Sabtu, 06 April 2013

yakin, pasti bahagia.



Senyumlah saat bahagia, ia menjaga waspada. Senyumlah saat duka, ia meneguhkan sabarnya. Senyumlah saat berjuang; ia maniskan pengorbanan. begitu sebuah kalimat yg sangat bagus dan tepat sekali untuk berkaca tentang kehidupan kita, bumi berputar, pun dengan roda kehidupan kita, segalanya dipergilirkan sesuai dengan porsi, tugas dan tanggung jawabnya. alam mengikuti petunjuk dan perannya masing2, pun manusia, sudah di desain sebaik mungkin untuk berkarya dan bahkan diberi kemampuan lebih dibanding mahkluk ciptaan Allah yg lainya.

manusia adalah perpaduan unsur malaikat dan unsur syaitan, keduanya adalah bagian yg mungkin bisa mendominasi dirinya. bisa saja ia saat ini menjadi orang yg lurus bicaranya, namun besok telah menjadi orang yg sesat dalam lisannya, namun kesemuanya itu butuh sebuah proses, yg kemudian membentuk apa yg disebut karakter.

karakter yg membentuk kita saat ini adalah perpaduan dari sebuah kebiasaan dan bentukkan dari lingkungan kita selama ini, ia yg membentuk dan berpola dalam sikap dan pandangan kita.

pelajaran penting yg bisa aku dapatkan di bulan ini adalah sikap yg bernama sabar dan menerima, sebabnya adalah bahwa segala keinginian kita belum tentu sejalan dengan kenyataan yg kita terima, sebagaimana kenyataan kita terima tidak selalu sesuai dengan apa yg kita inginkan. dan pelajaran penting dalam hidup ini adalah belajar untuk bisa menerima kenyataan hidup bserta konsekuensinya.

senyumlah saat bahagia, ia menjaga waspada kita. menjaga hati kita untuk selalu mendapatkan bahagia, dan tersenyumlah saat berduka, ia meneguhkan sabar kita. ia menguatkan apa yg nampak lemah dari sisi manusiawi kita. dan senyumlah saat berjuang, ia memaniskan arti sebuah perjuangan.

brangkali itu semua tidak akan mudah, karena memang semuanya dibutuhkan kebiasaan agar segalanya itu menjadi mudah. karakter dan sikap kita dalam menerima dan merespon ujian dan cobaan yg Allah berikan selalu sebanding dengan kemampuan kita dalam membiasakan diri agar baik dan stabil dalam merespon segala sesuatunya, maka dari itu berkawanlah dan bertemanlah kepada sesuatu yg mendewaskanmu, yg menguatkanmu, mendidikan dan menempamu.

lingkungan kita, teman dan keluarga kita sangatlah berpengaruh, dan yg tak kalah besar pengaruhnya adalah keinginan kita untuk terus belajar dan mebcari ilmu, terutam pengetahuan tentang keislaman kita tentang maiyatullah kita dan keyakinan bahwa Allah telah menakar dan mendisain kita sesuai dengtan  kemampuan yg kita miliki dan tidak mungkin memberi cobaan dan ujian diluar kemampuan kita;.maka yakinlah, pasti bahagia.!

Hidup itu kayak sebuah senyum. Semakin nggak dibuat-buat, semakin apa adanya, semakin indah. maka yakinlah pada dirimu sebaik mungkin, biasakanlah untuk ikhlas menerima, maka segalanya akan menjadi indah.






Selasa, 02 April 2013

Khalid Misy'al Kembali Terpilih Pimpin Hamas


Majelis Syuro Hamas kembali memilih Khalid Misy'al sebagai pemimpin gerakan Islam itu, Senin (1/4). Bertempat di Kairo, sidang majelis syuro berjalan mulus menetapkan Misy'al memimpin kembali Biro Politik Hamas untuk empat tahun ke depan.

Misy’al yang telah menjalankan gerakan Palestina sejak tahun 1996 dari pengasingan, dipandang sebagai tokoh favorit. Ia didukung oleh kekuatan regional Qatar, Turki dan Mesir. Misyal kini berbasis di Qatar setelah hijrah dari Suriah.

Sumber Quds Press menyebutkan, selain memilih Misy'al kembali memimpin Hamas, sidang juga menetapkan peran dan kewenangan baru bagi jabatan pemimpin biro politik.

Gerakan Hamas terdiri dari empat komponen, para aktivis di Jalur Gaza, di Tepi barat, di pengasingan atau negara-negara lain, serta mereka yang dipenjara oleh Zionis Yahudi. Setiap komponen itu memilih pemimpin lokal mereka masing-masing dan delegasi untuk duduk di Dewan Syura. Dewan tersebut kemudian memilih anggota politik biro pembuat keputusan dan pemimpin lembaga tersebut. Tahap terakhir itulah yang dituntaskan di Kairo kemarin.

Misy'al pertama kali menjadi pemimpin Hamas pada tahun 1996 dan empat tahun ke depan dia masih akan membawa gerakan itu memperjuangkan pembebasan Palestina dari penjajahan Zionis Yahudi.

Terpilihnya kembali Misy'al juga dinilai bisa menghidupkan kembali upaya rekonsiliasi yang terhenti antara Hamas dan Fatah pimpinan Mahmud Abbas.

Pekan lalu, Emir Qatar mengusulkan mengadakan konferensi rekonsiliasi di Mesir dalam beberapa pekan mendatang untuk mengatur jadwal untuk membentuk pemerintah sementara dan menyelenggarakan pemilu. [IK/Hdy/SI/bsb]

waktu Untuk Bersyukur



Assalaamualaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh

Hidup di dunia sebentar saja, sekadar mampir sekejap mata. Namun, waktu yg sebentar itu pula yg bisa menjerumuskan seorang anak manusia ke jurang kehinaan dan kecelakaan dunia dan akhirat. Hal itu karena godaan kenikmatan duniawi sangatlah menggiurkan shg bisa meluruhkan kekuatan iman.
Allah SWT memang menguji manusia dgn memberikan "hiasan" pada dirinya berupa kesenangan syahwat thd wanita, harta benda, dan jabatan. Saat memenuhi hasrat kesenangan itulah manusia sering melanggar batas yg sudah ditentukan Allah SWT.. Kelemahan iman, kekeringan rohani dari cahaya kebenaran Islam, dan bisikan syetan merupakan penyebab utama manusia terjerumus ke jurang kenistaan.

Dengan atau tanpa sadar, kita harus senantiasa mawas diri dan menjaga diri, barangkali kita selama ini terbuai dengan kehidupan dunia, waktu habis untuk memikirkan dan mengejar kesenangan dunia semata, sehingga mengabaikan persiapan dan melupakan bekal untuk kehidupan kelak di akhirat.

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita bergelut dan berpacu dengan waktu. Dan bagi seorang Muslim, waktu sangat penting artinya. Bahkan dalam QS Al-'Ashr <103>: 1-3 Allah SWT bersumpah dengan waktu. Hal itu menunjukkan betapa kita harus mempergunakan waktu hidup di dunia ini untuk beriman dan beramal shalih. Terlebih, dalam ayat tersebut dinyatakan, semua manusia akan merugi kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Kita harus merenung diri, apakah waktu2 kita yg telah berlalu itu kita isi dgn amal-perbuatan yg tidak melanggar hukum Allah? Apakah waktu2 kita justru diisi dgn amal yg mengabaikan dan melupakan perintah dan larangan-Nya? Apakah waktu2 yg kita lalui telah kita isi dgn amal shalih, ataukah dgn kesia-siaan bahkan kemaksiatan? Na'udzubillah.

Ya Allah,...
Segala puji dan syukur atas segala nikmat yg telah Engkau karuniakan kpd-ku sampai detik ini, baik nikmat sehat wal'afiat, nikmat panjang umur, nikmat iman serta nikmat islam.

Ya Allah,...
Jadikanlah aku hambaMu yg pandai bersyukur, mudahkan bagiku segala yg sukar, dan berilah jalan keluar dari setiap kesulitan, serta jauhkan dariku segala kemudaratan.

Ya Allah,...
Peliharalah keimananku agar selalu tetap dalam jalanMu, jauhkan aku dari kefakiran karena aku takut fakirku akan membuatku kufur akan nikmat-Mu.

Insya Allah



Kalimat terpopuler di kalangan umat Islam, setelah salam (assalamu’alaikum), adalah insya-Allah. Kalimat ini diucapkan saat seseorang ingin melakukan sesuatu atau berjanji.
”Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu ‘sesungguhnya aku akan mengerjakan esok,’ kecuali (dengan mengucapkan) insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah ‘mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS Al-Kahfi: 23-24).

Secara literal, kalimat insya Allah berarti bila Allah menghendaki. Sayangnya, kalimat ini kerap disalahgunakan. Ada dua bentuk penyalahgunaan,
Pertama, insya Allah dipakai untuk menunjukkan janji yang longgar dan komitmen yang rendah. Insya Allah hanya pengganti dari kalimat, ‘tidak janji deh.’ Ini keliru sebab nama Allah SWT dijadikan sebagai pembenaran atas kemalasan menepati janji.

Kedua, segala tindakan ditentukan oleh Allah (fatalisme). Artinya, manusia tidak memiliki ruang kebebasan untuk bertindak. Paham ini tidak tepat karena Allah menganugerahi manusia kebebasan berkehendak. Bagaimana seseorang mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan bila seluruh tindakannya ditentukan oleh Allah?

Sebenarnya, insya Allah memiliki falsafah yang mendalam, 

Pertama, dalam kalimat insya Allah tersimpan keyakinan yang kukuh, bahwa Allah SWT terlibat dan punya andil dalam segala tindak-tanduk manusia. Kesadaran akan kehadiran Allah SWT ini akan memupuk tumbuhnya moral yang luhur (akhlaq al-karimah).
Hanya orang-orang yang merasa dirinya senantiasa ditatap Ilahi saja yang akan mampu menjaga dari segala bentuk pelanggaran. Inilah yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai ihsan, yaitu, ”Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesunggguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim).

Kedua, ekspresi kerendahhatian (tawadhu’). Seseorang yang memastikan diri bahwa besok akan bertindak sesuatu (sesungguhnya) terselip dalam relung jiwanya sifat kibr (sombong). Termasuk sikap, bahwa dirinya penentu segala sesuatu di masa depan tanpa ada peran Allah SWT. Seharusnya, orang yang berucap insya Allah adalah orang yang sadar bahwa Allah SWT selalu membimbing hamba-Nya.

Ketiga, perpaduan usaha dan penyerahan diri. Dalam kata insya Allah terkandung suatu ketidakpastian akan apa yang terjadi esok. Karenanya, keyakinan ini akan melahirkan motivasi, mempersiapkan secara sempurna hal-hal yang menciptakan kesuksesan dari yang direncanakan, serta memastikan apa yang akan terjadi seperti yang dikehendaki. (QS Al-Hasyr: 18).
***
(M Subhi-Ibrahimi ,HIKMAH< Republika) Diambil dari : http://www.kebunhikmah.com

Tiga Pesan Moral dari Air



Air dihadirkan oleh Allah dalam kehidupan manusia sebagai rezeki (QS al-Baqarah [2]:22).  Namun, air tidak sekadar rezeki, ia pun menjadi ayat kauniyah, tanda kebesaran-Nya, yang perlu dibaca agar kita merengkuh pesan moral (QS adz-Dzariyat [51]: 20-21). Ada sejumlah pesan moral yang dapat dipelajari dari air.

Pertama, air itu menghidupi. Allah SWT berfirman, "Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup." (QS al-Anbiya' [21]: 30). Air menumbuhkan tanaman, menyuburkan tanah, bahkan mengalirkan oksigen dalam darah manusia. Di mana pun air berada, ia bermanfaat. Manusia pun selayaknya demikian. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain." (HR Ahmad).

Kedua, ia bergerak tanpa henti. Karena jika ia diam, pasti kotor dan keruh. Imam Syafii berkata, "Saya lihat air yang diam menyebabkan kotor. Bila dia mengalir, ia menjadi bersih. Dan bila tidak mengalir, ia tidak akan jernih. Singa bila tidak meninggalkan sarangnya, dia tidak akan pernah memakan mangsanya. Dan anak panah bila tidak terlepas dari busurnya, tidak akan pernah mengenai sasarannya."

Orang yang tidak memiliki aktivitas atau pekerjaan, pikiran dan hatinya kemungkinan besar akan  keruh dan kotor. Akibatnya, mata dan hatinya melihat secara negatif segala sesuatunya (suuzhan).

Ketiga, Air tak pernah bisa dipecah, atau dihancurkan. Bahkan, ia akan menenggelamkan benda-benda keras yang menghantamnya dan menghanyutkan. Ia hanya akan pecah saat ia mengeras, membeku. Inilah karakter dasar air, yakni mencair, mudah meresap, menguap, dan  kembali turun untuk menyejukkan.

Karakter cair ini berguna jika seseorang menghadapi masalah. Karena bila kita bersikap mengeras, membatu, maka kita mudah pecah, stres, gampang dilempar ke sana-sini, dan seterusnya dalam menghadapi samudera kehidupan.

Ketiga, air berpasrah diri (Islam) secara total pada tatanan (kosmos) alam.  Ia mengalir dari tempat tinggi ke arah yang lebih rendah. Ia menguap bila terkena panas, membeku jika tersentuh dingin, meresap di tanah, menguap ke awan, dan turun sebagai hujan. Ia kemudian menyatu di lautan raya, berpencar di sungai, kali, dan selokan.

Air mengikuti harmoni alam (sunatullah) yang digariskan Allah SWT. Harmoni alam itu tunduk dan patuh pada prinsip keseimbangan dan keadilan (QS al-Rahman [55]:7). Jika kesimbangan dirusak maka air pun protes. Air berhak atas tempat resapan. Jika tidak ada tempat resapan, air akan terus mencari tempat yang paling rendah.

Jika tak ada yang tepat sebagai resapannya maka terjadilah banjir. Banjir merupakan bentuk protes air karena tempat resapan serta jalan kembali ke lautan raya, tergusur oleh kerakusan dan keserakahan tangan manusia (QS ar-Rum [30]: 41).

Sudahkah kita seperti air, yang berpasrah, tunduk, dan patuh secara total pada Allah SWT? Sudahkah kita memelihara tatanan kehidupan secara adil? Wallahu a'lam bish shawab.


Oleh M Subhi-Ibrahim
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/01/31/mhgs8e-tiga-pesan-moral-dari-air

Keutamaan Menyebar Salam



Islam adalah agama yang damai dan kasih sayang. Islam adalah agama yang senantiasa menyebarkan kedamaian dan ketenteraman bagi seluruh umat manusia. Tidak hanya kedamaian bagi umat Islam, tapi juga bagi umat agama lain.

Islam itu berarti keselamatan, kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraan. Sudah selayaknya bila setiap Muslim senantiasa menyebarkan salam dan kedamaian, baik kepada orang yang sudah dikenal maupun yang belum.

Abdullah bin Amru bin Ash RA ber ta nya kepada Rasulullah SAW, “Bagai manakah Islam yang baik itu?” Beliau menjawab; “Kamu memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal maupun tidak.” (Mut tafaq ‘alaih).

Imam Malik dalam kitabnya al-Mu wattha’ menjelaskan, suatu hari Thu fail bin Ubai bin Kaab menemui Abdullah bin Umar, lalu dia mengajak Thu fail ke pasar. Thufail kemudian bertanya kepada Ibnu Umar, “Apa yang kamu lakukan di pasar nanti? Sebab aku yakin, kamu tidak akan membeli sesuatu, tidak menawar sesuatu, dan tidak akan duduk-duduk saja di pasar? Lebih baik di sini saja kita berbincang-bincang,” ujar Thufail. Abdullah menjawab, “Wahai Abu Bathan (panggilan Thufail), kita pergi ke pasar untuk me nyebarluaskan salam. Kita ucapkan sa lam kepada siapa saja yang kita jumpai di pasar.” (Lihat pula dalam kitab al- Jami’).

Menyebarluaskan salam adalah perintah Allah dan Rasulullah SAW. Dalam Alquran, perintah menyebarkan salam itu terdapat pada surah an-Nur ayat 27 dan 61, an-Nisa [4]: 86, adz- Dzariyat: 24-25). Karena itu, menyebarkan salam merupakan kewajiban setiap Muslim.

Abu Umarah al-Barra’ bin Azib RA berkata, “Rasulullah SAW menyuruh kami melaksanakan tujuh hal, yakni menjenguk orang yang sakit, mengantarkan jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong orang yang lemah, membantu orang yang teraniaya, me nyebarluaskan salam, dan menepati janji.” (Muttafaq alaih).

Menyebarluaskan salam berarti menyebarluaskan kedamaian dan keselamatan. Karena, makna dari kalimat “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” adalah semoga Allah memberikan kedamaian (kesejahteraan), me rahmati serta keberkahan kepada kalian semua. Kalimat di atas berarti mengajak setiap umat dan orang yang mendengarnya untuk senantiasa cinta akan kedamaian dan keselamatan. Dengan salam pula, diharapkan seluruh umat akan terhindar dari sikap permusuhan dan kebencian.

Dan sebagai seorang Muslim, kewajiban kita adalah menjawab salam, jika ada orang yang memberi salam. Jawaban salah itu hendaknya dengan ucapan yang serupa atau bahkan lebih baik lagi, yakni “Wa‘alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh” (Semoga Allah juga memberikan keselamatan, kedamaian, dan keberkahan kepada kalian).

Hanya ada enam golongan yang tidak berkewajiban menjawab salam yang disampaikan kepadanya, yakni orang mati, orang yang tertidur, orang gila, orang tuli, orang bisu, dan orang kafir. Nah, jika kita enggan untuk menjawab salam, maka di manakah kita di antara enam golongan tersebut? Semoga Allah merahmati kita semua. Amin.


Oleh: Ustaz Fadzlan Garamatan   
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/07/15/m773e3-inilah-keutamaan-menyebarkan-salam

Template by:

Free Blog Templates