Senin, 15 November 2010


Meski Serupa, Alquran Tak Sama Dengan Teks Agama Lain
Salah satu bentuk Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Jika, para orientalis abad ke-19 memahami Alquran sebagai kumpulan imitasi/tiruan dari teks-teks pra-Islam, Anglika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig kebalikannya. Mereka memosisikan Alquran dalam penelitian seobjektif mungkin. Kesimpulannya Alquran bukanlah `teks epigonik', yang merupakan hasil imitasi beberapa teks lain dari tradisi praIslam.

Alquran, ditegaskan mereka, walaupun dalam beberapa kasus memiliki paralelitas dan kemiripan dengan teks-teks lain, namun 'independensinya' tetap terjaga. Hal itu terlihat dari karakteristik dari Alquran dan dinamikanya, baik dari segi bahasa maupun isi.

Neuwirth pun membandingkan salah satu surat di Alquran yakni al-Rahman dengan di kitab Zabur. Menurut dia, walaupun kedua teks tersebut memiliki paralelitas/interseksi, namun tetap Alquran memiliki gaya sendiri dalam struktur sastra dan spirit, bahkan lebih spesifik dalam hal isi dan pesan (Neuwirth 2008:157-189).

Pemikiran yang tidak jauh berbeda juga diperlihatkan Nicolai Sinai ketika meneliti QS. An-Najm. Dirk Hartwig, ketika diwawancarai tanggal 2 Juli, tak bisa menahan kritikkannya terhadap Christoph Luxemberg yang mengatakan bahwa Alquran adalah salinan teks dari tradisi Kristen yang berbahasa Syro-Aramaik.

Dan, penyangga terakhir, mereka telah dan sedang memproduksi apa yang mereka sebut sebagai 'der historischkritische literaturwissenschaftliche Kommentar des Quran' (interpretasi historis-kritis dan sastrawi terhadap Alquran). Konstruksi atas interpretasi ini dibangun melalui empat pondasi.

Teks Alquran dan terjemahannya dalam bahasa Jerman, adalah pondasi pertama. Teks Arab didasarkan pada qiara'at Hafsh dari `Asim. Terjemahan Alquran sebagian besar berasal dari terjemahan Rudi Paret dengan beberapa penyesuaian tertentu. Pondasi kedua adalah studi tentang urutan kronologis wahyu.

Dalam posisi ini, mereka ingin merekonstruksi dinamika teks Alquran sehubungan dengan aspek linguistik/sastranya. Juga, apa yang mereka sebut "kritik sastra" dalam arti mereka memberikan penjelasan struktur sastra Alquran dalam menyampaikan pesan tertentu.

Sabtu, 13 November 2010

BERSYUKUR ITU INDAH

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim [14]: 7)

Beberapa waktu lalu, saya membaca buku berjudul 13 Wasiat Terlarang! karya Ippho Santosa, yang oleh sang penulis disebut mampu melejitkan dan memaksimalkan potensi otak kanan. Ada banyak hal menarik dan inspiratif dalam buku tersebut. Berikut saya kutipkan salah satu bagian yang menurut saya paling menarik. Bagian ini adalah tentang syukur dan berpikir positif.

Pada suatu waktu di suatu tempat, tersebutlah seorang bocah yang masih polos sedang berdoa: “Tuhan, Engkau ‘kan tahu, ujian matematiku hari ini sangat buruk. Tetapi, aku bersyukur. Aku tidak menyontek, walaupun teman-temanku melakukannya. Berangkat ke sekolah tadi pagi, aku membawa sepotong roti dan sebotol air. Kata ayah, sekarang sedang musim paceklik. Jadi hanya itu yang bisa kubawa. Di jalan aku melihat pengemis yang kelaparan. Lalu aku berikan saja kue itu padanya. Eh, tahu-tahu laparku hilang ketika melihatnya tersenyum.”

“Tuhan lihatlah, ini sepatuku yang terakhir. Mungkin aku harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau kan tahu, sepatu ini sudah rusak berat. Tapi tidak apa-apa. Aku tetap bersyukur. Paling tidak, aku masih bisa pergi ke sekolah. Terima kasih Tuhan!

Tetanggaku bilang, orang-orang sedang mengalami gagal panen. Beberapa temanku terpaksa berhenti sekolah. Tuhan tolong bantu mereka, supaya bisa sekolah lagi.”
“Oya, semalam ibuku memukuliku. Mungkin karena aku nakal. Itu memang sakit, tapi pasti rasa sakitnya segera hilang. Aku tahu Engkau akan menyembuhkan sakit itu. Yang penting, aku masih punya seorang ibu. Tuhan, tolong jangan marahi ibuku, ya.. Dia hanya lelah, juga panik memikirkan biaya sekolahku. Terakhir, Tuhan. Rasa-rasanya, aku sedang jatuh cinta. Ada seorang gadis yang cantik di kelasku. Menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku? Tetapi, apa pun yang terjadi, aku tahu Engkau pasti tetap menyukaiku. Terima kasih Tuhan!”

***

Syukur adalah perasaan yang jarang sekali dimiliki oleh kita. Terlebih jika dibandingkan dengan keluhan dan keinginan yang kita miliki. Terlebih lagi ketika kita mengalami kesusahan. Padahal sudah banyak nikmat yang kita dapatkan. Bahkan seandainya air laut dijadikan tinta, tak akan cukup untuk menuliskan semua nikmat yang diberikan oleh Allah. Maha benar Allah SWT dengan firmanNya yang menyebutkan bahwa kebanyakan manusia tidak mau bersyukur.

Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya. (QS. Yunus [10]: 60).

Dalam Islam, bersyukur baik dalam keadaan lapang maupun sempit adalah sebuah keharusan. Bahkan, jika seorang mukmin tidak mau bersyukur ia akan mendapatkan azab. Sebagaimana disebutkan dalam surah Ibrahim [14] ayat 7 di atas. Sebaliknya, jika seorang mukmin mau bersyukur, maka Allah akan menambah dan melipatgandakan nikmat yang Ia berikan. Apa sebenarnya maksud Allah dengan firmanNya tersebut? Mari kita telusuri.

Kajian-kajian kontemporer dalam psikologi, neuropsikologi, motivasi, pengembangan diri, manajemen, bahkan pemasaran (marketing) menemukan bahwa ternyata rasa syukur yang tulus merupakan sumber kekuatan luar biasa untuk sukses. Sebaliknya, keluhan-keluhan hanya akan menghambat kesuksesan. Selanjutnya, sikap ini akan memupuk benih-benih kegagalan. Demikianlah barangkali (salah satu) makna praksis dari ayat tersebut.

Pribadi yang bersyukur adalah pribadi yang unggul. Demikian maklumat dari Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang suka memanjatkan puji dan syukur kepada Allah” (Riyadhus Shalihin: 27).

Jika Anda pernah membaca buku atau menonton video The Secret, Anda pasti mendapati bahwa di sana dipaparkan bahwa syukur adalah tahapan kunci untuk memperoleh kesuksesan. Sang pengarang berwasiat, “Bayangkanlah harapan-harapan Anda dengan penuh rasa syukur, seakan-akan Anda sudah menerimanya. Dengan demikian, Anda akan menerimanya segera!” Inilah output dari hukum tarik-menarik universal (law of attraction).

Rasa syukur akan mengumpulkan aura dan energi positif dalam diri Anda yang kemudian akan menarik segala hal positif yang Anda inginkan, termasuk faktor-faktor yang mendukung kesuksesan.

Itulah mengapa dalam adab berdoa secara Islam, yang pertama harus dilafalkan adalah bacaan tahmid, bukan yang lainnya. Ingat juga, bahwa surat Al-Fatihah juga diawali dengan hamdalah. Menurut Erbe Sentanu dalam Quantum Ikhlas, ketika kita memiliki harapan-harapan, sesungguhnya di level quantum harapan kita sedang didengar dan diproses. Jika kita memperkuat aura positif kita dengan rasa syukur dan tahmid secara tulus, terlebih dilakukan dalam doa yang tulus pula, maka harapan-harapan tersebut pasti akan dikabulkan. Jadi, sejatinya yang pertama dan utama adalah syukur dulu baru kemudian meminta dan dikabulkan. Akan tetapi, kebanyakan kita meminta dulu baru bersyukur. Syukur-syukur mau bersyukur, lha kebanyakan kita tidak mau bersyukur.

Dalam buku Your Infinite Power To Be Rich, Joseph R. Murphy menegaskan, andai seluruh proses menuju kekayaan material, mental, dan spiritual dipadatkan menjadi satu kata, maka kata itu adalah ‘syukur’ (gratitude). Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa salah satu rahasia dibalik kegemilangan Albert Einstein adalah ia selalu mengucapkan syukur dan terimakasih ratusan kali setiap harinya.

Satu hal lagi yang penting adalah bahwa syukur bukan hanya layak diucapkan ketika kita mendapatkan sesuatu yang enak dan menggembirakan. Bahkan ketika suatu saat kita gagal atau kita mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, kita harus tetap bersyukur. Segala sesuatu yang tidak enak pun sesungguhnya adalah anugerah yang sangat layak untuk disyukuri. Di samping karena kita tidak layak untuk mengeluh sebab nikmat yang kita miliki jauh lebih banyak, juga karena di balik hal-hal yang tidak enak itu sejatinya tersimpan hikmah dan pelajaran yang luar biasa positif.

Coba simak puisi karya Balya al-Rasyid yang mencoba merenungi hikmah di balik segala sesuatu yang tidak enak melalui rasa syukur berikut ini:

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku sengsara, menderita
Engkau telah mengajariku cara untuk bersabar

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku gagal
Engkau telah mengajariku cara untuk terus berjuang

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku kalah
Engkau telah mengajariku cara untuk bertahan

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku jatuh tersuruk, terpuruk
Engkau telah mengajariku cara untuk bangkit

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatnya menolak ku
Engkau telah mengajariku cara untuk mencintai dengan tulus

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku tersesat
(Dengan demikian) Engkau telah menunjukkanku jalan yang benar

Tuhan, terimakasih untuk semua yang tidak enak ini
Semuanya



Wallahu a’lam.

Cermin Hati

Amalan yang pasti dan hampir kita lakukan setiap hari adalah bercermin. Keterbatasan manusia yang tidak bisa melihat dirinya sendiri diatasi dengan adanya sebuah cermin. Dengannya akan terlihat rupa wajah bentuk tubuh dari diri kita. Proses comparing didepan cermin, membutuhkan waktu..ada yang cukup 5 detik ada yang sampai berjam-jam demi menyelaraskan persepsi ayu dan tampan dengan apa yang ada dalam dirinya. So, ada apakah dengan bercermin?

Sobat, doa merupakan permohonan dan rasa kesyukuran hamba kepada Allah swt. Tanpa doa, berarti dia lupa akan pencipta, dan tanpa atau lupa berdoa berarti saat itu ia lupa bersyukur bahwa yang terlihat di cermin ini adalah karunia-Nya

Manusia adalah ciptaan terbaik Allah Swt. Sempurna! Dari tekstur kulit luar sampai dengan system perancangan kehidupan didalam tubuh seorang manusia. Bagaimana bernafas, bagaimana melihat mendengar dan juga belajar untuk menentukan jalan mana yang akan dipilih. Ke Syurga kah? Atau lebih memilih gemerlap jalan ke Neraka.

Dari ‘Ali bin Abu Thalib RA, bahwasanya Nabi SAW apabila beliau melihat wajahnya di cermin, beliau berdoa, “Al-hamdu lillaah, Aloohumma kamaa hassanta kholqii fa hassin khuluqii” (Segala puji bagi Allah, Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka baguskanlah akhlaqku). [HR. Ibnus Sunni]

Hadist diatas merupakan satu dari beberapa riwayat yang menerangkan tentang doa Bercermin. Allahumma Kama Hassanta Khalqī fa Hassin Khuluqī (Segala puji bagi Allah, Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka baguskanlah akhlaqku).

Doa yang cukup singkat dan mudah dihafal untuk diamalkan dalam keseharian kita tetapi mengandung makna yang sangat filosofis dan sangat mendasar dalam membentuk kepribadian setiap muslim. Bertobatlah, jika anda selalu lupa atau bahkan tidak mampu membaca doa yang satu ini.

Hakikat bercermin adalah melihat bayangan wajah sendiri atau tubuh pada sebuah cermin, air dan lainnya. Aktifitas ini hampir dilakukan oleh kita setiap harinya, untuk memastikan diri apakah dandanan atau make up kita telah menambah kecantikan atau ketampanan kita atau belum, melihat apakah baju kita matching atau tidak, warnanya pas apa tidak …dan berbagai daftar perbandingan seterusnya yang kesimpulannya untuk melihat penampilan kita apakah telah serasi atau belum.

Bercermin akan menjadikan kita percaya diri (self-confidence) dalam pergaulan dan berinteraksi dengan manusia lain.
Hendaknya setiap muslim selalu mengawali setiap aktifitas hidupnya dengan doa termasuk bercermin ini. Ada dua makna yang bisa kita ambil hikmah dari doa ini, pertama, ungkapan syukur kehadirat Allah swt dan kedua, sebuah refleksi diri.

Ekspresi bersyukur adalah melihat wajah dan seluruh badan kita yang telah diciptakan oleh Allah dengan segala kesempurnaannya, dan sungguh telah Aku ciptakan manusia dengan sebaik – baik ciptaan

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.(Q.S. At-Tīn: 4).

Kesempurnaan itu lebih dari sekedar kulit hitam atau putih. Cantik, ganteng dan menawan hanyalah persepsi, tetapi yang sebenarnya adalah bagaimana Allah SWT menciptakannya berpasangan, sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan dan kaki. Dan juga tata letak anggota tubuh yang sangat serasi, letak mata dan telinga, hidung, tangan dan anggota tubuh lainnya. Kesemuanya ini adalah pada tingkat kesempurnaan dan keserasian rupa yang sangat bagus. Dan ini pula yang seharusnya hadir dalam hati untuk menyadarkan diri untuk senantiasa mensyukurinya. Inilah kandungan doa pada sepotong kalimat Hassanta Khalqī (Engkau telah perbagus penciptaanku).

Setelah melihat kesempurnaan rupa fisik ini, refleksikan dengan seluruh perilaku hidup keseharian kita dikantor, pasar, rumah, madrasah dan dimanapaun. Pertanyaan refleksi yang dikedepankan adalah apakah perilaku kita telah sesuai dengan penciptan rupa ini?.

Tidakkah kita telah mengotori kesempurnaan rupa ini dengan perbuatan yang hina dengan selimut akhlak sayyiah ataukah kita senantiasa menghiasinya dalam amalan karimah dengan bungkusan akhlak mahmudah. Ini makna penggalan terakhir kalimat hassin khuluī (perbaguskanlah perangai-ku).

Ya Allah, Engkau telah sempurnakan penciptaan rupaku, maka muliakanlah akhlakku, jauhkanlah wajahku dari api neraka. Puji – pujian teruntuk hanya kehadirat-Mu yang telah menciptakan kesempurnaan dan keserasian ini, yang telah memuliakan wajahku dan men-cantikkannya, oleh karenanya masukkan hamba ke dalam orang - orang muslim.

Mari jangan pernah lupa berdoa. Dengan doa berarti diri ini memastikan bahwa yang akan/sedang dilakukannya ini diniatkan untuk beribadah menghambakan diri kepada Allah SWT. Semoga Allah merahmati, memberikan kemudahan dalam segala kebaikan yang akan kita lakukan. Aamiin Ya Rabbal Alamin

BERSYUKUR ITU INDAH

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim [14]: 7)

Beberapa waktu lalu, saya membaca buku berjudul 13 Wasiat Terlarang! karya Ippho Santosa, yang oleh sang penulis disebut mampu melejitkan dan memaksimalkan potensi otak kanan. Ada banyak hal menarik dan inspiratif dalam buku tersebut. Berikut saya kutipkan salah satu bagian yang menurut saya paling menarik. Bagian ini adalah tentang syukur dan berpikir positif.

Pada suatu waktu di suatu tempat, tersebutlah seorang bocah yang masih polos sedang berdoa: “Tuhan, Engkau ‘kan tahu, ujian matematiku hari ini sangat buruk. Tetapi, aku bersyukur. Aku tidak menyontek, walaupun teman-temanku melakukannya. Berangkat ke sekolah tadi pagi, aku membawa sepotong roti dan sebotol air. Kata ayah, sekarang sedang musim paceklik. Jadi hanya itu yang bisa kubawa. Di jalan aku melihat pengemis yang kelaparan. Lalu aku berikan saja kue itu padanya. Eh, tahu-tahu laparku hilang ketika melihatnya tersenyum.”

“Tuhan lihatlah, ini sepatuku yang terakhir. Mungkin aku harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau kan tahu, sepatu ini sudah rusak berat. Tapi tidak apa-apa. Aku tetap bersyukur. Paling tidak, aku masih bisa pergi ke sekolah. Terima kasih Tuhan!

Tetanggaku bilang, orang-orang sedang mengalami gagal panen. Beberapa temanku terpaksa berhenti sekolah. Tuhan tolong bantu mereka, supaya bisa sekolah lagi.”
“Oya, semalam ibuku memukuliku. Mungkin karena aku nakal. Itu memang sakit, tapi pasti rasa sakitnya segera hilang. Aku tahu Engkau akan menyembuhkan sakit itu. Yang penting, aku masih punya seorang ibu. Tuhan, tolong jangan marahi ibuku, ya.. Dia hanya lelah, juga panik memikirkan biaya sekolahku. Terakhir, Tuhan. Rasa-rasanya, aku sedang jatuh cinta. Ada seorang gadis yang cantik di kelasku. Menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku? Tetapi, apa pun yang terjadi, aku tahu Engkau pasti tetap menyukaiku. Terima kasih Tuhan!”

***

Syukur adalah perasaan yang jarang sekali dimiliki oleh kita. Terlebih jika dibandingkan dengan keluhan dan keinginan yang kita miliki. Terlebih lagi ketika kita mengalami kesusahan. Padahal sudah banyak nikmat yang kita dapatkan. Bahkan seandainya air laut dijadikan tinta, tak akan cukup untuk menuliskan semua nikmat yang diberikan oleh Allah. Maha benar Allah SWT dengan firmanNya yang menyebutkan bahwa kebanyakan manusia tidak mau bersyukur.

Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya. (QS. Yunus [10]: 60).

Dalam Islam, bersyukur baik dalam keadaan lapang maupun sempit adalah sebuah keharusan. Bahkan, jika seorang mukmin tidak mau bersyukur ia akan mendapatkan azab. Sebagaimana disebutkan dalam surah Ibrahim [14] ayat 7 di atas. Sebaliknya, jika seorang mukmin mau bersyukur, maka Allah akan menambah dan melipatgandakan nikmat yang Ia berikan. Apa sebenarnya maksud Allah dengan firmanNya tersebut? Mari kita telusuri.

Kajian-kajian kontemporer dalam psikologi, neuropsikologi, motivasi, pengembangan diri, manajemen, bahkan pemasaran (marketing) menemukan bahwa ternyata rasa syukur yang tulus merupakan sumber kekuatan luar biasa untuk sukses. Sebaliknya, keluhan-keluhan hanya akan menghambat kesuksesan. Selanjutnya, sikap ini akan memupuk benih-benih kegagalan. Demikianlah barangkali (salah satu) makna praksis dari ayat tersebut.

Pribadi yang bersyukur adalah pribadi yang unggul. Demikian maklumat dari Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang suka memanjatkan puji dan syukur kepada Allah” (Riyadhus Shalihin: 27).

Jika Anda pernah membaca buku atau menonton video The Secret, Anda pasti mendapati bahwa di sana dipaparkan bahwa syukur adalah tahapan kunci untuk memperoleh kesuksesan. Sang pengarang berwasiat, “Bayangkanlah harapan-harapan Anda dengan penuh rasa syukur, seakan-akan Anda sudah menerimanya. Dengan demikian, Anda akan menerimanya segera!” Inilah output dari hukum tarik-menarik universal (law of attraction).

Rasa syukur akan mengumpulkan aura dan energi positif dalam diri Anda yang kemudian akan menarik segala hal positif yang Anda inginkan, termasuk faktor-faktor yang mendukung kesuksesan.

Itulah mengapa dalam adab berdoa secara Islam, yang pertama harus dilafalkan adalah bacaan tahmid, bukan yang lainnya. Ingat juga, bahwa surat Al-Fatihah juga diawali dengan hamdalah. Menurut Erbe Sentanu dalam Quantum Ikhlas, ketika kita memiliki harapan-harapan, sesungguhnya di level quantum harapan kita sedang didengar dan diproses. Jika kita memperkuat aura positif kita dengan rasa syukur dan tahmid secara tulus, terlebih dilakukan dalam doa yang tulus pula, maka harapan-harapan tersebut pasti akan dikabulkan. Jadi, sejatinya yang pertama dan utama adalah syukur dulu baru kemudian meminta dan dikabulkan. Akan tetapi, kebanyakan kita meminta dulu baru bersyukur. Syukur-syukur mau bersyukur, lha kebanyakan kita tidak mau bersyukur.

Dalam buku Your Infinite Power To Be Rich, Joseph R. Murphy menegaskan, andai seluruh proses menuju kekayaan material, mental, dan spiritual dipadatkan menjadi satu kata, maka kata itu adalah ‘syukur’ (gratitude). Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa salah satu rahasia dibalik kegemilangan Albert Einstein adalah ia selalu mengucapkan syukur dan terimakasih ratusan kali setiap harinya.

Satu hal lagi yang penting adalah bahwa syukur bukan hanya layak diucapkan ketika kita mendapatkan sesuatu yang enak dan menggembirakan. Bahkan ketika suatu saat kita gagal atau kita mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, kita harus tetap bersyukur. Segala sesuatu yang tidak enak pun sesungguhnya adalah anugerah yang sangat layak untuk disyukuri. Di samping karena kita tidak layak untuk mengeluh sebab nikmat yang kita miliki jauh lebih banyak, juga karena di balik hal-hal yang tidak enak itu sejatinya tersimpan hikmah dan pelajaran yang luar biasa positif.

Coba simak puisi karya Balya al-Rasyid yang mencoba merenungi hikmah di balik segala sesuatu yang tidak enak melalui rasa syukur berikut ini:

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku sengsara, menderita
Engkau telah mengajariku cara untuk bersabar

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku gagal
Engkau telah mengajariku cara untuk terus berjuang

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku kalah
Engkau telah mengajariku cara untuk bertahan

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku jatuh tersuruk, terpuruk
Engkau telah mengajariku cara untuk bangkit

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatnya menolak ku
Engkau telah mengajariku cara untuk mencintai dengan tulus

Ya Tuhan, terima kasih telah membuatku tersesat
(Dengan demikian) Engkau telah menunjukkanku jalan yang benar

Tuhan, terimakasih untuk semua yang tidak enak ini
Semuanya



Wallahu a’lam.

Rabu, 10 November 2010

KENAPA AKU DIUJI ??

KENAPA AKU DIUJI ??

QURAN MENJAWAB : Qs. Al-Ankabut : 2-3

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi ?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU INGINKAN ??

QURAN MENJAWAB : Qs. Al-Baqarah : 216

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui"

KENAPA UJIAN SEBERAT INI ??

QURAN MENJAWAB : Qs. Al-Baqarah : 286

"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

KENAPA FRUSTASI ???

QURAN MENJAWAB : Qs. Al-Imran : 139

"Jaganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang2 yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang2 yg beriman"

BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA ???

QURAN MENJAWAB : Qs. Al-Baqarah : 45

"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk"

Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah semata

APA YANG AKU DAPAT ???

QURAN MENJAWAB : Qs. At-Taubah : 111

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang2 mu'min, diri, harta mereka dengan memberikan jannah utk mereka... "

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP ???

QURAN MENJAWAB : Qs. At-Taubah : 129

"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari-Nya. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal"

AKU TAK SANGUP !!!!

QURAN MENJAWAB : Qs. Yusuf : 12

"....dan jgnlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir"

Minggu, 07 November 2010

Pulang


Dua orang pegawai tampak masih sibuk pada pekerjaannya, meski malam sudah mengisyaratkan mereka untuk istirahat. Di gedung megah yang sehari-hari menjadi kantor tempat mereka berkerja itu sudah tidak ada lagi pegawai. Kecuali, petugas keamanan malam.

Salah seorang yang bertubuh kurus pun berujar, ”Ah, hari yang melelahkan. Saatnya pulang ke rumah.”

Seorang yang agak gemuk hanya menoleh sebentar, kemudian kembali dengan kesibukannya. Ia hanya membalas ucapan temannya yang mulai berkemas dengan senyum. “Aku lembur lagi!” ucapnya singkat.

“Apa kamu tidak kangen dengan isteri dan anak-anakmu?” tanya si kurus mulai beranjak menuju pintu.

”Entahlah, aku merasa lebih nyaman berada di sini,” jawab si gemuk sambil terus sibuk dengan pekerjaannya. ”Ruangan ini sudah seperti rumahku,” tambahnya begitu meyakinkan.

Si kurus menatap temannya begitu lekat. Sebelum langkah kakinya meninggalkan sang teman, ia tergelitik untuk mengucapkan sesuatu, ”Menurutku, kamu bukan tidak ingin pulang. Tapi, kamu belum paham apa arti pulang.”

**
Angan-angan sederhana yang kerap muncul di kepala siapa pun ketika ia begitu lama berada di luar rumah adalah pulang. Seorang pejabatkah, pegawaikah, pengusahakah, pelajar dan mahasiswakah; titik akhir dari akumulasi kelelahannya berinteraksi dengan dinamika hidup selalu tertuju pada pulang.

Kata pulang menjadi perwakilan dari seribu satu rasa yang tertuju pada kerinduan-kerinduan dengan sesuatu yang sudah menjadi ikatan kuat dalam diri seseorang. Sesuatu yang tidak mungkin untuk dipisahkan, karena dari situlah ia berasal dan di situ pula ia menemukan jati dirinya.

Dalam skala hidup yang lebih luas, pulang adalah kembalinya manusia pada asalnya yang tidak mungkin dielakkan. Apa dan bagaimana pun keadaannya, suka atau tidak pun rasa ingin pulangnya, jauh atau dekat pun perginya, dan ada atau tidaknya kerinduan terhadap arah pulang yang satu ini; setiap kita pasti akan ’pulang’.

Walaupun, tidak sedikit orang yang merasa lebih nyaman berada di dunia ini daripada berhasrat menuju ’pulang’. Persis seperti yang diungkapkan si kurus kepada temannya, ”Kita bukan tidak ingin ’pulang’. Tapi, kita mungkin belum memahami arti ’pulang’.”

Template by:

Free Blog Templates