Rabu, 12 September 2012

Berbicara, Mendulang Pahala atau Dosa?


Eramuslim.com | Media Islam Rujukan,

Oleh : Kinan Nasanti
Bicara adalah kebutuhan.. Dengan bicara gagasan-gagasan yang tersimpan di kepala, dan emosi yang tersimpan di hati jadi bisa ditangkap oleh orang lain. Hal ini akan memberikan kepuasan tersendiri bagi kita. Bahkan menyehatkan! Apalagi bila kemudian gagasan dan emosi kita ini direspon oleh lawan bicara, tentu ini makin membuat kita merasa diperhatikan.

Begitu banyak orang yang merasa diterima di sebuah lingkungan hanya gara-gara dia bisa mendominasi pembicaraan atau karena orang-orang mau mendengarkan kata-katanya, juga mengagumi isi ceritanya. Respon yang positif ini akan mendorong seseorang untuk melakukaan hal yang sama di lain tempat dan waktu.

Sebaliknya banyak orang yang merasa ditolak hanya gara-gara dia tidak bisa mengimbangi lawan bicaranya, atau tak ada yang mengagumi cerita-ceritanya, bahkan tak ada yang mau mendengarkan kata-katanya.

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya. Semua kata yang keluar dari lisan seorang muslim seharusnya punya konsekuensi yang lebih besar dan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Ini disebabkan seorang muslim berbicara diawali dengan pemahaman atas apa yang dia bicarakan dan pemahaman atas konsekuensi-konsekuensi dari apa yang dia bicarakan, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

Pemahaman atas apa yang dia bicarakan membuat seorang muslim tidak bicara “ngaco”. Ilmu menjadi dasarnya, baik ilmu yang diperoleh dari pendidikan formal maupun nonformal, bahkan ilmu dari pengalaman hidup sekalipun. Pemahaman terhadap ilmu ini akan membuat seorang muslim bisa bijaksana memilah kata-kata yang tepat, sesuai dengan latar belakang dan kecenderungan orang yang diajak bicara.

Pengetahuan tentang konsekuensi atas apa yang dia bicarakan pun akan mendorong seorang muslim untuk menjaga lisannya agar hanya mengeluarkan kata-kata terbaik yang mengandung kemanfaataan dan keselamatan bagi orang lain. Bukan sekedar kata-kata basa-basi dengan harapan mendapat decak kagum dari orang lain. Bukan juga kalimat-kalimat manis yang diluncurkan hanya untuk tujuan-tujuan dan kepentingan pribadi, tanpa ada nilai manfaatnya bagi orang lain.

Dalam beberapa hal, ini masih bisa ditolerir pada batas-batas tertentu. Namun bila kemudian menjadi kebiasaan yang berkepanjangan dikhawatirkan bisa menjerumuskan kita pada kata-kata dusta tanpa kita sadari, hanya untuk tujuan ini; tujuan pengakuan dari orang lain. Sungguh, sebuah kebohongan yang kita ucapkan sekali, dan kemudian kita ulangi kedua kali bahkan sampai ketiga kalinya tanpa adanya penyesalan akan menjadikan kita terbiasa olehnya.

Satu kata kebaikan yang keluar dari lisan seorang muslim pun punya konsekuensi bahwa dialah orang pertama yang melaksanakan kata-katanya tersebut. Apa pun kata-kata itu; diucapkan langsung ataupun dalam bentuk tulisan. Bukan suatu yang mudah memang. Kadang tuntutan ini membuat kita jadi takut mengajak orang lain pada kebenaran. Akhirnya kita lebih memilih diam. Padahal satu kebaikan yang kita sebarkan melalui kata-kata kita, kemudian orang lain ikut melaksanakan, maka pahalanya akan mengalir kepada kita tanpa mengurangi pahala orang yang melaksanakannya sedikit pun. Apalagi jika kebaikan itu terus menyebar dan dilaksanakan oleh banyak orang, terus dan terus.

Begitu murahnya Allah memberikan balasan berlipat-lipat atas kebaikan yang telah kita ucapkan kepada orang lain, walau itu hanya sepatah kata. Jika kemudian Allah juga menuntut kita untuk melaksanakan kata-kata kita, itu bukan bermaksud untuk memberatkan, tapi untuk menunjukkan kepada kita bahwa apa pun yang keluar dari lisan kita akan dimintai pertanggungjawabannya.

Berbicara untuk kebaikan dan kemanfaatan akan mudah kita lakukan jika ini sudah menjadi kebiasaan.Tanpa diformat terlebih dahulu, semuanya akan mengalir dengan sendirinya. Mudah dan ringan. Tentu saja bagi yang belum terbiasa harus memformat awal semua kebaikan di dalam kepala dan hati kita, kemudian kita ingatkan diri kita untuk mengulanginya kembali, melaksanakan sedikit demi sedikit apa yang kita mampu, berulang-ulang, sampai kemudian menjadi kebiasaan yang keluar secara otomatis. Yang jelas memang butuh waktu dan proses. Dengan demikian gagasan-gagasan dan emosi yang tersimpan di kepala dan hati bisa kita keluarkan dengan lebih baik, tanpa menimbulkan kesia-siaan bagi diri kita juga bagi orang lain.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Sangat besar kemurkaan Allah atas apa yang kamu katakan tapi tidak kamu perbuat.” (ash shaff : 2-3).

Wallahu a’lam

Senin, 10 September 2012

Masalah adalah Pelajaran



masalah dan kehidupanTidak ada manusia yang terlahir tanpa masalah. Banyak di antara kita menganggap masalah adalah momok yang menyeramkan, dan tentunya tidak ada manusia yang mau menerima suatu masalah. Tapi apabila kita mau melihat sisi lain dari suatu masalah kita bisa mendapatkan pelajaran baru dalam hidup ini.

Masalah memberikan kita pengalaman yang belum tentu orang lain dapatkan. Kita bisa menjadi lebih dewasa dan kuat dalam menjalani hidup ini.

Jadi ucapkan salam dan selamat datang pada masalah, dan jalani dengan kesabaran.

Masalah adalah cara Tuhan agar kita belajar dan mengambil hikmah dibalik itu semua.

Di balik cobaan pasti tersimpan buah yang manis.

Ingatlah semakin TUHAN memberikan cobaan,maka kita adalah termasuk golongan orang orang yang di sayangi TUHAN.

Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapilah dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.

Move On





”SEBAGIAN besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan).”

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru saya, “CHANGE”.

Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, saya tawarkan uang itu. “Silahkan, siapa yang mau boleh ambil,” ujar saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk.

Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.

Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan.

Semua audiens tertegun.

Saya ulangi pesan Saya, “Silahkan ambil, silahkan ambil.” Ia menatap wajah saya, dan saya pun menatapnya dengan wajah lucu.
Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat saya,dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak,”Kembalikan,kembalikan!”
Saya mengatakan, “Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya.”

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000.
Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan?

Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:
“Saya pikir Bapak cuma main-main …………”
“Nanti uangnya toh diambil lagi.”
“Malu-maluin aja.”
“Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!”
“Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu …..”
“Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya….”
“Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas…..”
“Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang………”
“Saya, kan duduk jauh di belakang…” dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja.Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara itu tetap melakukan hal yang sama dari hari ke hari…..,”

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Seperti kata Jack Canfield,yang menulis buku Chicken Soup for the Soul,yang membedakan antara winners dengan losers adalah “Winners take action. They simply get up and do what has to be done.”.

Selamat bergerak [Ronald Khasali]

Doa utk menenteramkan HATI yg sedang duka



Sesungguhnya orang2 yg beriman itu adalah mereka yg apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kpd mereka ayat2t-Nya bertambahlah iman mereka dan kpd Tuhan-lah mereka bertawakal (Al-Anfaal : 2).
Hai orang2 yg beriman, berdzikirlah (dgn menyebut nama) Allah, zikir yg sebanyak-banyaknya (Al-Ahzaab : 41).

Doa Imam Ali bin Abi Thalib (sa), utk menenteramkan hati yg sedang duka
Dibaca sesudah shalat Subuh dalam keadaan sujud (di luar shalat). ‘

Ilahî
Qalbî mahjûb wa nafsî ma`yûb
Wa `aqlî maghlûb wa hawâî ghâlib
Wa thâ`athî qalîl wa ma`shiyatî katsîr
Wa lisânî muqirrun/m bidz dzunûb
Fakayfa hîlatî?
Yâ Sattâral `uyûb wa yâ `Allâmal ghuyûb wa yâ Kâsyifal kurûb
Ighfir dzunûbî kullahâ bihurmati Muhammadin wa âli Muhammad
Yâ Ghaffâr yâ Ghaffâr yâ Ghaffâr
birahmatika yâ Arhamar râhimîn


Ilahi, Tuhanku
Hatiku penuh hijab (tirai), jiwaku penuh aib
Akalku terkalahkan, hawa nafsuku mengalahkan
Ketaatanku sedikit, maksiatku banyak
Sedangkan lisanku mengakui dosa-dosa, bagaimana dayaku?
Wahai Yang Maha Menutupi segala aib
Wahai Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib
Wahai Yang Menghilangkan segala duka
Ampuni semua dosa-dosaku
dengan kemuliaan Muhammad dan keluarga Muhammad
Ya Ghafar Ya Ghaffar Duhai Yang Maha Pengampun
dengan rahmat-Mu wahai Yang Mahakasih dari segala yang mengasihi

Malaikat Mendo’akan Orang2 Mukmin dan Menyambutnya di Pintu Sorga.



Sungguh beruntung hamba-hamba Allah yang selalu berusaha meningkatkan ketakwaannya dengan menjahui larangan dan memenuhi perintahNya, senantiasa berikhtiar memelihara dan memperkuat keimanannya. Semuanya demi kepentingan dan keberuntungan manusia sendiri, bila dia berdo’a dan berdzikir itu adalah untuk kebaikannya sendiri, bila dia beramal soleh yang membawa manfaat bagi dirinyaatau orang lain, hakekatnya adalah untuk membawanya pada kehidupan yang tenang, tenteram serta bahagia di dunia dan balasan keberuntungan diakhirat kelak.

Malaikat-Malaikat yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang di sekelilingnya, mereka bertasbih dengan memuji Tuhan mereka dan mereka beriman kepadaNya, dan mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (dengan mengucapkan):

“ Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu(Mu) meliputi segala sesuatu, mak ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalanMu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala ”. (Surat Al Mukmin ayat 7).

“Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam sorga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka dan isteri-isteri mereka dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Surat Al Mukmin ayat 8).

“Dan peliharalah mereka dari kejahatan-kejahatan, dan orang yang Engkau pelihara dari kejahatan-kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya Engkau telah merahmatinya, dan demikian itulah keuntungan yang besar”. (Surat Al Mukmin ayat 9).

Malaikat & Tugas-tugasnya



Malaikat adalah mahluk langit yang mengabdi semata-mata kepada Allah swt., bersifat ghaib, diciptakan dari nur (cahaya). Mereka melaksanakan kewajibannya masing-masing dengan penuh ketaatan, mulai dari mencatat amal manusia, mencabut nyawa hingga mengelilingi arasy. Islam mengajarkan tidak ada satu malaikatpun yang dapat menjadi perantara atau mencampuri hubungan manusia dengan Allah swt.

Jumlah malaikat banyak sekali, tidak dapat diketahui secara pasti, seperti malaikat yang diturunkan pada bulan Ramadhan dan malaikat yang hadir pada majelis saat berkumpulnya sekumpulan orang yang menuntut ilmu, tidak disebutkan jumlahnya.

Dan orang-orang yang bertakwa, mukminin dan mukminat mendapat sambutan penuh kebahagiaan oleh Malaikat penjaga pintu sorga, sesuai bunyi surat Az Zummar ayat 73 dan 74:
“Dan digiringlah orng-orang yng bertakwa kepada TuhanNya ke sorga berbondong-bondong, sehingga apabila mereka sampai ke sorga itu dan dibukalah pintu-pintunya, dan berkatalah penjaga-penjaganya kepada mereka: Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu, maka masukilah sorga itu dalam keadaan kekal”. “Dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janjiNya kepada kami, dan telah mewariskan bumi ini kepada kami, kami menempati sorga dimana saja yng kami kehendaki. Maka (sorga itulah) sebik-baik balasan orang-orang yang beramal”.

Allah swt. pasti akan memenuhi janjiNya kepada hamba-hamba yang beriman dan mentaati perintahNya, maka segala do’a nya akan dikabulkan, sesuai dengan firmanNya dalam Surat Al Baqarah ayat 186:
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku kabulkan permohonan yang mendo’a apabila dia berdo’a kepadaKu. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu dalam kebenaran”.

Template by:

Free Blog Templates