Jumat, 05 Juli 2013

Pejabat Dambaan Ummat



Islamedia -“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.” (HR. Muslim).

Saudaraku,
Kegemilangan zaman yang pernah dikecap umat Islam di masa khulafaur rasyidin; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali kembali tercipta di zaman khalifah bani Umayyah; Umar bin Abdul Azis.

Walaupun mereka berada di rentang waktu yang berbeda. Padahal ia memerintah cukup singkat, kurang dari tiga tahun. Dari tahun 99 H hingga 102 H. Namun kemilau prestasinya akan terus dikenang oleh umat Islam sepanjang masa. Wajar, jika para ahli sejarah menyebut Umar bin Abdul Azis sebagai khalifah ar rasyid yang kelima.

Rakyat hidup damai sejahtera. Kezaliman menyingkir dan kemiskinan sirna tak berbekas. Tiada seorangpun dari rakyatnya yang mau menerima harta zakat dan sedekah, karena mereka merasa mampu dan tak layak mendapat jatah zakat dan sedekah. Baitul mal pun sesak dengan banda zakat, sedekah dan yang lainnya.

Kesejahteraan bukan hanya dirasakan oleh manusia, tetapi dikecap pula oleh binatang dan hewan yang hidupnya di lereng-lereng bukit dan lembah.

Serigala yang biasanya memangsa kambing dan domba, pada saat itu bisa membaur dan hidup berdampingan dengan akur dan rukun bersama kawanan domba dan kambing. Subhanallah.

Malik bin Dinar berkisah. Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai Khalifah, para penggembala kambing di puncak gunung berkata, “Siapakah khalifah shalih yang sedang memerintah manusia saat ini?.”
Malik bin Dinar berkata, “Mengapa kalian bertanya demikian?.”
Para penggembala itu menjelaskan, “Bila pemerintahan dipegang oleh seorang khalifah yang shalih, maka serigala dan singa tidak mengganggu kambing-kambing kami.”

Namun kala pemimpin yang shalih tiada, keadaan pun berubah, Musa bin Ayyan mengisahkan, ‘Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, demi Allah, kami menggembalakan kambing bersama serigala di suatu tempat. Hingga suatu malam serigala menyerang kambing kami. Dengan adanya peristiwa ini kami mengira bahwa lelaki shalih yang menjadi khalifah telah wafat. Ternyata keesokan harinya memang benar, kami mendengar kabar bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah wafat.” (hilyatul auliya’, Abu Nu’aim al Ashbahani).

Kedamaian dan keindahan hidup di bawah naungan pemimpin yang shalih dan adil bukan hanya dirasakan oleh manusia dan hewan melata. Bahkan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan pun turut merasakannya.

Imam Ahmad dalam kitab al musnad menyebutkan bahwa pada era Umar bin Abdul Aziz, sebutir biji gandum besarnya seukuran bawang putih.

Subhanallah, lalu sebesar apa buah terong pada masa itu? Allahu akbar!.

Saudaraku,
Kesejahteraan, keadilan, keamanan dan kedamaian itulah yang barangkali menjadi barang langka di negeri kita saat ini. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, baru menjadi senandung lagu yang selalu kita dengar setiap kali gema MTQ digulirkan, baik di tingkat Kecamatan, Kabupaten, Propinsi maupun Nasional.

Praktek korupsi merajalela di mana-mana. Terutama di lingkaran kekuasaan dan parlemen serta tempat-tempat basah seperti pajak dan seterusnya.

Makan malam bersama keluarga di Sumur Bandung pun terasa kurang nyaman dan terganggu, karena banyaknya para pengamen yang memetik senar gitar dengan suara yang terkesan dipaksakan.

Aparat yang menggusur paksa pedagang kaki lima. Penjualan bayi yang terus marak. Pelacuran yang meramaikan kehidupan malam. Wajah-wajah polos anak-anak di bawah umur yang hidup di bawah garis kemiskinan terpaksa harus putus sekolah. Anak-anak kurang gizi yang menjamur. Tangisan rakyat yang dibalut penderitaan dan dicekik hutang. Kriminalitas terus membayangi warga. Dan seterusnya, yang merupakan pemandangan nyata yang terus kita saksikan di sekitar kita.

Hewan dan binatang pun gerah lantaran kezaliman semakin tumbuh subur di negeri ini. Yang mana hal ini membuat masyarakat resah. Munculnya binatang aneh yang meresahkan, seperti serangga Tomcat yang sempat membuat panik warga yang disapanya. Yang terkena serangga tersebut akan menderita penyakit gatalnya.

Bencana yang seolah-olah ia menjadi cerita bersambung yang tak pernah ada kata akhir. Bumi tak rela dijadikan tempat maksiat dan dosa yang terus menjamur.

Kita sangat merindukan pemimpin yang memiliki kepribadian seperti Umar bin Abdul azis. Kita mendamba munculnya ratu adil, yang dapat mengalirkan kesejahteraan, kedamaian, keamanan dan keadilan bagi rakyatnya. Yang akan dicintai rakyat dan do’a-do’a tulus terlantunkan dari lisan mereka.

Hal ini senada dengan sabda Nabi saw, “Sebaik-baik penguasa adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Kalian do’akan kebaikan atas mereka dan mereka pula mendo’akan kebaikan untuk kalian. Seburuk-buruknya penguasa adalah orang-orang yang kalian benci dan mereka juga membenci kalian. Laknat, kalian berikan kepada mereka dan mereka pun melaknati kalian.” HR. Muslim.

Saudaraku,
Ada pertanyaan yang menggelayut di benak kita perihal khalifah Umar bin Abdul Azis ini. Dengan capaian yang teramat gemilang dan raihan prestasi yang menakjubkan selama menjadi khalifah, apakah hal itu terjadi secara kebetulan, spontan bim salabim, alami atau ada usaha manusiawi yang terprogram dan terarah? Atau mengalir begitu saja sesuai dengan aliran mata air takdir yang Maha Kuasa?.

Jawabannya tentu, selain dari bagian sekenario Allah swt, ada usaha manusiawi yang terarah, ada sebuah proses yang terprogram dan ada cita-cita yang tertata rapi dari sang khalifah.

Salah satunya, seperti yang disebutkan oleh Hasan Zakaria Falyafil dalam bukunya ‘tharaif wa mawaqif min at tarikh al Islami’.

Ia menulis, setelah didaulat menjadi khalifah bani Umayyah, Umar bin Abdul Azis mengirim sepucuk surat kepada Salim bin Abdullah bin Umar di Madinah, yang inti suratnya adalah,
“Kirimkanlah untukku buku-buku yang mengulas perihal Umar bin Khattab, keputusan-keputusan yang pernah diambilnya selama menjadi khalifah dan berisi lembaran-lembaran sirahnya. Karena sesungguhnya aku ingin mengikuti jejaknya dan menapaki jalan yang pernah dilaluinya.”

Setelah membaca surat dari sang khalifah, Salim mengirim surat balasan,
“Engkau sekarang hidup di zaman yang berbeda, bukan hidup di masa Umar, dan tidak didampingi oleh para pejabat yang dulu pernah membantu Umar (dalam mengurus rakyatnya).

Tapi ketahuilah jika engkau berniat sungguh-sungguh mengukir kebaikan dan memiliki tekad yang bulat untuk itu, maka Allah swt akan membantumu. Dan Dia akan mengaruniakan kepadamu para pejabat yang akan membantumu (dengan tulus). Karena sesungguhnya pertolongan Allah diberikan kepada hamba-Nya sepadan dengan niat tulus yang tertancap di dalam hatinya.”

Saudaraku,
Ternyata itulah kunci kesuksesan Umar bin Abdul Azis dalam mengemban amanah sebagai khalifah.

Ada niat tulus, untuk mengikuti jejak para pendahulunya; khulafaur rasyidin. Selalu meminta nasihat, saran dan teguran dari para ulama Rabbani dan zuhud yang hidup di masanya. Menyingkirkan para pejabat yang bermental mendua, suka berbasa basi dan cari perhatian.

Mungkinkah di zaman ini lahir penguasa atau pemimpin yang berkepribadian seperti Umar bin Abdul Azis?

Walaupun sulit terwujud, tapi tidak mustahil akan muncul di negeri kita. Bahkan di daerah kita. Selama ia mau mengikuti jejak sang khalifah yang zuhud ini. Selama ia memandang bahwa jabatan yang disandangnya adalah amanah dari Allah swt, bukan alat untuk memperkaya diri dan keluarganya. Bertekad bulat mensejahterakan rakyatnya. Dan selama ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai kendaraan untuk berlaku sewenang-wenang dan lupa daratan.

Semua berawal dari niat tulus dan kebulatan tekad. Dimulai dari merubah ‘mau’ menjadi ‘kemauan’. Selama ada terselip tujuan, menggapai ridha Allah swt dan meraih cinta dan do’a kebaikan dari rakyatnya. Selama ia yakin dengan pertolongan-Nya.

Ataukah, kita layak menjadi pemimpin dambaan itu?

Wallahu a’lam bishawab.

Orang Mukmin itu Selalu Muhasabah Dirinya





 
 
 
 
 
 
 
 
                                                                                                                                                  Islamedia - Orang Mukmin itu selalu mengurusi jiwanya. Ia mengevaluasi dirinya karena Allah. Hisab pada hari kiamat menjadi amat ringan bagi orang-orang yang melakukan perhitungan terhadap dirinya di dunia

Rasulullah Saw. bersabda, "Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Dan, orang yang lemah adalah orang yang mengikuti nafsunya seraya berangan-angan kepada Allah." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia menyatakan hadits hasan)

Allah telah menetapkan perjalanan hidup yang seharusnya ditempuh manusia di dunia. Dia juga telah menetapkan tujuan yang semestinya dicapai manusia. Dan, kesuksesan seseorang diukur dengan hasil akhirnya. Allah Swt. menegaskan,"Setiap jiwa akan merasakan mati. Maka siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga sungguh ia telah beruntung. Dan, tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesesenangan tipuan." (Q.S. Ali Imran [3]: 185)

Tentu saja hal itu terjadi di hari akhirat. Sehingga, seseorang tidak dapat menunggu yang akan didapatkan di akhirat untuk kemudian melakukan perbaikan (di dunia) karena itu merupakan hasil akhir. Dan, kesempatan untuk mengubah dan kembali sudah tidak ada lagi. Karena, hasil apa pun yang diperoleh pada hari akhirat adalah balasan atas yang dilakukan selama hidup di dunia. Masa beramal sudah usai dan hari akhirat adalah masa menerima balasan. Allah berfirman:

"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (Q.S. Al-Zalzalah [99]: 7-8)

Allah Swt. berfirman pula, "Dan carilah (kehidupan) negri akhirat pada apa yang Allah berikan kepadamu dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah melakukan kerusakan di bumi sesungguhnya Allah tidak suka kepada para perusak." (Q.S. Al-Qashash [28]: 77)

Dengan ayat tersebut, Allah memerintahkan kita untuk menjadikan kehidupan dunia sebagai alat untuk mencapai kehidupan akhirat yang bahagia. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi kita yang menginginkan kehidupan bahagia hakiki di hari setelah kematain kelak selain melaksanakan yang disabdakan Rasulullah Saw. itu. Dan, itulah orang yang cerdas. "Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk menghadapi setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti nafsunya seraya berangan-angan kepada Allah."

Bisa dimengerti jika Rasulullah Saw. menyebut orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu dan berjuang untuk membangun kehidupan setelah kematian sebagai orang yang cerdas. Karena, orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu adalah orang yang akalnya merdeka. Dia mampu mengambil hal terbaik dari segala yang dia jalanai dalam kehidupan. Akalnya difungsikan secara baik dalam menilai baik dan buruk. Fikirannya digunakan untuk mentafakuri ayat-ayat Allah baik yang bersifat kauniyyah maupun qauliyyah, sebagaimana digambarkan oleh-Nya:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka'." (Q.S. Ali Imran [3]: 190-191)

Dan, dapat difahami pula bila Rasulullah Saw. menyebut orang yang berbuat untuk menghadapi kehidupan setelah kemataian sebagai orang yang cerdas. Karena, orang ini berjalan dan bekerja dalam hidupnya dengan berpegang pada orientasi ke depan yang jauh. Tidak hanya berfikir dan berorientasi pada masa yang pendek. Dia mengukur dirinya dan segala yang akan dilakukannya dengan takaran target yang ingin dicapai. Ia selalu bertanya dalam dirinya saat akan melakukan suatau pekerjaan atau melampiaskan kesenangan, "Adakah hal ini mendekatkan saya ke surga atau menjauhkan saya darinya?"

Sedangkan, orang lemah tak berdaya bertekuk lutut dalam penguasaan hawa nafsu. Dan, dia hanya berangan-angan bahwa Allah akan meberinya sesuatu yang indah dan menyenangkan, tanpa beramal dan berjuang.

Di sinilah arti penting muhasabah. Muhahasabah adalah evaluasi terhadap diri sendiri dan menghitung-hitung yang sudah dan yang belum dilakukan. Muhasabah adalah upaya koreksi atau pelurusan terhadap diri kita agar senantiasa berada di jalan yang diridoi oleh Allah Swt.

Seorang yang beriman bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Bukan pula yang tidak pernah mengalami penyimpangan dalam hidupnya. Melainkan, orang yang apabila melakukan kesalahan dan mengalami penyimpangan bersegera melakukan perbaikan dan meluruskan arah. Allah Swt. berfirman:

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui." (Q.S. Ali Imran [3]: 135)

Ibarat pilot, dalam satu rute penerbangan ia sangat mungkin melakukan kesalahan. Itu tidak masalah selama dia memiliki tiga hal; rute dan tujuan perjalanan, kompas pemandu, dan selalu kembali dari waktu ke waktu.

Umar bin Khattab mengatakan, "Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum dihisab (oleh Allah di hari akhirat), dan timbanglah diri kalian sebelum ditimbang (oleh Allah pada hari akhirat). Karena kalian akan lebih baik melakukan hisab hari ini dari pada dihisab kelak. Berhiaslah untuk hari perhitungan terbesar di mana kalian ditampilkan dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari diri kalian."


Imam Ahmad meriwayatkan dari Wahb, dia menyatakan bahwa di dalam hikmah Nabi Dawud a.s. tertulis, "Hak bagi orang berakal ialah tidak lalai terhadap empat waktu/momentum. Satu waktu ia bermunajat kepada Tuhannya. Satu waktu ia memuhasabah jiwanya. Satu waktu ia bergaul dengan teman-temannya yang menjelaskan aib-aibnya dan meluruskan jiwanya. Dan satu waktu ia menyepi antara jiwanya dengan kelezatannya memikikirkan yang halal dan yang menjadikan jiwanya terlihat indah." (Kumpulan Tulisan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Iqbal kadir, Penerbit Buku Islam Rahmatan, Jakarta).

Al-Hasan berkata, "Orang Mukmin itu selalu mengurusi jiwanya. Ia mengevaluasi dirinya karena Allah. Hisab pada hari kiamat menjadi amat ringan bagi orang-orang yang melakukan perhitungan terhadap dirinya di dunia. Dan hisab tersebut menjadi amat sulit bagi orang-orang yang menjalani hidup ini tanpa evaluasi di dalamnya." Allahu a'lam.
 

Revolusi Masih Terus Bergerak



gmj mesir

Revolusi ini akan terus berjalan
Sampai Islam tegak atau nyawa kami yang lebih dulu sampai ke surga
Mereka kira dengan membunuh Hasan Al-Banna,
revolusi akan mati tenggelam di makan bumi?
Nyatanya dukungan itu makin membumi di Mesir
Mereka kira dengan menggantung Sayyid Qutb, revolusi akan terhempas dari Mesir?
Nyatanya kaum muda. tua, buruh, petani dan berbagai elemen bangsa Mesir datang memberi dukungan
Jutaan kaum revolusioner IM di tangkap dan mendekam di penjara, mereka kira akan melemahkan perjuangan akar rumput di Mesir
Nyatanya gelombang dukungan itu makin kuat dan membesar
Rakyat bersatu dalam kekuatan Allah, tak bisa di kalahkan

Kawan!
Masih ingatkah tentang kisah perang Ahzab?
Kawan!
Masih ingatkah kisah tentang perang Uhud?
Lihat apa yang dikatakan orang munafik ketika kekalahan perang Uhud:
“untuk apa ikut perang sama Muhammad, kalahkan?”

Kami di sini sudah terbiasa di tikam oleh musuh, bahkan oleh saudara kami sendiri (baca: HT & Salafi)
Terhadap musuh, kami tahu bahwa itu adalah tabiat mereka
kepada saudara-saudara kami di HT & Salafi kami masih berdoa dan berharap kita bisa bersama menegakkan Islam di seluruh penjuru bumi…Allahu Akbar!
Mana kaum sosialis dan liberalis yg teriak2 anti junta militer?
Dunia selalu mengutuk aksi kudeta militer
tapi mereka bungkam untuk Mesir
Ke mana para budak nafsu itu?
Sejarah terus berulang
Kalian tikam kami dengan harap akan mati
Kalian tusuk kami dengan harap mati terkapar kehabisan darah
Kalian injak-injak kami dengan harap agar menjadi hina
Kalian usir kami dari rumah bahkan dari negeri kelahiran kami, dengan harap putus mata rantai gerakkan ini
Kalian inginkan kami mati dan hancur sehancur nya
Kalian kudeta pemimpin kita yang terpilih secara sah
Dengan harap akan semakin berkeping-keping perjuangan kami

Ku katakan pada mu, para budak nafsu (baca: sosialis & liberalis) Hari ini dan seterusnya..
Darah juang kami tak akan berhenti mengalir di nadi dan jantung umat
Jika seluruh dunia ingin menghentikan gerak kami, ku katakan pada mu, sia-sia sajalah apa pun usaha Anda untuk melemahkan kami
karena Allah beserta kami
Dan janji Allah pasti!
Kemenangan di dunia dan akhirat hanya milik orang-orang mukmin
Allahu Akbar!
(sbb/dakwatuna)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/07/05/36240/revolusi-masih-terus-bergerak/#ixzz2YDLk2Tgf
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

orang baik itu istimewa


Kenapa sih harus kita yang mengalah?

Kenapa sih harus kita yang bersabar?
Kenapa sih kok harus kita yang bermanis muka kepada orang lain?
Kenapa sih harus kita yang lebih giat bekerja sementara orang lain bermalas-malasan?
Kenapa sih kok harus kita yang harus selalu berbuat baik, berbuat baik, dan berbuat baik lagi?

Ya, memang kita yang harus mengalah, bersabar, bermanis muka, giat bekerja dan berbuat aneka kebaikan. Karena kita ingin menjadi orang baik yang sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Karena kita tak ingin hanya baik di angan-angan saja, tapi baik dalam kenyataannya baik dihadapan manusia maupun di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Maka orang yang baik ya harus beramal (berbuat) baik. Kalau beramal buruk berarti jadilah kita orang yang buruk atau jahat. Tentu kita inginnya jadi orang baik dan tak kepingin jadi orang  jahat (Na'udzubillahi min dzalik).

Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang baik itu?" Nabi Saw menjawab, "Yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya." Dia bertanya lagi, "Dan yang bagaimana orang yang paling buruk (jahat)?" Nabi Saw menjawab, "Adalah orang yang panjang usianya dan jelek amal perbuatannya." (HR. Ath-Thabrani dan Abu Na'im)

Saudaraku, kebaikan memang butuh perjuangan serta sering bertentangan dengan hawa nafsu dan keinginan kita. Berbuat baik memang harus mengalahkan sifat ananiyyah (ego) kita. Karena perbuatan baik itu juga balasannya sangat baik dan besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Meski demikian Allah tidak pernah memaksa kita kok untuk jadi orang baik. Bahkan soal keimanan sekalipun Allah memberi kebebasan buat kita memilih. Yang mau kafir-kafir lah! Yang mau beriman berimanlah dengan sebenar-benarnya. Yang mau jadi penjahat jadilah penjahat dan tunggulah pembalasan (azab) Nya. Dan yang ingin berbuat ikhsan (baik) berbuat ikhsan lah dengan jaminan bahwa perbuatan itu akan membuat kita meraih bahagia yang sejati lagi abadi.

Menjadi orang baik di mata Allah memang tidak mudah, kita harus mulai dengan mengokohkan keimanan, mengendalikan hawa nafsu dan meneguhkan tekad untuk istiqomah di dalamnya.

Meneguhkan keimanan agar kita tak pernah ragu bahwa apa yang kita lakukan akan membawa keuntungan besar yang tidak ada taranya dibanding kesusahan kita dalam melaksanakannya. Maka dengan keimanan inilah kita akan dapat mengendalikan hawa nafsu dan sekaligus bisa kuat untuk istiqomah di atas kebaikan tersebut.

Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR. Ath-Thabrani)

Janganlah kamu menjadi orang yang "ikut-ikutan" dengan mengatakan "Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim kami pun akan berbuat zalim". Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, "Kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya". (HR. Tirmidzi)

Saudaraku tak akan sama emas dengan tembaga, jelas beda antara padi dengan ilalang. Meskiun kadang di mata manusia yang 'rabun'  terlihat sama, namun sejatinya tetap tak akan luput dari pandangan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Bahkan kala kita merahasiakan kebaikan yang kita lakukan, kita akan mendapat nilai lebih di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak ada yang rugi dari perbuatan baik meski diketahui maupun tidak  oleh manusia lain.

Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, seseorang melakukan amal (kebaikan) dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga menyukainya (merasa senang)." Rasulullah Saw berkata, "Baginya dua pahala yaitu pahala dirahasiakannya dan pahala terang-terangan." (HR. Tirmidzi)

Jadi, jangan lelah berbuat baik meski tidak ada orang yang melihat dan memujinya. Jangan lemah semangat meski kebaikan kita tak diakui bahkan mungkin dikhianati oleh manusia. Kita berbuat baik adalah karena kita ingin menjadi manusia istimewa di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Kita berbuat baik bukan untuk dipuji dan disanjung, tapi untuk meraih ridho dan rahmat-Nya.  Agar Dia ridho dengan hidup dan mati kita, sehingga eridhoan itu mendatangkan rahmat yang termat sangat kita butuhkan untuk masuk dalam surga-Nya Allah Ta'ala. Adakah yang lebih penting dari keridho'an-Nya?

Sang teladan agung kita, Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda: Seorang masuk surga bukan karena amalnya tetapi karena rahmat Allah Ta'ala. Karena itu bertindaklah yang lurus (baik dan benar). (HR. Muslim)


 Oleh Abdillah Syafei

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/06/03/mnswlk-orang-baik-itu-istimewa

sugih tanpo bondo





Ada pepatah Jawa berbunyi sugih tanpa bondo. Saya kurang memahami maksud sebenarnya dari pepatah ini. Sedikit yang saya pahami, tetapi mengalaminya. Saya sering mengatakan, jangan mengandalkan uang. Kasihan sekali orang susah, orang miskin kalau apa-apa harus disinggung masalah uang. Nanti mereka semakin susah.

Penyedia terbaik, ya Allah. Pemberi rizki terbaik, ya Allah. Rumah, apa harus beli? Apa harus menyewa? Apa harus menyicil? Banyak sekali orang yang tidak mengeluarkan uang sama sekali, tetapi mempunyai rumah. Seorang kawan membeli satu buah vila. Kesepakatan harga vila tersebut sekitar Rp 700 juta. Dari awal negosiasi harga kawan saya tersebut dengan penunggu vila.

Ketika penunggu vila itu ditanya sama calon pembeli ini, mana yang mempunyai vila dan ia berkeinginan berbicara serta bernegosiasi harga dengan si empunya vila, si penunggu vila selalu menjawab, “Sama saya saja.” Dia menambahkan, cukup berhubungan dengan dirinya. Karena, semua persoalan telah diserahkan kepada dirinya.

Akhirnya, negosiasi berlangsung antara calon pembeli dengan penunggu vila, bukan pemiliknya. Pada mulanya, kawan yang merupakan calon pembeli itu merasa aneh. Jangan-jangan ini tidak benar. Tapi kenyataannya, surat rumah yang asli dipegang oleh penunggu vila. Hingga akhirnya tercapai kesepakatan harga, yaitu sekitar Rp 700 juta.

Kemudian, datanglah pemilik vila untuk melakukan proses tanda tangan jual beli. Itu pun yang datang adalah anak si pemilik karena pemilik vila ternyata sudah meninggal dunia. Si calon pembeli yang dihinggapi rasa penasaran bertanya kepada anak si pemilik vila berapa sebenarnya harga yang disampaikan pemilik vila.

Anak tersebut menjawab, berapa pun harga yang ditetapkan itu terserah beliau. Beliau yang ia maksud adalah penunggu vila. Lalu, bingunglah calon pembeli ini. Ia bertanya kepada diri sendiri, kok bisa almarhum begitu percaya kepada penunggu vilanya. Anak itu tersenyum, lalu menjelaskan, “Sudah ada wasiat dari almarhum bahwa vila ini diserahkan kepada si penunggu. Ini buat dia.”

Rupanya, almarhum pembeli rumah pertama, kemudian disulap menjadi vila. Almarhum membeli vila tersebut sekitar 25 tahun yang lalu. Menurut penunggu vila, 25 tahun lalu pemilik masih muda. Ia mengatakan pemilik cuma datang sekali. Setelah itu, ia hanya mengutus orang untuk merenovasi total bangunan yang telah dibelinya.

Setelah renovasi selesai, vila itu diserahkan kepada si penunggu. Ia mendapatkan amanat untuk menjaga dan mengurus vila tersebut. Ia diizinkan untuk tinggal bersama istri dan anaknya, waktu itu masih satu, di vila. Sejak saat sampai wafatnya, pemilik vila tak pernah datang lagi. Hanya anak almarhum yang akhirnya datang. Tujuannya untuk menyerahkan vila kepada si penunggu. Subhanallah.

Saya kebetulan mendampingi kawan saya itu dalam proses negosiasi awal. Kami bertemu dengan bapak penunggu vila yang berada di sekitar Salabintana. Mungkin bapak penunggu ini mempunyai amalan yang kita semua tidak mengetahuinya. Ia menempati vila seperti rumah sendiri karena memang ia diminta menjaganya, tak boleh keluar dari sana. Bahkan, bangunan itu direnovasi total. Jumlah kamar ditambah, dibangun aula, mushala, taman, dan fasilitas lainnya.

Setelah itu, pemilik memberikannya ke bapak penunggu vila. Termasuk, surat-surat rumahnya. Hingga kemudian vila tersebut dijual, uangnya tetap menjadi haknya. Dari cerita ini, bagi siapa yang percaya setiap saat harus butuh uang, ia sungguh merugi. Bagi yang percaya bahwa Allah Mahakuasa, sungguh beruntung dia ini. Wallaahu a’lam.

Apa amalan si bapak penunggu ini kala mudanya dulu? Atau, amalan orang tuanya. Dengar-dengar, dulu waktu ia mau membenahi rumahnya sendiri yang akhirnya berubah menjadi vila, uangnya disedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Sampai akhirnya, rumahnya dijual, namun tetap saja akhirnya dimilikinya. Masya Allah.

 Oleh Ustaz Yusuf Mansur

Mulia dalam kejujuran





“Aku bukan Malaikat,” kata si Fulan penuh nada yakin. Memang, siapa bilang engkau mahkluk Allah yang sangat patuh dan bersih dari dosa? Kita manusia biasa. Sejauh tak ada percikan niat ingin menjadi pendosa dan bersahabat dengan syaitan, mengapa mesti galau?

Manusia, siapa pun dia bisa salah dan khilaf. Manusia menjadi manusiawi karena dalam dirinya ada ruang untuk keliru.

Adam sang khalifah fil-ardh dan istrinya Hawa mengalami tahbith, dikeluarkan dari surga karena memakan buah khuldi. Keduanya menjalani hidup di dunia sebagai manusia biasa. Adam alaihissalam (AS) kemudian diberi tugas mulia sebagai nabi penyebar risalah pertama di muka bumi.

Masalahnya, tidak sedikit manusia berpakaian angkuh ketika salah. Alih-alih jujur akan kekhilafan, lalu memperbaiki diri ke jalan benar dan berlari kencang menuju ampunan Tuhan malah sibuk mencari kambing hitam. Diri seolah tetap bersih dan tak merasa berada di persimpangan jalan buntu.

Isyarat tubuh pun masih tampak pongah dalam keperkasaan semu. Jauh dari sikap tawadhu' (rendah hati). Ketika salah dan berbelok arah dari idealisme awal, masih pula merasa lurus.

Tak ada rona sesal untuk bermuhasabah diri. Keangkuhan itulah yang menjadikan anak cucu Adam tersandera dalam sangkar besi kesalahan, lalu menjadi cibiran nyinyir khalayak publik.

Menjauhi kicuh

Muslim yang autentik berani jujur meski ketika salah. Ibda bi-nafsika, orang jujur akan selalu berkonsultasi kepada hatinya. Pihak lain akan mudah dikelabui dengan 1.001 cara. Tetapi manakala diri salah maka nurani tak pernah dusta.
 
Kejujuran itu mahal. Kejujuran merupakan mutiara paling berharga yang membuat siapa pun dihargai dan dipercaya. Tuhan mencintai orang-orang yang berhati jujur, berkata dan berbuat jujur.

Muhammad di usia muda sebelum diangkat menjadi Nabi memperoleh tempat mulia di hati bangsa Arab karena kejujurannya. Dia bahkan digelari al-Amin, sang terpercaya. Bangsa kafir dan jahiliyah sekalipun masih menjujung tinggi nilai kejujuran.

Kejujuran itu universal. Di belahan dunia manapun sejauh hati masih bicara, pasti mencintai kejujuran. Pesepak bola ternama dari negeri Samba, Neymar, juga mencintai kejujuran.

“Saya orang Brasil dan saya mencintai negara saya. Saya ingin Brasil yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih jujur,” tulis Neymar di akun Facebook-nya ketika mereaksi maraknya demonstrasi di negerinya beberapa saat sebelum kick off pertandingan Piala Konfederasi 2013 melawan Meksiko.

Bagi orang Islam kejujuran harus menjadi bagian utuh dari kemusliman. Kisah Imam Al-Bukhari tatkala melacak kebenaran sebuah hadis sungguh penting dijadikan mutiara kehidupan.

Suatu kali periwayat hadis ternama itu pergi menelusuri kebenaran sebuah hadis dari seseorang. Ia melihat orang yang dicari itu sedang mengejar kudanya yang terlepas. Untuk menangkap kudanya, orang itu menunjukkan bungkusan seolah di dalamnya ada gandum. Kuda terkecoh dan akhirnya ditangkap kembali.

Al-Bukhari mendekat dan bertanya kepada si pemilik kuda. “Apakah engkau sertakan gandum dalam bungkusan itu?” Orang itu menjawab, “Tidak, aku hanya mengelabui kudaku agar mudah kutangkap.”

Imam Bukhari dengan tegas berkata, “Kalau begitu, aku tidak akan mencari hadis dari orang yang bohong terhadap hewan.” Dusta dan bersiasat kepada hewan saja tercela, apalagi terhadap sesama manusia.

Kisah Al-Bukhari menurut Jabir al-Jazairi merupakan contoh agung tentang hakikat kejujuran atau kebenaran. Kejujuran merupakan nilai, sikap, dan tindakan paling utama, lebih dari segalanya. Hidup jujur itu mulia, sedangkan dusta itu hina.

Lawan jujur ialah kicuh, yakni dusta dan suka mengelabui. Dalam hadis disebut nifaq. Yakni, jika bicara atau memberi pernyataan berbohong, manakala berjanji tidak ditepati, dan bila diberi amanat berhianat.

Barang halal dan baik dicampuradukkan dengan yang haram dan subhat. Lain di kata, lain pula tindakan. Jargon dan tindakan lahir tampak indah demi rakyat, tetapi motif dan tujuan penuh siasat bulus. Kicuh perilaku yang antagonis seperti itulah musuh kejujuran dan kebenaran sekaligus perangai yang paling dibenci Tuhan. (QS ash-Shaff [61]: 4).
 
Kehormatan diri

Perilaku kicuh sering membuat pelaku bebal diri. Bertipu muslihat dianggap lumrah dan bukan dosa. Boleh jadi perbuatan muslihat bagi sementara orang dipandang sebagai cara hidup demi meraih tujuan.

Dusta menjadi perilaku berjamaah yang didukung para pengikut setia. Ukuran moral dinisbikan demi siasat, yang penting nilai guna dan kemenangan. Hati nan jernih (qalbu salim) akhirnya menjadi mati rasa. Agama pun tak sungkan dijadikan alat mengicuh dalam aroma sakral.

Insan beriman pun bisa roboh ketangguhan akidahnya. Keimanan hanya gemerlap dari luar, tetapi kering di dalam karena tingginya hasrat menguasai dunia melampaui takaran.

Tatkala perjuangan hidup masih merayap senyap, kejujuran dan nilai-nilai luhur masih dapat dirawat dengan baik. Setelah roda kehidupan berputar ke atas, api kejujuran dan sikap hidup utama pun luruh dan terkikis habis karena tertipu dengan pesona dunia. (QS Ali Imran [3]: 14).

Kejujuran digadaikan. Idealisme ditukar murah dengan kursi, materi, dan kesenangan indera yang diraih dengan jalan pintas. Perangai berubah drastis dari sosok-sosok yang tulus hati dan tawadhu' yang menjadi para pencari pamrih dalam pakaian diri serba angkuh, pemarah, ambisius, dan terjangkiti virus apologia.

Begitulah ketika pesona dan kejayaan duniawi mengerangkeng hidup bani Adam. Dalam sangkar besi kehidupan dunia yang sarat gemerlap tidak sedikit manusia beriman akhirnya jatuh dalam kubangan kesalahan diri dan kolektif. Maksud meraih sukses dunia melampaui pihak lain, segala cara syubhat dan haram pun dilakukan.

Nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan kepatutan diterabas tanpa rasa sungkan. Martabat atau kehormatan diri pun dibanting harga hingga ke titik terendah, yang penting menang dalam meraih tujuan.

Kaum beriman pun kehilangan kehormatan diri demi kejayaan hidup berlebih. Mata batinnya lumpuh dan tidak lagi sensitif akan nilai-nilai kebajikan yang utama. Nasihat sekaligus kritik orang tak lagi mempan, bahkan bebal ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu.

Kian larut dalam permainan duniawi, semakin jauh dirinya dari segala sesuatu yang bernilai hakiki, yang ada hasrat dan keasyikan mengejar kedigdayaan. Akhirnya, berlakulah titah Tuhan, tsuma radadnahu asfala safilin, “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS at-Tin [95]: 5).

Iman dan ilmu tinggi tidak lagi menjadi energi pencerahan hidup. Keberimanan pun berhenti sekadar menjadi aksesori keagamaan yang kelihatan bening dari luar, tetapi jorok di dalam. “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci, Dia-lah yang paling mengetahui tentang perangai orang bertaqwa.”(QS an-Najm [53]: 32).
Oleh Haedar Nashir 

Template by:

Free Blog Templates