tulisan, yang di dalamnya ada Fulan, Fulan dan Sa’id bin Amir. Umar bertanya, Siapakah Sa’id bin Amir ini?”

Mereka menjawab, “Gubernur kami.”

“Gubernurmu fakir?”

“Benar, dan demi Allah sudah beberapa hari di rumahnya tidak ada api.”

Maka Umar menangis hingga janggutnya basah oleh air mata. Kemudian ia mengambil 1.000 dinar dan menaruhnya dalam kantong kecil dan berkata, "Sampaikan salamku, dan katakan kepadanya, Amirul Mukminin memberi anda harta ini, supaya anda dapat menutup kebutuhan anda!”

Saat para utusan itu mendatangi Sa’id dengan membawa kantong. Sa’id membukanya, ternyata di dalamnya ada uang dinar. Ia lalu meletakkannya jauh dari dirinya dan berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada-Nya)," seolah-olah ia tertimpa musibah dari langit atau ada suatu bahaya di hadapannya.

Hingga keluarlah istrinya dengan wajah kebingungan dan berkata, “Ada apa, wahai Sa’id? Apakah Amirul Mukminin meninggal dunia?"

“Bahkan lebih besar dari itu,” timpal Sa'id.

“Apakah orang-orang Muslim dalam bahaya?”

“Bahkan lebih besar dari itu.”

“Apa yang lebih besar dari itu?”

“Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah telah datang ke rumahku.”

Istrinya berkata, “Bebaskanlah dirimu darinya.” Saat itu istrinya tidak mengetahui tentang uang-uang dinar itu sama sekali.

“Apakah kamu mau membantu aku untuk itu?” tanya Sa'id.

“Ya,” kata sang istri. Sa'id lalu mengambil uang-uang dinar dan memasukkannya ke dalam kantong-kantong kecil, kemudian menyuruh sang istri untuk membagikannya kepada orang-orang Muslim yang fakir.

Tak lama kemudian Umar bin Khathab datang ke negeri Syam untuk melihat keadaan. Dan ketika singgah di Himsh, penduduk menyambut dan menyalaminya. Umar bertanya kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian tentang gubernur kalian?”

Maka mereka mengadukan kepadanya tentang empat hal, yang masing-masing lebih besar dari yang lainnya. Umar kemudian memanggil Sa'id dan 'mengadilinya' di hadapan penduduk.

“Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?” tanya Umar.

Mereka menjawab, “Ia tidak keluar kepada kami kecuali jika hari telah siang.”

“Apa jawabmu tentang hal itu, wahai Sa’id?” kata Umar.

Sa'id terdiam sebentar, kemudian berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak ingin mengucapkan hal itu. Namun, kalau memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku tidak mempunyai pembantu. Maka setiap aku pagi membuat adonan, kemudian menunggu sebentar sehingga adonan itu mengembang. Kemudian aku buat adonan itu menjadi roti untuk mereka, kemudian aku berwudhu dan keluar menemui orang-orang.”

"Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” tanya Umar.

Mereka menjawab, “Sesungguhnya, ia tidak menerima tamu pada malam hari.”

“Apa jawabmu tentang hal itu, wahai Sa’id?”

“Sesungguhnya, Demi Allah, aku tidak suka untuk mengumumkan ini juga. Aku telah menjadikan siang hari untuk mereka dan malam hari untuk Allah Azza wa Jalla,” jawab Sa'id.

“Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” tanya Umar lagi.

Mereka menjawab, “Sesungguhnya ia tidak keluar menemui kami satu hari dalam sebulan.”

“Dan apa ini, wahai Sa’id?”

Sa'id menjawab, “Aku tidak mempunyai pembantu, wahai Amirul Mukminin. Dan aku tidak mempunyai baju kecuali yang aku pakai ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan. Dan aku menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui mereka pada sore hari.”

“Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?”

Mereka menjawab, “Ia sering pingsan, hingga ia tidak tahu orang-orang yang duduk di majelisnya.”

“Dan apa ini, wahai Sa’id?”

“Aku telah menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adiy, kala itu aku masih musyrik. Dan aku melihat orang-orang Quraisy memotong-motong badannya sambil berkata, 'Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu?' Maka Khubaib berkata, 'Demi Allah, aku tidak ingin merasa tenang dengan istri dan anak, sementara Muhammad tertusuk duri.' Dan demi Allah, aku tidak mengingat hari itu dan bagaimana aku tidak menolongnya, kecuali aku menyangka bahwa Allah tidak mengampuni aku, maka aku pun jatuh pingsan,” tutur Sa'id.

Seketika itu Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya.”

Kemudian Umar memberikan 1.000 dinar kepada Sa'id. Dan ketika istrinya melihat uang itu, ia berkata kepada Sa'id, “Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kami dari pekerjaan berat untukmu. Belilah bahan makanan dan sewalah seorang pembantu."

“Apakah kamu menginginkan sesuatu yang lebih baik dari itu?” tanya Sa'id pada istrinya.

“Apa itu?”

“Kita berikan dinar itu kepada yang mendatangkannya kepada kita, pada saat kita lebih membutuhkannya.”

“Bagaimana maksudnya?”

“Kita pinjamkan dinar itu kepada Allah dengan pinjaman yang baik,” kata Sa'id.

Istrinya berkata, “Benar, dan semoga kau mendapat balasan kebaikan.”

“Berikanlah ini kepada jandanya fulan, kepada anak-anak yatimnya fulan, kepada orang-orang miskin keluarga fulan, dan kepada fakirnya keluarga fulan," kata Sa'id.

Mudah-mudahan Allah meridhai Sa’id bin Amir Al-Jumahi, karena ia termasuk orang-orang yang mendahulukan orang lain atas dirinya, walaupun dirinya sangat membutuhkan.

Chairul Akhmad

Sumber: Ahlul Hadits
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/10/lz6i1l-kisah-sahabat-nabi-said-bin-amir-aljumahi-pemimpin-bersahaja-2habis

Senin, 13 Februari 2012

Bapak... Ku mencintaimu karena Allah

Siang ini begitu panas,mungkin sore nanti jg hujan.maklum musim hujan jadi bersiap siap aja sobat,cuaca tak menentu jaga kesehatan.. Sambil nunggu ktemu konsumen mau nulis ahh..biar keliatan sdikit produktif..:)


Sedang apa sekarang bapakku yaa?..
Teringat ku pada bapak dikampung.iya bapakku entah mengapa sikapnya yg diam,sahaja,sederhana,baik,sabar tidak menurun padaku terutama sifat pendiamnya.coz saya termasuk doyan ngomong.mungkin karena inilah orisinalitas sifat manusia yg tak kesemuanya menurun kpd anaknya..
Dan dengan begitu saya dapat mengambil ibroh dari semangat dan kesabaran beliau.termasuk kesabaranya dlm mendidik anaknya macam saya ini..
Bukan bermaksud membesar2kan bapakku.justru kami bukanlah keluarga yg cukup secara materi (dunia) tapi kami insyllah cukup vitamin dan materi menghadapi betapa kerasnya hidup.
Dari bapakku saya belajar kesabaran dan ketidak putus asaan ikhtiar.
Dari bapak saya belajar menghargai orang,berbeda pendapat tapi tak melukai hati dan perasaan orang lain.
Dari bapak saya belajar kesederhanan,sederhana berperilaku & berucap.
Dari bapak saya belajar tersenyum manakala badai dan kesulitan hidup menerjang,tersenyum dan mencari solusi.bkn berdiam diri saja.
Dari bapak saya belajar pengorbanan,optimis,kerja keras.dan segalanya..
Ia hanya berharap anaknya bisa lebih hebat darinya.lebih sukses..
Dari Bapak saya belajar arti sebuah keikhlasan menjalani dan menerima segala cobaan hidp dengan senyum dan optimisme.
Dan Bapak Itu tak pernah punya masalah dengan orang lain setau saya,tidak banyak tingkah,menjaga Iffah (harga diri) tidak seperti aku.

Dan bagiku laki2 yg tak kenal panas dan terik.itulah bapakku..
Bapak meski tealh lanjut usia Ia Tetap kelihatan tampan dan mempesona
jujur saja Bapakku Gnateng,ganteng sekali.mancung Hidungnya,ngak kayak aku.pesek hehe.. bapakku Coollll banget dah..
Hatinya lembut tapi jiwanya kokoh..
Aku tidak pernah lihat bapak menangis dan aku tak mau melihatnya menanggis,apalagi membuatnya menangis,
aku hanya ingin membuatnya tersenyum bahagia di hari tuanya..

Bapak jaga diri baik2 ya,jaga emak dan adik2..
Rohmat hanya berusaha disini sekuat tenaga mewujudkan cita2,tak lupa tiap doa teriring bwt keluarga tercinta.

"Rahmat mencintaimu karena Allah"

Allahumaghfirlahuma kama rabbayani shoghiro.. T_T

Kamis, 09 Februari 2012

Kesungguhan dan Harga Surga



Ketika membaca sejarah, kita akan mendapati catatan perjalanan orang-orang besar yang luar biasa. Merekalah orang-orang yang telah mengukir kisah hidup mereka dengan kesungguhan menempa diri, perjuangan mempertahankan prinsip dan kegigihan merealisir cita-cita. Merekalah pribadi-pribadi yang tak mengenal lelah. Tak ada istilah menyerah dalam kamus mereka. Tak peduli seberapa banyak keringat yang menetes, air mata yang mengalir atau bahkan darah yang tertumpah.

Hati ini pasti tersentak ketika membaca kehidupan mereka. Bagaimana tidak, sementara detik terus berdetak, hari terus berlari, waktu berlalu menorehkan catatan-catatan keberhasilan mereka melewati sederetan aral melintang yang menghadang. Setiap derap langkah dan desah nafas selalu terisi dengan kesabaran, keteguhan dan jiddiyah (kesungguhan), bukan bersantai-santai, berleha-leha dan bertopang dagu sambil berangan-angan.

Tidak. Sekali-kali tidak. Sejarah tak pernah lelah mencatat semua kisah kehidupan manusia. Semuanya terekam dengan jelas dan detil. Siapa membaca akan mendapatkan pelajaran. Siapa acuh tak acuh akan terjatuh pada lubang yang sama.

Orang yang cerdas tentu takkan mau terperosok pada lubang yang sama. Orang yang sadar akan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Bagaimanakah nasib akhir para pejuang tangguh yang dengan gigih tanpa menyerah mempertahankan prinsip-prinsipnya? Bagaimanakah pula nasib para pecundang yang dengan mudah bertekuk lutut hanya dengan secuil rintangan?

Ya, semua itu sudah jelas jawabannya. Mereka yang bersungguh-sungguh akan memanen hasil kesungguhannya di kemudian hari. Demikian pula mereka yang bermalas-malasan akan menanggung sendiri akibat kemalasannya.

Marilah kita buka kembali catatan biografi orang-orang besar yang pernah hadir dalam pentas sejarah. Perhatikanlah hal-hal luar biasa yang pernah mereka hadapi. Bagaimana seorang Imam Ahmad bin Hanbal harus rela kulitnya terkelupas karena cambukan para sipir di penjara tirani demi mempertahankan akidahnya untuk tidak mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Sebelumnya, Yasir dan Sumayyah, sepasang suami istri yang telah melahirkan Ammar, harus rela darahnya tertumpah di tanah, bahkan Sumayyah harus rela kemaluannya terhujam tombak, demi mendapatkan janji Nabi SAW:

"Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena tempat tinggal kalian adalah di surga"

Demikian pula Bilal yang harus tegar bertahan di atas siksaan tidak manusiawi yang ditimpakan atas dirinya oleh gembong kaum musyrikin Makkah saat itu, Umayyah bin Khalaf. Atau Mush'ab bin Umair, seorang pemuda rupawan yang dilahirkan di kalangan elit kota Makkah, namun rela menutup matanya untuk selamanya dengan satu kisah memilukan. Ia hanya dikafani dengan satu burdah. Jika ditutup kepalanya maka tampaklah kakinya, jika ditutup kakinya, tampaklah kepalanya. Semua itu ia lakukan demi memperjuangkan agama Allah.

Bahkan Rasulullah SAW sendiri, sang pembawa risalah amanat dari Rabb semesta alam, sang pionir perjuangan, harus merelakan tubuh beliau berlumur darah dalam berbagai peperangan yang beliau pimpin, atau gigi beliau yang patah karena lemparan batu penduduk Thaif ketika beliau berhijrah ke sana. Subhanallah.

Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa heroik yang memenuhi lembaran sejarah orang-orang besar. Kini, berkat kegigihan mempertahankan prinsip dan kesungguhan dalam menghadapi setiap cobaan dan mara bahaya yang mengancam, nama-nama mereka senantiasa harum dikenang dalam sejarah. Nama mereka telah tercatat dengan tinta emas dan akan terus dikenang hingga akhir masa.

Kita tentu menyadari bahwa setiap orang akan dibalas sesuai dengan kadar kesungguhannya. Seorang pemalas tentu tak layak protes ketika mendapatkan nilai yang buruk dalam ujian atau tidak naik kelas, misalnya. Demikian pula seseorang yang rajin pasti merasakan betapa nikmatnya melihat hasil ujiannya meskipun nilai yang didapat belum memenuhi harapan. Karena semua itu berkat kerja keras dan lelehan keringat serta semangat yang gigih yang telah ia jalani. Kini ia dapat tersenyum menikmati hasil keringatnya.

Demikian pula perjalanan hidup ini. Kita tak berhak protes kepada Sang Pencipta jika di akhirat nanti mendapatkan jatah surga kelas rendahan, karena itulah hasil ujian kita selama di dunia. Seseorang yang hanya berkorban keringat akan dibalas dengan harga keringat. Seseorang yang berkorban air mata juga akan dibalas dengan harga yang sesuai. Lalu tidakkah kita tergoda untuk mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, keringat, air mata, darah bahkan nyawa kita sekaligus?

Ternyata harga surga sangat mahal, kawan. Kita harus memiliki dana yang cukup untuk membelinya. Surga tidak diberikan secara gratis. Harus ada transaksi jual beli. Harus ada harga yang sesuai. Harus ada pengorbanan.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah: 111)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah: 214)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran: 142)

Marilah kita mulai dari sekarang untuk memperbaiki diri. Mari kita kembali berkaca. Sejauh manakah kesungguhan kita selama ini. Seberapa besarkah pengorbanan yang telah kita sumbangkan untuk tegaknya agama ini di muka bumi. Seberapa banyakkah dana yang kita miliki untuk membeli surga nanti di akhirat. Tentu, setiap kita mengharapkan jannatul firdausil a'la, surga Firdaus yang tertinggi. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan hanya untuk orang-orang yang bertakwa.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menjadi para pembela agama-Nya. Semoga Allah mengaruniakan kita kesabaran untuk menapaki hidup ini dengan ridho-Nya. Semoga Allah mengumpulkan kita di akhirat nanti bersama hamba-hamba-Nya yang Dia cintai. Bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin.

Allahumma Amin, Ya Rabbal Alamin.

http://isykarima.forumotion.com/t22-kesungguhan-dan-harga-surga

Sikap Memaafkan


Kita terkadang berbuat salah kpd orang lain, begitu juga sebaliknya. Dan biasanya ketika kita minta ma’af jauh lebih mudah ketimbang kita mema’afkan kesalahan yg dilakukan orang lain kpd kita.,,, kenapa ya mema’afkan kesalahan yg dilakukan orang lain terkadang menjadi hal yg sangat sulit ?

***************

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bhw mereka yg mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang2 yg diteliti menyatakan bhw penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yg menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bhw orang yg belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang2 ini.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" (Mema’afkan), yg diterbitkan Healing Current Magazine (Majalah Penyembuhan Masa Kini) edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bhw kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tsb juga menyebutkan bhw orang menyadari setelah beberapa saat bhw kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah2 untuk memaafkan. Meskipun mereka tahan dgn segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu2 berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka mema’afkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Rasulullah SAW bersabda, "Orang yg hebat bukanlah orang yg menang dalam pergulatan. Sesungguhnya orang yg hebat adalah orang yg (mampu) mengendalikan nafsunya ketika marah"

Memaafkan dan mengampuni merupakan perbuatan yg diperintahkan Sang Khalik kpd umatnya. Dalam surah al-A'raaf ayat 199, Allah SWT berfirman, "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yg makruf serta berpalinglah dari orang2 yg bodoh."

Pada surah al-Hijr ayat 85, Allah SWT kembali berfirman, ''Maka maafkanlah (mereka) dgn cara yg baik.''

Syekh Mahmud al-Mishri dalam kitab Mausu'ah min Akhlaqir-Rasul : memaafkan adalah pintu terbesar menuju terciptanya rasa saling mencintai di antara sesama manusia. Jika orang lain mencerca kita, sebaiknya kita membalasnya dgn memberi maaf dan perkataan yg baik,''

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yg tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yg diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bhw memaafkan adalah lebih baik:
... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Allah SWT berfirman dalam surat asy-Syuraa ayat 40, "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yg setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kpd orang yg berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah..."

Semoga kita menjadi insan yg bisa dan selalu ikhlas memaafkan kesalahan orang lain.Aamiin

Jumat, 03 Februari 2012

Untuk Sahabatku..


mestinya jauh2 hari kutulis tentangnya
begitu berharganya ia dalam perjalanan hidupku selama ini..afwan ya shohibi..

aku sangat menghormatinya,ia kawanku,sahabatku sekaligus teman yg tulus membimbingku dikala aku lalai sekaligus guru bagi setiap pertanyaan yg akau ajukan padanya.ia memang seorang ustadz dengan segala keluasan ilmunya,dibanding aku memang jauh keluasan ilmunya terutama pendalaman dan pemahaman agamanya..


usianya 3 tahun diatasku.tak heran ia seperti kakakku terutama sejak aku memutuskan merantau ke ibukota,bukan dia yg mengajakku tapi aku yg bersikeras mengikuti jejaknya,sambil tahu dunia luar,cari pengalaman hidup dan belajar sekaligus berjuang hidup di perantauan..

aku merasa.. denganya. saat itulah aku banyak belajar tentang sebuah keyakinan..
yakin bahwa dimanapun kita berada Allah tak akan membiarkan hambnya yg sholeh terlunta2,selalu saja pertolongan itu ada,meski silih berganti dengan kesulitan yg ada,tapi bukankah ujian dan cobaan adalah wujud cinta sang Khalik kepada hambanya. dan pada akhirnya Ridha dan yakin akan keputusan dan senantiasa berprasangka baik akan segala ketetapan adalah kunci utamanya.. inilah yg aku tangkap dari setiap gerak gerik dan langkahnya..
sahabatku kau memberi warna dalam hidupku.


satu hal lagi,pelajaran yg sangat indah dan tetap kuingat hingga hari ini..
keikhlasanmu,
seumur hidupku selain orang tuaku.dialah yg begitu ikhlas..ikhlas membantuku,mengingatkanku,membimbingku, dan tak terhitung jasanya untuk.yg luar biasa bagiku.disaat susahpun keinginan untuk memberi kepada orang tak pernah surut..memberi dan memberi.. memang memberi sama dengan menerima,tidak logis memang,tapi itu benar

dalam hidup,jika kita mulai menghargai apa yg kita miliki.
Hidup pun mulai memberi sesuatu yg pantas kita miliki.
itulah sahabatku,sahabat terbaik dan guru kehidupanku.. ia menghargai yg ia miliki,bukan persoalan materi saja,tapi segenap curahan doa dan segenap kemampuan diri..

Iya itu versiku..

siapakah sahabat terbaik versimu teman.??

sebagian orang menjawab

sahabat terbaik adalah ia yang selalu mendengarkan jeritan hati kita

sahabat terbaik adalah ia yang mau mengerti kita

sahabat terbaik adalah ia yang mau mencurahkan hatinya pada kita

sahabat terbaik adalah orang yang selalu mentraktir kita

sahabat terbaik adalah ia yang mau memberikan contekan pada kita

atau banyak lagi versi-versi jawaban yang lain

..
semoga persahabatan ini kelak dan nanti kekal selalu

dalam ingatan dan sanubari kita masing-masing
@sahabatku segala tentangmu masih hidup dalam ingatanku.. ku hanya bisa mendoakanmu nun jauh disana,, dari sahabatmu yg dulu sering merepotkanmu "Abdul rohmat"

Template by:

Free Blog Templates