Selasa, 01 Maret 2011

Heraklius, Sang Kaisar Romawi Yang Tertunduk Di Depan Islam faanzirtasdiqunnas



Islam, sejak dikumandangkan pertama kali oleh Rasulullah, pelan tapi pasti kian berkembang dan diakui.
Untuk memperluas dakwah Islamiyah, Rasulullah SAW mengirim surat ke beberapa raja Arab dan non-Arab.

Di antara raja yang mendapat seruan secara tulisan itu adalah Heraklius, kaisar Romawi. Untuk mengemban amanat ini, beliau mengutus Dhihya bin Khalifah Al-Kalabi.
Setelah melakukan perjalanan cukup panjang akhirnya Dhihya tiba di istana raja Romawi. Surat Rasulullah langsung dibaca oleh salah seorang staf Heraklius.
“Dari Muhammad utusan Allah, kepada Heraklius, Pembesar Romawi…”

Mendengar bunyi awal surat itu, keponakan pembesar Romawi langsung marah, lalu berseru, “Surat ini tidak boleh dibaca sekarang.!”

“Kenapa?” tanya Kaisar.

“Dia memulai dengan namanya dulu sebelum engkau. Kemudian dia memanggilmu dengan pembesar Romawi, bukan Maharaja Romawi.”

“Tidak!” sambut Kaisar, “Biar surat ini dibaca untuk diketahui isinya.”

Surat Nabi SAW itu terus dibacakan hingga selesai. Setelah semua pengiring Kaisar keluar dari majelisnya, Dhihya dipanggil untuk masuk. Bersamaan dengan itu dipanggillah seorang uskup yang mengetahui seluk beluk agama mereka. Kaisar lalu memberitahu uskup itu dan dibacakan sekali lagi surat itu kepadanya.

“Inilah yang selalu kita tunggu-tunggu, dan Nabi kita, Isa sendiri telah memberitahukan kita sejak lama!” jawab sang uskup.

“Apa pendapatmu yang harus aku perbuat?” tanya Kaisar kepada uskup.

“Kalau engkau tanya pendapatku, aku tentu akan mempercayainya dan akan mengikuti ajarannya,” jawab uskup dengan jujur.

“Tetapi aku jadi serba salah,” kata Kaisar,

“Jika aku ikut nasihatmu, akan hilanglah kerajaanku!”

Sementara Dhihya diperbolehkan meninggalkan tempat itu, raja Romawi terus bertukar pendapat dengan sang uskup. Kebetulan, waktu itu, Abu Sufyan bin Harb sedang berada di Romawi. Kala itu ia belum masuk islam. Ia dipanggil oleh Kaisar untuk dimintai keterangan tentang Muhammad SAW.

“Coba engkau beritahu kami tentang orang yang mengaku Nabi di negerimu itu!” tanya Kaisar.

“Dia seorang anak muda,” jawab Abu Sufyan.

“Bagaimana kedudukannya dalam pandangan masyarakatmu?”

“Tidak ada yang melebihi kedudukan dan keturunannya,” jawab Abu Sufyan jujur.

“Ini tentulah tanda-tanda kenabian,” Kaisar berbisik-bisik kepada orang-orang di sampingnya.

“Bagaimana bicaranya, apakah dia selalu berkata benar?”

“Betul,” jawab Abu Sufyan, “Dia memang tidak pernah berkata dusta.”
“Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!”

Kaisar terus berbisik-bisik kepada orang-orang yang mengiringnya itu. “Baiklah,” kata Kaisar lagi. “Adakah di antara pengikutnya yang meninggalkan agama nenek moyangmu, kembali ke agama mereka lagi?”

“Tidak,” jawab Abu Sufyan.

“Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!” kata Kaisar pula. “Apakah terjadi peperangan di antara kamu dengannya?”

“Ya,” jawab Abu Sufyan.


“Siapa yang selalu menang?”

“Kadang-kadang dia menang, kadang-kadang kami mengalahkannya,” jelas Abu Sufyan.
“Ini lagi satu tanda-tanda kenabian,” kata Kaisar Romawi itu.

Beberapa saat kemudian Dhihya Al-Kalbi dipanggil oleh Kaisar Romawi, seraya berkata, “Sampaikanlah berita kepada pembesarmu itu, bahwa aku tahu dia memang benar Nabi, tetapi apa daya, aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku tak mau ditumbangkan dari kerajaanku.”

Adapun sang uskup itu yang biasanya selalu datang ke gerejanya setiap hari Ahad untuk menyampaikan ajaran Nasrani, sejak pertemuan itu, terus berdiam di rumahnya. Lantaran kecewa karena sang uskup tidak datang ke gereja, orang-orang pun berdatangan ke rumahnya.

Kepada mereka, sang uskup mengatakan dirinya sedang sakit. Kejadian itu berlangsung berkali-kali, sehingga orang-orang mencurigainya. Mereka lalu mengirim utusan kepada sang uskup dan memberinya peringatan. Jika ia tak mau datang lagi ke gereja, mereka akan datang beramai-ramai ke rumahnya dan akan membunuhnya.

Menurut orang-orang itu, sejak kedatangan Dhihya, sikap uskup banyak berubah. Sang uskup segera memanggil Dhihya, dan menyampaikan sepucuk surat. “Ini suratku, ambillah dan serahkan kepada pembesarmu itu,” pesan uskup itu dengan hati yang tidak tenang. “Sampaikan salamku kepadanya, dan beritahukan bahwa aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah. Katakan juga, bahwa aku beriman kepadanya, mempercayainya, dan menjadi pengikutnya. Dan kaumku telah mengingkari semua kata-kata dan nasihatku. Ceritakan juga apa yang engkau saksikan ini,” pesan uskup. Sejak saat itu sang uskup tidak datang lagi ke gereja. Sampai akhirnya ia dibunuh.

Sementara itu, sebenarnya Heraklius sudah meyakini kebenaran ajaran Islam. Namun, seperti yang ia katakan, ia malu untuk meninggalkan agama Nasrani. Apalagi kedudukannya sebagai raja. Tidak mungkin tunduk begitu saja kepada ajaran Dhihya yang menurut mereka orang Badui. Ia segera menyuruh salah seorang utusan membawa suratnya kepada Rasulullah.

“Bawalah suratku ini kepada orang yang mengaku Nabi itu,” kata Heraklius. “Tetapi dengar baik-baik apa yang dikatakannya dan ingat tiga hal berikut ini. Pertama, apa komentarnya ketika membaca suratku. Kedua, apakah dia akan menyebut perkataan ‘malam’, atau tidak? Ketiga, usahakan sampai engkau dapat melihat di belakang tubuhnya. Adakah suatu tanda yang menarik perhatianmu? Ingat baik-baik tiga perkara ini. Beritahu aku apa yang engkau lihat!” pesan Heraklius dengan hati-hati. Utusan itu berangkat membawa surat Heraklius, hingga tiba di Tabuk. Di situ dia bertanya kepada para sahabat Rasulullah, “Di mana ketua kamu, yang dikatakan Nabi itu?” tanyanya.

“Di sana. Yang sedang duduk dikelilingi orang,” jawab salah seorang dari mereka.

Saat itu Nabi SAW sedang duduk di tepian telaga kecil bersama beberapa sahabatnya. Utusan itu pun maju ke dapan, menyerahkan surat Heraklius kepada Rasulullah.

“Dari mana engkau?” tanya Rasulullah.

“Aku orang Tarukh,” jawab utusan itu.

“Maukah engkau kembali kepada agama yang suci dari kepercayaan nenek moyang kamu Ibrahim?” tanya Nabi SAW.

“Aku ini utusan sebuah negara dan menganut agama negara itu. Tidaklah wajar aku mengubah agamaku sehingga aku kembali kepada mereka lebih dulu,” jawabnya jujur.

“Hai saudara dari Tarukh,” tiba-tiba Nabi SAW berseru, “Aku telah menulis surat kepada Kisra (pembesar Persia), lalu suratku dikoyak-koyaknya, kelak Allah akan mengoyak-ngoyakkannya dan kerajaannya. Dan aku menulis surat kepada pembesarmu, dia masih ragu.”

Mendengar ucapan tersebut sang utusan berkata dalam hati, “Nah, salah satu dari tiga yang dipesan oleh Heraklius supaya aku ingat baik-baik.” Dia pun mengeluarkan sarung isi panahnya dan mencatat apa yang disampaikan Nabi.

Rasulullah menyerahkan surat Heraklius itu kepada seorang yang duduk di kirinya, yaitu Muawiyah untuk membacanya. Dalam suratnya Heraklius menyebut-nyebut surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

“Di manakah letaknya neraka, wahai Rasulullah?” salah seorang sahabat tiba-tiba bertanya.

“Subhanallah! Ajaib sekali pertanyaan ini,” ujar Nabi SAW, “Jadi di manakah malam jika datang siang?” tanya beliau.

Utusan itu pun segera mencatat apa yang dikatakan Nabi. Beliau menyebutkan kata malam yang mesti disampaikan kepada Heraklius. Setelah membaca surat Heraklius Rasulullah bersabda, “Engkau patut diberi hadiah karena engkau utusan kepada kami. Seandainya kami mempunyai sesuatu yang berharga, tentu akan kami berikan kepadamu. Akan tetapi kami adalah musafir yang mempunyai perbekalan terbatas.”

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Rasulullah, “Aku yang akan memberinya hadiah jika engkau perkenankan, ya Rasulullah!” Sahabat yang tak lain Utsman adanya segera mengeluarkan seperangkat pakaian kepada utusan itu.

“Siapakah yang bersedia menerima orang ini sebagai tamunya?” tanya Rasulullah lagi.

“Saya!” jawab seorang pemuda Anshar lalu bangkit mengajak utusan itu pergi. Ketika ia akan meninggalkan tempat itu, Rasulullah memanggilnya, “Hai Saudara dari Tarukh!”
Utusan itu segera mendekat, berdiri di sisi Rasulullah. Beliau lalu menarik pakaiannya sehingga terbuka bagian belakangnya, sambil berkata, “Tunaikanlah tugasmu dengan baik, sebagaimana yang disuruh oleh tuanmu!” Saat itulah utusan itu bisa melihat dengan jelas tanda di belakang badan Rasulullah, yaitu semacam cap (khatamun-nubuwah)


Ahmadiyah Murtad & Dimusuhi Karena Ajarkan Ada Nabi Lagi Sesudah Muhammad


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang hak. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada penutup para nabi dan rasul yang tiada nabi sesudahnya, Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.

Bentrokan berdarah antara Jemaat Ahmadiyah dengan warga muslim kembali terjadi di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, Ahad (6/2/11) kemarin. Dan menurut pemberitaan voa-islam.com, terdapat beberapa anggota Jemaat Ahmadiyah yang tewas. Salah satu korbannya bernama Mulyadi (Bukan Mulyadi Pemred voa-islam.com).

Bentrokan tersebut dipicu oleh sikap Ahmadiyah yang tidak mau mematuhi keputusan SKB 3 Menteri tahun 2008 yang memperingatkan dan memerintahkan kepada penganut, anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW, (Point kedua dalam SKB tersebut).

Selain masih tetap menyebarkan ajaran sesatnya tersebut, Ahmadiyah juga bersikap arogan dan berulah memancing kerusuhan dengan menantang perang dan membacok tangan warga hingga nyaris putus. Akibatnya, wargapun marah sehingga terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa.

Kenapa Umat Islam Marah Kepada Ahmadiyah?

Ahmadiyah telah menyimpang dari ajaran pokok Islam. Yang barangsiapa menyimpang darinya maka dia keluar dari Islam, yaitu meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah penutup para Nabi dan Rasul. Hal ini dijelaskan dengangambalang oleh nash yang sharih dan shahih sehingga tidak membutuhkan penakwilan lagi. Namun, jemaat Ahmadiyah meyakini masih ada Nabi sesudah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang bernama Mirza Ghulam Ahmad dari India.

Dan selanjutnya silahkan simak tulisan yang kami nukil dan terjemahkan dari kitab yang membahas pokok-poko ajaran Islam yang wajib diketahui setiap muslim, yaitu Maa Laa Yasa’ al-Muslima Jahluhu, tulisan DR. Abdullah Al-Mushlih dan DR. Shalah Shawi.

___________

Kita bersaksi bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah penutup para Nabi. Maka siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam. Karena berarti dia telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku seperti seorang laki-laki yang membangun rumah, ia tata dan percantik rumah itu. Hanya saja ada satu tempat sebesar batu bata di sebelah pojok. Lalu orang-orang berkeliling di sekitarnya dan terpesona dengan keindahannya. Mereka berkata, ‘Alangkah baiknya kalau batu bata ini diletakkan di tempatkan itu.’ Beliau bersabda, ‘Aku adalah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi’.” (Mutaafaq ‘alaih) dan dalam riwayat Muslim, “Maka aku adalah tempat batu bata tersebut, aku datang dan menjaid penutup para Nabi.

Siapa saja yang berkata ada Nabi sesudahnya, dia murtad (keluar) dari Islam.

Karena berarti dia telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah shahih yang sangat jelas menerangkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup para nabi.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadits lain,

أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ

Aku adalah Muhammad, dan aku adalah Ahmad. Aku juga الْمَاحِي “al-Mahi” yang kekufuran terhapus denganku. Aku adalahالْحَاشِر (pengumpul) yang seluruh manusia dikumpulkan sesudahku. Aku juga juga الْعَاقِبُ (yang terakhir) yang tidak ada nabi sesudahnya.” Dan dalam riwayat Muslim lainnya,

وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ

Dan aku الْعَاقِبُ (yang terakhir) yang tidak ada seorang nabi-pun sesudahnya.

فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ

Aku diistimewakan dari nabi yang lain dengan enam perkara: Aku diberi jawami’ al-kalim (kalimat ringkas namun padat maknanya), aku dimenangkan dalam peperangan dengan masuknya rasa takut pada musuhku, Dihalalkan ghanimah bagiku, dijadikan bumi buatku suci dan tempat sujud, aku diutus untuk seluruh umat manusia, dan para nabi ditutup oleh aku.” (HR. Muslim)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar menuju Tabuk dan menunjuk Ali menggantikannya. Lalu Ali berkata, “Apakah Anda meninggalkanku bersama anak-anak dan kaum wanita?!” Beliau bersabda,

أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي

Tidakkah engkau ridha menempati poisiku sebagaimana kedudukan Harun dari Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan dalam riwayat Muslim,

غَيْرَ أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

Hanya saja (bedanya) tidak ada kenabian sesudahku.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

Bani Israil dahulu dipimpin para Nabi. Setiap meninggal seorang nabi, maka datang nabi lain menggantikannya. Dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, yang akan ada adalah para khalifah. Jumlah mereka banyak. Para sahabat bertanya, ‘Apa yang anda perintahkan kepada kami.’ Beliau menjawab, ‘Penuhilah bai’at orang paling pertama, kemudian baru orang setelah itu. Berikan hak mereka, maka sungguh Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka dari kepemimpinan mereka’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Orang-orang pertama dan terakhir akan memberikan kesaksian itu kepada beliau. Yaitu di hari saat Allah mengumpulkan mereka di satu tempat pada hari kiamat. Seorang penyeru akan menyeru mereka dan pandangan menembus mereka. Kemudian mereka tergesa-gesa mendatangi para anbiya’ untuk meminta syafa’at. Ketika sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mereka bersaksi bahwa beliau adalah rasul terakhir. Mereka berkata kepadanya,

يَا مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ وَخَاتِمُ الْأَنْبِيَاءِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ

Wahai Muhammad, Anda adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan akan datang. Berilah kami syafaat (pertolongan) kepada Rabbmu, tidakkah engkau lihat kondisi kami.” (HR. Al-Bukhari)

Berdasarkan semua ini, maka apa yang diklaim oleh sekte Qadiyaniyah (Ahmadiyah) di semenanjung Hindia tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad, telah mengeluarkan mereka dari Islam.

Apa yang diklaim oleh sekte Qadiyaniyah (Ahmadiyah) di semenanjung Hindia tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad, telah mengeluarkan mereka dari Islam.

Universitas Al-Azhar di Mesir, Rabithah ‘Alam Islami di Makkah Mukarramah, seminar OKI yang diselenggaran di Rabithah, Lajnah Daimah (Panitia Tetap) untuk kajian Ilmiah, Fatwa, dan dakwah di Riyadh dan lembaga-lembaga keIslaman di seluruh dunia lainnya telah mengeluarkan keputusan bahwa Qadiyaniyah adalah kelompok yang sudah murtad dari Islam. Parlemen Pakistan tahun 1976 juga telah mengeluarkan keputusna yang sama.

Adab Terhadap Allah SWT


Allah SWT, telah menciptakan kita sebagai makhluk yang paling sempurna, melebihkan kita atas kebanyakan makhluk-Nya, memberi kita rizki dari yang baik-baik, dan tidak pernah putus mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, selalu menebarkan sifat Rahman dan Rahim-Nya kepada seluruh makhluk.

Sebagai salah satu ciptaan-Nya, merupakan hal yang semestinya bagi kita melaksanakan kewajiban-kewajiban, hak-hak, dan adab-adab kepada Allah SWT. Maka, diantara kewajiban-kewajiban dan hak-hak itu adalah sebagai berikut: Pertama, beribadah dan tidak menyekutukan-Nya."Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS Adz-Dzariyat:56).

Firman Allah tersebut menggariskan misi hidup manusia dengan tegas, yakni ibadah. Substansinya, seluruh gerak langkah, desah nafas, dan aliran darah manusia tidak boleh keluar dari kerangka pengabdian (ibadah) kepada Allah SWT.

Dengan demikian, ibadah seharusnya menjadi aktivitas keseharian kita sebagai makhluk-Nya selama dua puluh empat jam. Lalai terhadap hal ini berarti penyia-nyiaan kita akan salah satu hak-hak Allah SWT dari makhluk-Nya dan penyia-nyiaan terhadap kesempatan hidup yang akan menjadi penyesalan paling dalam di hari akhir
(QS Az-Zumar:56).

Beribadah kepada Allah SWT, selain disertai dengan niat ikhlas, juga menjauhkan diri dari menyekutukan-Nya. "Dari Ibnu Mas'ud RA, berkata: aku bertanya kepada Rasulullah SAW: "Dosa apakah yang paling besar? Rasul menjawab: Engkau membuat sekutu bagi Allah padahal Dia-lah yang menjadikanmu." (HR Bukhari, 4:303).

Setiap Rasul di utus pada tiap-tiap ummat untuk menyerukan,"Sembahlah Allah dan jauhi Thagut". Hadits di atas menunjukan salah satu tugas Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya, bahwa salah satu adab kita kepada Allah SWT adalah beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Termasuk dosa besar apabila kita menduakan Allah SWT dengan harta, jabatan, kedudukan, maupun dengan keyakinan-keyakinan lainnya yang menyimpang.

Dalam salah satu haditsnya yang lain, Rasulullah SAW bersabda: "Jauhilah oleh kalian tujuh perbuatan maksiat. Ditanyakan: Wahai Rasulullah! Apa tujuh perbuatan itu? Rasul menjawab: Menyekutukan Allah dan sihir.....". (HR Muslim, 1:51).

Kedua, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya adalah merupakan kewajiban kita dan hak Allah SWT atas hamba-Nya. "Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah." (QS Al-Baqarah:172).

Betapa besar karunia yang Allah berikan kepada kita, udara segar yang kita hirup setiap hari, cahaya matahari yang selalu menghangatkan tubuh kita, berbagai jenis makananan dan tumbuh-tumbuhan, air jernih sebagai sumber kehidupan, hidup sehat, harta dan kedudukan yang kita miliki, semuanya adalah nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita sebagai makhluk-Nya. Tidak akan pernah terhitung berapa banyak nikmat yang Allah berikan, sekalipun lautan dijadikan tinta, pohon-pohon dijadikan pensilnya. Tapi, mengapa kita tidak pernah bersyukur atas segala pemberian-Nya?. "....bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari (nikmat-Ku)." (QS Al-Baqarah:152).

Bentuk pengingkaran kita atas nikmat Allah SWT adalah bersikap kufur dan seolah-olah segala yang kita miliki mutlak hasil jerih payah kita dengan mengenyampingkan eksistensi Allah SWT sebagai pemberi rizki. Bukankah ketika kita bersyukur, Allah SWT akan menambah nikmat-Nya dan ketika kita kufur, Allah SWT telah menyediakan siksa yang sangat pedih?.

Oleh sebab itu, sebagai salah satu wujud adab kita kepada Allah SWT, adalah bersyukur dan mensyukuri segala pemberian nikmat dan karunia-Nya dan buang jauh-jauh segala sifat Qorunisme yang melekat pada diri kita.

Ketiga, bertaubat, istighfar dan sadar banyak berbuat dosa adalah adab kita kepada Allah SWT. "Katakanlah; Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengampuni lagi Maha Penyayang".(QS. Az-Zumar:53).

Dalam mengarungi kehidupan, ketika derajat keimanan "yaziid" (bertambah) manusia akan ingat dan ta'at kepada Allah SWT. Tapi, ketika derajat keimanan "yanqus" (berkurang) adakalanya manusia terjerambab dalam perbuatan dosa dan maksiat. Ketika dalam kondisi seperti itu, bersegeralah bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. "Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (hari kiamat). Maka ia (Abu Hurairah) menceritakan hadits dan diantaranya: Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi sampai mencucurkan air mata". (HR. Bukhari-Muslim).

Seberat dan sebesar apapun dosa kita, Allah SWT akan mencurahkan kasih sayang-Nya dengan mengampuni hamba-hamba-Nya yang jatuh dalam kubangan dosa. "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian) niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai waktu yang ditentukan........" (QS Hud:3).

Saat ini, kita masih diberi kesempatan untuk menikmati hidup, janganlah sia-siakan hidup ini, janganlah memandang remeh akan perbuatan dosa. Sebab dosa, adalah penyebab kita akan mendapatkan murka dan siksa Allah SWT. "Bagi orang mukmin melihat dosa-dosanya itu seolah-olah ia duduk di bawah gunung dimana ia merasa takut gunung itu akan menimpanya, sedangkan bagi orang fajir, melihat dosa-dosanya itu bagaikan lalat yang lewat di atas hidungnya".(HR Bukhari 4:99).

Selagi nafas masih ada, selagi malaikat Izrail belum mencabut nyawa, hiasi hari-hari kita dengan senantiasa beribadah dan beristighfar kepada Allah SWT, atas segala perbuatan dosa kita. "Demi Allah! sesungguhnya aku (Muhammad) beristighfar (minta ampun) kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR Bukhari).

Itulah diantaranya kewajiban, hak-hak, dan adab kita sebagai makhluk kepada Allah SWT. Semoga dalam keseharian kita selalu beribadah kepada-Nya tanpa disertai kemusyrikan, mensyukuri segala nikmat-Nya, dan senantiasa bertaubat dan beristighfar (memohon ampun) atas dosa-dosa kita. Aamiin.

Senin, 28 Februari 2011

Danau


Tiga ekor beruang kecil tampak berkumpul di depan ibu mereka. Beruang kakak beradik ini begitu asyik mendengarkan kata-kata wasiat yang disampaikan induk beruang yang mulai tampak tua.

”Anak-anakku, kini saatnya untuk kalian belajar tentang hidup. Tapi, ibu tidak bisa lagi menemani kalian. Ibu yakin, kalian sudah bisa membedakan, mana yang baik dan yang buruk,” jelas induk beruang di hadapan ketiga anaknya.

”Kira-kira, kemana kami bisa belajar tentang hidup, Bu?” tanya salah satu anak beruang.

”Kalian bisa pergi ke lembah hijau yang bersebelahan dengan hutan ini. Tapi...,” suara induk beruang terhenti.

”Tapi apa, Bu?” sergah si sulung kemudian.

”Kalian harus hati-hati, di sana ada danau yang punya pengaruh buruk. Jangan sekali-kali merasa nyaman di sana,” ungkap sang induk begitu serius.

Selepas perpisahan, ketiganya pun berangkat. Dari kejauhan, sang induk hanya mampu melambaikan tangan demi memunculkan kemandirian tiga puteranya.

Berbagai hal di perjalanan mereka alami. Mulai dari bertemu penghuni-penghuni hutan yang baik, hingga yang sangat sangar. Inilah mungkin yang dimaksud sang induk sebagai belajar tentang hidup.

Perjalanan mereka pun terhenti ketika sebuah danau membentang di hadapan mereka. Airnya begitu jernih, ikan-ikan segar melompat-lompat dari balik permukaan air danau. Tapi anehnya, hampir tak satu pun hewan darat yang berada di tepian danau.

Dan sontak saja, ketiga beruang cilik ini pun merasa haus. Genangan air danau yang tampak begitu segar, kian menghentak rasa dahaga mereka. Ketiganya pun menghambur ke arah tepian danau dan langsung mencicipi air yang tampak begitu segar. Kian dicicipi, rasa dahaga kian besar. Dan, dahaga pun berubah menjadi lapar yang luar biasa.

Tiba-tiba salah satu dari mereka seperti menyadari sesuatu. ”Hei tunggu. Bukankah ini danau buruk yang dimaksud ibu?” teriak si bungsu kepada dua kakaknya yang tampak sudah berada di tengah danau sambil memangsa ikan-ikan yang ada.

Si bungsu pun beranjak menjauh dari air danau. Teriakannya berkali-kali seperti tak terdengar kedua kakaknya. Tapi, si bungsu tak mau menyerah. Hingga, di luar dugaannya, kedua kakaknya tampak beringas. Mereka melempari si bungsu dengan sampah ikan yang sudah mereka makan.

Si bungsu pun tertegun ketika dari kejauhan, ia menangkap warna merah menyala dari sorot mata kakak-kakaknya. Sontak, ia pun berlari secepat yang ia bisa.
**

Allah yang Maha Sayang, melebihi sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya, kerap mengingatkan kita melalui ayat-ayat Alquran tentang ’danau’ indah yang punya pengaruh sangat buruk untuk manusia.

’Danau’ indah itu bisa menenggelamkan kesadaran bahwa hidup ini hanya perhentian sejenak. ’Danau’ indah itu juga mampu membolak-balikkan mata batin kita hingga yang baik menjadi buruk, yang buruk menjadi baik, dan yang mestinya disayang menjadi harus dibuang.

’Danau’ yang tampak indah itu adalah perhiasan dunia yang mungkin selalu membuat kita nyaman.

Sabtu, 26 Februari 2011

Keutamaan Istighfar


Muhammad Shalih Al-Khuzaim dalam bukunya Shifat Shalat Qiyamullail, menjelaskan bahwa istighfar merupakan penutup amal saleh, penutup shalat, haji, puasa, dan juga penutup majelis. Istighfar berfungsi untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang diperbuat selama melaksanakan ibadah tersebut. Selain itu, istighfar juga sebagai penyebab utama mendapatkan ampunan Allah SWT.

Karena itu, setiap Muslim hendaknya memperbanyak istighfar dalam berbagai kesempatan. Minimal mengucapkan: Astaghfirullah, Rabbighfirli, Allahummaghfirli, dan yang lainnya. Melalui istighfar tersebut seseorang akan memperoleh banyak keutamaan.

Pertama, dihapus kejelekannya dan diangkat derajatnya. "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa' [4]: 110).

Kedua, dilapangkan rezeki, anak, harta, dan penyebab turunnya hujan. "Maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?" (QS Nuh [71]: 10-13).

Ketiga, ditambah kekuatannya. "Dan (dia berkata): 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (QS Hud [11]: 52).

Keempat, dilenyapkan dosanya. Setiap dosa meninggalkan noda hitam pada hati. Noda hitam bisa lenyap dengan melakukan istighfar. "Sesungguhnya bila seorang Mukmin melakukan satu dosa, pada hatinya timbul satu noda hitam. Bila dia bertobat, berhenti dari maksiat, dan beristighfar, niscaya mengilap hatinya." (HR Ahmad).

Kelima, dimudahkan segala urusannya. "Barangsiapa membiasakan diri untuk beristighfar, Allah akan memberikan jalan keluar baginya dari setiap kesulitan, akan memberikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

Untuk itu, ketahuilah, dalam sebuah atsar disebutkan bahwa, "Sesungguhnya Iblis pernah berkata: 'Aku membinasakan manusia dengan dosa, dan mereka membinasakanku dengan La Ilaha Illallah dan istighfar'." Wallahu a'lam

Selasa, 22 Februari 2011

Perkara Yang Sulit


Menjadi muslim memang tidak hanya sekadar pengakuan, karenanya sebagai muslim setiap kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikannya. Ketika kita akan membuktikan keislaman kita dalam sikap dan tingkah laku kita sehari-hari, maka akan kita hadapi banyak kendala atau kesulitan-kesulitan, baik dari dalam diri kita sendiri maupun dari pihak lain. Namun kesulitan dalam suatu perkara bukan berarti perkara itu tidak bisa kita laksanakan, diperlukan kesungguhan yang kuat dari diri kita untuk bisa melaksanakannya. Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang dikutip oleh Imam Nawawi Al Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad mengemukakan tentang amal yang sulit untuk dilaksanakan:

إِنَّ أَصْعَبَ اْلأَعْمَالِ أَرْبَعُ خِصَالٍ: اَلْعَفْوُ عِنْدَ الْغَضَبِ وَالْجُوْدُ فِى الْعُسْرَةِ وَالْعِفَّةُ فِى الْخُلْوَةِ وَقَوْلُ الْحَقِّ لِمَنْ يَخَافُهُ أَوْ يَرْجُوْهُ

Amalan yang paling sulit ada empat, yaitu: memberi maaf ketika marah, bermurah hati ketika sulit, iffah (memelihara diri dari yang haram) ketika sendirian dan mengatakan sesuatu yang benar, baik kepada orang yang disegani maupun orang yang mengharapkannya.

Dari ungkapan Khalifah Ali ra di atas, ada empat perkara yang meskipun sulit kita tetap harus berusaha untuk bisa melaksanakannya dalam kehidupan ini.

1. Memberi Maaf Saat Marah.


Ketika seseorang melakukan kesalahan kepada kita yang membuat kita mengalami kerugian, maka muncullah kekesalan atau kemarahan kita kepada orang itu, bahkan tidak sedikit orang yang melampiaskan kemarahannya dengan sikap, ucapan dan tindakan yang lebih buruk dari kesalahan yang dilakukan orang itu. Karena itu, memaafkan merupakan sesuatu yang jauh lebih baik, apalagi pada saat kita begitu marah. Dalam hidup ini banyak orang yang bersikap dan berprilaku yang tidak menyenangkan, karenanya hal ini menuntut kelapangan dada sehingga memberi maaf dalam bentuk ucapan dan bukan sekadar memberi maaf di dalam hati merupakan hal yang amat terpuji sehingga hal itu menjadi lebih baik daripada sedekah yang disertai dengan ucapan yang tidak menyenangkan bagi penerimanya, Allah swt berfirman:

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima), Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun" (QS Al Baqarah [2]:263).

Oleh karena itu, orang yang suka memberi maaf akan mencapai kedudukan yang amat mulia dalam pandangan Allah swt dan Rasul-Nya, hal ini dinyatakan dalam hadits Rasulullah saw:

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

"Allah tidak menambahkan pada hamba yang memaafkan melainkan kemuliaan" (HR. Muslim).

2. Berderma Saat Miskin.

Keadaan miskin kadangkala membuat seseorang merasa pantas untuk tidak mau berderma, bahkan ia juga merasa pantas untuk mengharapkan dan meminta orang lain berderma pada dirinya. Ternyata di dalam Islam berderma itu tidak hanya pada saat seseorang memiliki kelebihan harta, tapi berderma juga pada saat ia sedang mengalami kesulitan sehingga hal ini bisa menjadi penangkal dari kemungkinan masuk neraka. Saat miskin seseorang mungkin hanya bisa berderma dalam jumlah sedikit dan hal itu wajar saja karena Allah swt tidak menilai dari sisi banyak atau sedikit, tapi yang dinilai adalah apakah berderma sudah dilakukan sesuai dengan kemampuan atau belum, Rasulullah saw bersabda:

إِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

"Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma"(HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, berderma apalagi pada saat miskin atau sempit menjadi salah satu kunci untuk bisa masuk ke dalam surga karena Allah swt amat mencintai orang yang berbuat baik seperti itu sebagaimana firman-Nya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa,

"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan" (QS Ali Imran [3]:133-134).

3. Menjaga Diri Dari Yang Haram.


Halal dan haram merupakan ketentuan Allah swt yang harus kita taati dalam arti yang haram kita tinggalkan dan yang halal kita laksanakan. Allah swt menciptakan jin dan manusia untuk mengabdi atau berbakti kepada-Nya. Bila ketentuan Allah sudah kita taati, maka kita termasuk orang yang berbakti dan meninggalkan yang haram merupakan salah satu bentuk kebaktian kepada Allah swt, meskipun secara duniawi hal itu menyenangkan atau menguntungkan dan kesempatan melakukan hal itu sangat besa, kita tetap tidak akan melakukannya.

Ada banyak contoh tentang orang yang takut melakukan sesuatu yang haram, meskipun peluang untuk itu sangat besar, misalnya saja seorang anak gembala yang tidak mau menjual kambing gembalaannya kepada khalifah Umar bin Khattab karena dia merasa tidak berhak menjualnya. Begitu juga dengan Nabi Yusuf as yang tidak mau memenuhi ajakan seorang wanita yang cantik untuk berzina dengannya, dan berbagai contoh lain yang pernah ada dalam catatan sejarah.

4. Berkata Yang Benar.


Bagi seorang mukmin yang ingin memiliki kepribadian yang terpuji, ia akan selalu berusaha berbicara dalam kerangka kebaikan dan kebenaran. Karenanya, hal ini menjadi ukuran keimanan seseorang, dalam satu hadits Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam"(HR. Bukhari dan Muslim).

Namun harus kita sadari bahwa berbicara yang benar merupakan sesuatu yang sulit meskipun hal itu tetap bisa dilakukan. Ketika kita takut kepada seseorang kita cenderung berkata seperti yang dikehendakinya, begitu juga dengan orang yang berharap kita mengatakan sesuatu yang diinginkannya, maka kita cenderung berkata sesuai dengan apa maunya. Imam Ahmad Bin Hambal telah memberi contoh kepada kita bagaimana beliau berkata yang benar kepada penguasa yang zalim meskipun resikonya tersiksa dalam penjara, begitu juga dengan generasi sebelumnya, yakni Yasir, Sumayyah, Bilal dan sebagainya pada masa Rasulullah saw meskipun secara duniawi mereka mengalami keadaan yang sangat sulit.

Syaitan merupakan musuh utama orang yang beriman, karenanya setiap muslim harus waspada 24 jam setiap harinya dalam menghadapi godaan-godaan syaitan yang selalu menginginkan manusia melakukan kemaksiatan atau kedurhakaan kepada Allah swt. Karena sumber utama kemaksiatan adalah ucapan lisan, maka orang yang bisa mengendalikan lisannya termasuk orang yang dapat mengalahkan godaan-godaan syaitan, Rasulullah saw bersabda:

إِخْزَنْ لِسَانَكَ إِلاَّ مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّكَ بِذَالِكَ تَغْلِبُ الشَّيْطَانَ

"Simpanlah lidahmu kecuali untuk kebaikan, karena sesungguhnya dengan demikian kamu dapat mengalahkan syaitan" (HR. Thabrani dan Ibnu Hibban).

Dalam kehidupan ini, nilai pribadi dan prestasi seseorang seringkali diukur dari tingkat kesulitan yang dihadapi. Karena itu, bila perkara-perkara mulia yang amat sulit dalam hidup ini bisa dilaksanakan, maka kita akan menjadi manusia-manusia yang luar biasa.

Template by:

Free Blog Templates